Thursday, January 17, 2013

(Hampir) Mati Muda di Selat Sunda


Malam itu saat semua sadar bahwa tak ada lagi keberadaan terang, maka kami mencoba menyalakannya dengan jentik-jentik dan sedikit letupan kecil di ujung bibir. Menyanyikan apa yang tak kami rasakan, menghadirkan apa yang tak kami takuti... Kematian.

Dan disaat dek kapal itu semrawut bercatut dengan lidah-lidah nyinyir gelombang, dengan kedamaian dan gelora tak ingin mati muda kami siapkan senjata, kami pasang kendali diri. Hanya satu, rompi oranye itu!
Napas kami tersentaklah, cemas kami teriaklah. Maka, semesta pun tak berani lihat kami melaju. Diam kami di tengah-tengah... di tengah-tengah.

Malam itu disaat semua berbagi damai indahnya hari pertama Muharram melantunkan 3 putaran Surat Yasin, kami mencari terang di ujung barat Jawa. Kami coba singkap dengan lagu-lagu cantik masa kini hingga suara takbir yang memekikkan langit.

Tuhan, ketika itu kami berbagi langit, kami berbagi sengit.
Tuhan, ketika itu kami berpegangan, saling teriakan.
Tuhan, ketika itu kami tak yakin melihat pagi, hanya tangis mereka, ibu kami.
Terima kasih Tuhan, kami tak jadi mati muda, di Selat Sunda.


Untuk sahabat-sahabatku yang ketika itu berbagi langit, berbagi sengit, berkumpul berhimpit.

No comments:

Post a Comment

Arzia Tivany Wargadiredja