Thursday, May 10, 2012

Moammar Emka Undercover

Ditemui di sela-sela kegiatan promosi buku terbarunya Dear You,  di salah satu café yang terletak di sebuah pusat perbelanjaan elit di wilayah Senayan, Jakarta, Selasa 6 Desember 2011. Sang penulis, Moammar Emka menjelaskan banyak hal dibalik pembuatan buku-bukunya terutama buku yang paling fenomenal, Jakarta Undercover, “Sambil koreksi ini, buku baru, untuk cetakan buku selanjutnya ya”, ungkapnya santai.

Moammar Emka, saat diwawancarai di Shasbu Café, Plaza Senayan, Jakarta. Selasa (6/12)
Ia menjelaskan mengenai ketertarikannya di dunia menulis sejak awal, ia mengaku dunia jurnalistiklah yang membesarkan namanya. Tak pernah terpikir sebelumnya akan menjadi wartawan “spesialis” dunia entertainment dan lifestyle. Dengan gaya bicara yang santai dan blak-blakan Ia mengutarakan keterlibatannya dalam setiap proses investigasi, mulai dari liputan sashimi girl, striptease, spa dan salon dengan pelayanan plus plus, hingga puncaknya pesta bugil bersama. 
“Basic tulisan saya juga kan nggak ada entertainment, saya nggak tahu lifestyle, orang anak IAIN lifestyle-nya gimana sih dulu. Orang kita juga nggak punya duit, gaji juga cuma berapa kan, nggak punya mobil, kemana-mana naik angkot, sehari-hari untuk nambah uang makan juga ngamen,” ucap alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini. Kecintaannya terhadap dunia jurnalistiklah yang membuatnya menjalin relasi di dunia hiburan dari nol, hijrah dari café ke café untuk mendapatkan bahan berita hingga kini menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan banyak selebritas ibukota.
Tak pernah disangka sebelumnya bahwa sang penulis buku non-fiksi bertema kehidupan prostitusi papan atas Jakarta ini adalah seorang ‘anak pesantren’ yang dibesarkan di keluarga da’i moderat. Tak pernah Ia sangka, buku pertamanya Jakarta Undercover yang membuatnya sempat mendapat teror dan ancaman, melejit hingga dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris dan dijual pula ke beberapa Negara.
Citra sebagai penulis novel bertema seks dan kehidupan prostitusi papan atas Jakarta pun sudah terlanjur melekat, Ia sendiri tak ambil pusing dengan berbagai stereotype yang orang berikan. Saat ini, konsentrasinya berpusat pada pembuktian diri bahwa bukan hanya buku dengan tema esek-esek saja yang Ia tulis. Pengetahuannya tentang dunia prostitusi papan atas ibukota pun akan kembali dibuktikan dengan buku terbarunya yang hampir serupa dengan Jakarta Undercover yang akan diluncurkan tahun depan.

Sejak kapan kegiatan menulis Anda dimulai?
Mulai nulis dari zaman Sekolah Menengah Atas (SMA), tapi itu bukan artikel tapi lebih ke nulis cerpen, ya… cerita-cerita cinta picisan lah.
Buku pertama Anda langsung meledak. Bagaimana tanggapannya?
Wah nggak nyangka juga. Intinya waktu itu bikin bukunya sendiri karena kerjaan gue wartawan, terus gue punya banyak bahan dari dunia malam, banyak banget, terus sayang aja kalau nggak dibukukan. Yasudahlah, waktu itu juga prosesnya lama, enam tahun akhirnya terkumpul bahannya. Enam tahun itu bahan-bahan yang bagus dikumpulkan, akhirnya jadilah Jakarta Undercover 1.
Bahan Jakarta Undercover sendiri sebenarnya untuk majalah kan ya?
Dulu sih sebagian dimuat di majalah, sebagian lagi memang belum pernah dimuat.
Lebih enak jadi wartawan atau jadi penulis?
Sama… sama enaknya sebenarnya, cuma kalau jurnalis kan dibawah perusahaan, jadi dia punya aturan main sendiri, mulai dari editing, dan lain-lain, pasti ada koridor-koridornya. Sebenarnya nggak jauh beda sama penulis buku, enaknya jadi penulis buku adalah bebas saja. Itu kan ekspresinya, ekspresi kita, kita menuangkannya seperti apa, kita lebih enak, lebih leluasa, lebih bebas, free saja. Kalau jadi jurnalis juga kan terkait dengan space, jatah halamannya berapa. Tapi, kalau buat saya, dua-duanya sama enak, karena sampai sekarang saya juga masih tetap menulis untuk majalah, artinya masih liputan kalau lagi pengen. Kalau nyari bahan yang bagus kan harus liputan lagi.
Dulu katanya anak pesantren ya?
Ooo iya itu…
Kok tertarik sih meliput dunia hiburan, dan menulis Jakarta Undercover, kan temanya itu berarti dekat dengan “dunia hiburan”?
Ya nggak juga sih, kalau menurut saya kan latar belakang pendidikan orang itu nggak terlalu connected lah, misalnya dia harus selalu menjadi benang merah bahwa seseorang itu nantinya akan bekerja sebagai apa. Kalau untuk saya, dimanapun orang bersekolah, kuliah, latar pendidikannya mau umum kek, agama kek, ya in the end itu tidak akan menentukan orang mau kemana. Pada akhirnya, yang menentukan kemudian adalah, bagaimana orang tersebut terjun ke lapangan, dan yang membesarkan saya adalah dunia wartawan, karena saya kerja pontang-panting itu. Saya kuliah pun kan sudah jadi wartawan, dan itu pun nggak pernah kepikiran someday saya akan jadi wartawan, nggak kepikiran, itu kan mengalir saja gitu.
Sebenarnya, dulu inginnya menjadi apa?
Kan dulu banyak ya, kalau ditanya mau jadi apa, mau jadi da’i lah, apa lah. Pasti setiap orang itu punya titik balik, paling nggak tiga kali titik balik. Zaman SMA, ngebet banget misalnya pengen jadi da’i kaya bokap. Dalam perjalanannya kandas, karena sudah bertemu dengan dunia baru, mulai kuliah, mulai ketemu orang-orang baru, daftar bacaan juga baru, lingkungan baru, semua baru, pengalamannya juga pasti baru. Ternyata, setiap orang pasti mengalami pencerahan, ternyata ada dunia lain yang lebih menarik untuk ditekuni, dan pilihan saya waktu itu memang menjadi wartawan. Walaupun saya belajar Sastra Arab, tetap buat saya yang menarik itu dunia wartawan. Waktu kuliah semester 5, saya sudah mulai kerja melamar sebagai wartawan, dan waktu itu susah, karena dulu koran sedikit, seleksinya ratusan, empat ratusan orang, yang diterima paling cuma dua belas. Gue ngalamin proses itu, saingannya S1 semua, sementara gue masih kuliah, belum lulus.
Basic dunia wartawannya sendiri didapat darimana?
Ya… karena zaman kuliah dulu saya memang aktif. Dulu kan kita nggak punya referensi apa-apa, pengalaman kerja nggak punya, selain pengalaman beberapa artikel memang pernah dimuat di beberapa media cetak ibukota. Ya itu saja referensinya, dan ternyata lumayan membantu, ketika melamar menjadi wartawan, itu merupakan nilai jual tersendiri.
Bagaimana ceritanya, hingga “terdampar” di bagian entertainment dan lifestyle?
Kan ada tesnya juga,tesnya nggak main-main juga mulai tes tulis sampai tes lapangan, itu juga ada tahap tiga bulan percobaan gitu kan, dua minggu sampai satu bulan ada yang namanya posting. Posting itu adalah penempatan pos-pos, misalnya kamu di bagian kriminal, selama dua minggu kamu harus stay di Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit mana, misalnya Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Kemudian bulan depan, pindah ke desk politik, desk politik yasudah, liputannya tentang politik, nanti ada desk sosial. Sampai akhirnya nggak tahu kenapa dapatlah penempatan desk lifestyle, entertainment lifestyle, dan nggak tahu kenapa nggak dipindah-pindah. Padahal basic tulisan saya juga kan nggak ada entertainment, saya nggak tahu lifestyle, orang anak IAIN lifestyle-nya gimana sih dulu. Orang kita juga nggak punya duit, gaji juga cuma berapa kan, nggak punya mobil, kemana-mana naik angkot, sehari-hari untuk nambah uang makan juga ngamen. Jadi, mengalami proses itu, masuk café, boro-boro, duit darimana, buat makan saja susah.
Kenalnya dulu darimana dengan dunia entertainment dan lifestyle?
Ya, namanya juga wartawan, otomatis punya akses, ya enak kalau buat saya. Kalau punya akses, itu berarti merupakan pintu untuk masuk ke dunia yang sebenarnya nggak tentu.
Mendapatkan aksesnya sendiri bagaimana?
Ya, mulai dari nol. Buat gue emang lebih mudah, karena barangnya kelihatan. Bisa nonton band, masuk café, people-nya jelas, daripada investigasi yang sifatnya… misalnya skandal politik, itu kan susah, dalam pandangan gue entertainment sih lebih mudah, karena objek-objek yang harus gue tulis itu kelihatan. Walaupun pada waktu itu, karena gue anak cupu, itu ya memang dari nol. Nol-nya adalah, mau liputan café aja nggak tahu bagaimana caranya. Misalnya café yang lagi ngetop apa, gimana caranya, gue kenal sama siapa ya. Karena memang gue nggak punya akses, ya dari nol. Pada akhirnya memberanikan diri untuk kemudian menjadi bagian dari entertainment dan lifestyle-nya itu sendiri. Mulailah kelayapan tiap hari, nongkrong sana nongkrong sini, muterin café sana-sini, ngider saja. Itu yang membuat kemudian gue punya akses. Semua café pasti punya Public Relation (PR), ya deketin saja PR-nya dulu, baru kenal manager-nya, baru kenal yang punya, baru kemudian kenal orang-orangnya. Yasudah pada akhirnya bagitu saja.
Saya sempat juga berbincang sekaligus berdiskusi dengan beberapa orang yang pernah membaca Jakarta Undercover 1, beberapa diantaranya menyatakan bahwa dalam penceritaannya, Anda seperti tidak terlibat langsung dan hanya menjadi penonton saja. Nah menanggapi hal itu sendiri, menurut Anda bagaimana?
Ada yang dinamakan “style”, setiap orang itu ketika menulis punya gaya, tema apa, itu satu. Yang kedua, penulis itu ya pasti ada goal, ada kepentingan dia ingin menampilkan tulisannya bergaya apa. Apakah misalnya pengen thriller, pengen serba misterius. Di Jakarta Undercover 1, karena pada waktu itu kondisinya memang belum sebebas sekarang, karena waktu itu kan zaman baru turunnya Soeharto, jadi isu-isu yang saya tulis juga itu underground, undercover. Sex lifestyle masyarakat perkotaan dengan segala lika-likunya, itu kan bukan isu gampang, itu susah, dan nggak semua orang tahu. Jadi ketika menulis pun, gue harus menempatkan diri bagaimana mengemas tulisan ini menjadi sesuatu yang menarik sudah pasti, tapi juga aman bagi gue. Kenapa kemudian tulisannya adalah di sana ada yang dinamakan “clue”, “dimanakah saya?”. Kan ditulisnya begitu, kadang orang bertanya, “Sebenarnya dimana sih elu?”, “Kok setiap kali ending nggak ketahuan elu dimana?”, “Elu sebenarnya ada nggak sih di tiap peristiwa?”. Ya, ini kan gaya menulis. Yasudah, itu clue pertama seperti itu.
Anda sendiri terlibat langsung kan dalam proses investigasi untuk bahan-bahan Jakarta Undercover ini?
Iya, karena ini kan liputan wartawan. Ya nggak mungkin dong bisa nulis se-detail itu kalau tidak melihat kejadian dengan mata telanjang kan nggak mungkin.
Apa pengalaman paling hebat dan “wow” selama proses investigasi untuk pembuatan buku Jakarta Undercover?
Semua ngagetin, nggak ada yang nggak ngagetin. Itu kan potret sex lifestyle, kegilaan masyarakat kota, semua sih buat gue ngangetin, karena siapa yang menyangka akan ada potret seperti itu di Jakarta, kan nggak ada yang menyangka. Selain itu kan tahapannya satu-satu. Gue liputan striptease saja terkaget-kaget lah, itu kan barang baru, karena nggak pernah menonton. Sampai liputan yang lain semacam sashimi girl, dan lain-lain. Semua mengagetkan buat saya. Ya puncaknya ketika ada party telanjang bareng kan, itu ya artinya semua proses dan peristiwa yang ditemui mengagetkan karena bertahap. Kalau belum apa-apa sudah sampai ke party telanjang ya nggak mungkin, susah juga.
Ketika Jakarta Undercover terbit, di dalamnya kan ada orang-orang yang terlibat dan disebutkan dalam buku meskipun dengan inisial. Apa ada yang protes atau tidak suka dilibatkan dalam buku tersebut?
Oh itu sih biasa, nggak usah inisial, begitu buku itu terbit saja banyak. Teror juga banyak, ya kan pada akhirnya kita harus tahu batasan menulisnya harus bagaimana, menyampaikannya bagaimana. Karena memang kondisi waktu itu kan belum bebas, untuk mengungkap fakta sekelam itu kan butuh keberanian juga. Itulah mengapa, dari segi kepenulisan juga saya bikin pakai bahasa keseharian, terus pakai inisial, kenapa juga gue menempatkan diri sebagai pengamat.
Kan banyak dapat teror, biasanya terornya dalam bentuk apa?
Ya lewat telepon saja, “Wah gila lu, gini gini gini..”, atau di beberapa tempat gue dilarang masuk. Begitu lah standar. Pas talkshow diturunin. Di beberapa tempat diancam-ancam pakai pedang, standar lah. Ya, artinya mengalami itu, tapi begitu kedua nggak kok. Begitu kedua, aksesnya malah terbuka lebar. Menulis Jakarta Undercover 2 makanya cuma dua tahun selesai, karena aksesnya sudah terbuka ya thanks God, gue leih enak nulis saja.
Perbedaan Jakarta Undercover 1, 2, dan 3 sendiri apa darisudut pandang Anda sebagai penulis?
Secara teori peliputan memakai teori investigasi partisipatif, tapi kan gue nulisnya seolah-olah gue pengamat, pengamat yang di luar arena. Gue tidak memposisikan diri sebagai orang luar kan, itu kan di Jakarta Undercover 1, ketika gue melihat bahwa buku itu meledak, pada kenyataan ternyata responnya bagus, banyak orang yang ternyata juga ternganga, padahal sih sebenarnya juga banyak orang sudah tahu, cuma kan nggak berani mengungkap. Ketika Jakarta Undercover 2 terbit, gue memposisikan diri gue ada di dalam, kalau diperhatikan dari alur atau gaya tulisan yang dipakai. Di Jakarta Undercover 2, sebenarnya gue ada di sana, dan sudah jelas tokoh “aku” itu “nongol”. Kalau di pertama kan “dimanakah saya?”, kalau yang kedua, “di sini loh saya.”, kalau yang ketiga, “ya gue ancur-ancuran”. Artinya, potretnya sudah jelas, karena tahapannya sudah lewat lah, ada 1 ada 2, ada 3.
Wah, memang fenomena dunia prostitusi apa yang saat ini sedang “hot”?
Sudah mulai ada bintang porno luar negeri sudah mulai nongol. Bintang porno luar negeri sudah dijual di sini (baca: Indonesia), yang pornonya, ya begitu deh.
Ada fenomena apa lagi ini memang yang sedang muncul selain yang tadi disebutkan?
Ahh, nanti saja buat buku baru lagi hahaha…
Waktu menulis Jakarta Undercover, apa sempat terpikir kalau buku itu akan membuka jalan akses bagi orang lain menuju ke dunia hiburan, yang sebelumnya tidak diketahui orang?
Ya nggak lah. Ya ini kan kenapa akhirnya gue pakai inisial, kenapa juga yang gue tulis itu lebih ke isunya yang telanjang, bukan ke seksnya yang telanjang. Jadi lebih ke ketelanjangan isu, bukan ketelanjangan seksnya. Jadi, kalau sudah baca kan nggak ada jorok-joroknya, itu juga kan tergantung pilihan, kan begitu. Karena dari awal memang tidak ada maksud untuk membuka jalan apa, justru karena fenomenanya sudah merebak sedemikian parah, kenapa didiemin? Kalo buat saya kan begitu. Buku itu juga saya bikin ringan, ringan kalau buat saya, biar informasinya sampai saja. Orang baca nggak perlu berkerut, orang baca langsung paham, jadi tidak dibikin semacam penelitian yang menggunakan aplikasi ini itu, atau survei ini itu. Karena buat saya, fenomena membaca di sini juga sudah susah, minat bacanya juga kecil. Jadi, kenapa harus bikin yang susah-susah. Ini buku yang gampang, mudah dimengerti, bahasanya bahasa keseharian, dengan tidak mengurangi dan tidak melanggar aturan berbahasa Indonesia yang baik. Sudah that’s all kalau prinsip saya sih.
Proses investigasi untuk pembuatan Jakarta Undercover 1 kan sekitar awal tahun 2000-an, kemudian terus berlanjut dengan seri Jakarta Undercover 2 dan 3. Terjadi perbedaan signifikan tidak dalam perkembangan “dunia hiburan malam” atau prostitusi di Indonesia khususnya Jakarta?
Dulu disebut “undercover” karena memang tidak ter-ekspos, kalau sekarang itu berani banget. Kalau sekarang itu sudah seperti “supermarket seks” lah. Di dalam buku Jakarta Undercover 3 makanya saya katakan “supermarket seks” kan, karena memang sudah terbuka. Artinya orang sudah tidak tertutup, sudah bukan undercover lagi, kalau industrinya sudah bukan undercover lagi, karena semua orang bisa masuk, yang undercover itu adalah peristiwa-peristiwa yang melibatkan transaksi komunitas atau personal, private party lah contohnya, itu kan yang undercover karena itu kan nggak semua orang bisa masuk, nggak semua orang bisa ikut. Itu yang undercover.
Kalau perbandingan dunia “hiburan malam” di Indonesia sendiri secara umum dengan di luar negeri yang Anda ketahui seperti apa?
Di luar kan beberapa memang legal, even Thailand saja kan memasukkan wisata seksnya sebagai bagian dari “dilegalkan sebagai paket wisata” kan. Devisanya kan besar, kalau di sini kan nggak. Di sana nggak perlu takut digerebek kalau dia mau having fun, kalau di sini kan ya… nggak digerebek juga sih, tapi kalau apes digerebek juga kalau setorannya kurang.
Bagaimana komentar dari orang-orang terdekat Anda tentang pekerjaan Anda, misalnya kan ayah anda yang seorang da’i, ketika Jakarta Undercover diterbitkan, wah ternyata anaknya melakukan proses penilitian dan terlibat langsung dengan “dunia hiburan” tersebut?
Nggakso far kan itu bagian dari lingkup pekerjaan wartawan, ya… selama tidak dalam rangka foya-foya kan itu bagian dari pekerjaan, yasudah.
Tapi dari pihak kelaurga sendiri tidak ada yang komentar macam-macam?
Nggak, moderat kok keluarga gue. Artinya mereka support selama hati-hati, sudah itu saja.
Sampai sekarang hati-hati dong berarti?
Eeemmm… hati-hati…
Buku Anda kan tidak semua bertema esek-esek, tapi banyak orang yang mengidentifikasi Anda sebagai penulis buku dengan tema seks…
Buku gue yang seks Cuma sedikit kok. Itu karena mindset-nya sudah terbentuk. Pada akhirnya entah kenapa akhirnya gue juga tidak melulu membuat buku tentang seks, buku gue ada yang cinta, ada yang apa. Jadi untuk variasi saja, dan orang juga tidak jenuh, dan yang paling penting adalah gue nggak stuck di satu isu. Nggak stuck sebagai penulis esek-esek melulu. Nggak mau juga, malas, capai.
Lalu, tanggapannya tentang orang-orang yang, mengidentifikasi Anda sebagai penulis buku bertema esek-esek bagaimana?
Nggak apa-apa , biarkan saja. Kalau lu sekarang liat di twitter, pasti branding gue sebagai penulis buku-buku “seperti itu” sudah beda, karena gue berusaha, kalau di twitter kan sama sekali tidak mengekspos seks.
Apakah itu bentuk pembentukan image lain juga?
Nggak, orang juga ingin sesuatu yang berbeda. Jangan puas juga kemudian gue hanya dikaitkan dan dianggap hanya bisa membuat buku-buku dengan tema seks. Gue juga bisa menulis hal yang lain. Pembuktiannya ya itu, dengan gue menulis buku-buku dengan tema lain. Jadi, ini sebenarnya hanya bagian dari pembuktian diri saja lah. Tapi kalau orang mau menyebut seperti itu juga nggak apa-apa. Kalau sejauh ini ternyata gue belum cukup untuk membuktikan diri ya nggak apa-apa, berkarya terus saja.
Selain tema-tema yang sudah pernah dibuat saat ini, apakah ada tema baru yang ingin dibuat?
Belum juga, tapi kan tema bisa apapun. Sekarang bagaimana penulis bisa menjadikannya bacaan yang menarik, yang penting kan itu. Bisa novel, bisa feature, bisa apa.  Jakarta Undercover kalau dibuat novel akan berbeda pastinya, akan menjadi bacaan yang berbeda. Misalnya someday gue bikin novel. Sekarang kan dia bentuknya feature lepas, ya seperti tulisan saya di majalah lah. Itu pasti akan beda ketika sudah menjadi novel, karena kan ada penokohan, ada karakter, ada banyak hal. Itu pasti beda, dan mungkin novel akan lebih menarik. Jakarta Undercover mungkin akan menjadi sesuatu yang menarik lagi kalau dibuat dalam bentuk novel.
Apakah sampai saat ini ada hal-hal yang belum tercapai dari segala yang sudah Anda buat?
Apa ya… Mau buat bini gue bahagia saja.
Kalau dari segi karya sendiri apa?
Mungkin ini ya, suatu ketika gue ingin membuat novel religi mungkin ya. Tapi kan nggak tahu kapan, kan namanya juga nawaitu (dibaca: niat) boleh. Pengen sih suatu ketika, tapi nggak tahu kapan.

(***)
There was an error in this gadget

Arzia Tivany Wargadiredja