Monday, October 21, 2013

Rumah di Sebelah Timur

Bukit Cinta, Labuan Bajo (Oleh Anisa Rahmawati)

Belum pernah saya menginjakkan kaki di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Namun, saya sadar separuh alur napas kehidupan masa kecil saya ditunjang di sini.
Awal dekade 90-an Ayah saya tinggal dan bertugas di Kabupaten yang kini mendadak diinvasi turis karena sensasi 7 wonders ini. Ayah selalu bercerita, lewat foto-fotonya di masa lalu pada saya, tentang bagaimana Ia tinggal dan bergabung menjadi seorang asli Kabupaten Manggarai, sekaligus menyambung napas keluarga di tanah Jawa. Melalui perjalanan pertama saya ke Flores, saya merasa "kembali".
Dua dekade berselang setelah Ayah lepas landas dari NTT, saya mewakili diri Ayah saya untuk menyaksikan diaspora pembangunan masyarakat Manggarai di tengah eksodus besar-besaran komoditas pariwisata domestik dan internasional ke  timur Indonesia.
Kini masyarakat Manggarai Barat yang berpusat di Labuan Bajo sedang gencar-gencarnya mempromosikan pariwisata mereka. Maklum saja, bisnis pariwisata sedang berada di puncak jayanya. Salah satunya adalah acara Sail Komodo 2013 yang puncak acaranya akan jatuh pada 14 September nanti, hanya selang 2 minggu dari kedatangan saya di  Labuan Bajo.
Phinisi, Labuan Bajo

Kata orang-orang akan datang ribuan kapal yang berlayar dari belasan negara dan beberapa wilayah di Indonesia, menggunakan kapal-kapal khas wilayah mereka masing-masing. Ketika saya pertama kali tiba di Labuan Bajo pun saya disambut ratusan phinisi mini yang bergaya di sekitar perairan Flores.
Kelak pada acara puncak nanti akan hadir banyak pejabat-pejabat negeri mulai dari staf-staf pemerintahan, menteri, Presiden, hingga pemimpin atau wakil diplomatis negara tetangga. Sempat terpikir, untuk tinggal sampai Sail Komodo 2013 selesai. Namun, apadaya kampus sudah memanggil-manggil. Tanggungjawab menanti di Jawa. Selain itu saya pun berpikir, sepertinya pergerakan akan susah sekali jika Sail Komodo tiba.
Pelabuhan dan penerbangan akan sangat penuh, penginapan pun bernasib sama. Harga-harga melambung? Jangan ditanya, hingga tebakan bahwa pada harinya nanti tak akan bisa kemana-mana dan berakhir diam.

Rumah Pak Viggo
J-Trip bersama keluarga Pak Viggo

Ya, saya betah di Labuan Bajo. Sangat betah. Bahkan saya punya mimpi, saya harus punya penginapan di sini. Terlalu banyak orang baik yang saya temui di Labuan Bajo, salah satunya keluarga Pak Viggo.
Kami, yang jumlahnya lebih dari selusin dan hampir sekodi ini diterima dengan sangat baik di rumah Pak Viggo. Beserta istri, dan dua anaknya George dan Jason kami merasa menemukan keluarga baru yang sangat menyenangkan.
Kedatangan pertama kami di rumah ini, kami disambut dengan pesta kecil-kecilan. Ikan kerapu bakar yang besar-besar dengan sambal dabu-dabunya yang pedas dan segar serta ratu penyambutan, sopi!
Pak Viggo pun memanggil beberapa kerabatnya untuk mengobrol dan meramaikan pesta. Lagu-lagu folk khas pesisir Labuan Bajo yang bagi orang awam seperti saya sekilas terdengar seperti lagu reggeae dicampur nada musik afro amerika membuat kami ingin bersantai di hammock tapi tetap bergoyang ala timur. Coba bayangkan bagaimana rasanya!
(Foto oleh Anisa Rahmawati)

Esok harinya kami diajak berjalan-jalan melihat sunset dari salah satu bukit yang ada di Labuan Bajo. Orang bilang namanya Bukit Cinta karena banyak orang berpacaran yang menyaksikan matahari tenggelam di sana.
Bukitnya tak terlalu tinggi, tetapi cukup untuk melihat pemandangan dari atas Labuan Bajo. Ke arah berlawanan dari tempat matahari tenggelam, kami bisa melihat bandar udara Labuan Bajo. Siap-siap saja bila di sini siang hari, pesawat terlihat terbang dengan rendahnya.
Sepanjang jalur menuju puncak bukit, terdiri dari savana. Rumput-rumput kering yang gatal dan sudah menguning. Benar-benar menyenangkan. Dari atas, titik-titik phinisi yang kemarin saya lihat begitu megah dan besar menghiasi tepi Labuan, diselingi bukit-bukit cantik. Saya sempat berpikir, kok mirip Raja Ampat ya gugusan bukitnya? Ya, walaupun cuma saya lihat dari foto saja.
Sebelum sunset benar-benar usai, kami meluncur menuju salah satu bar dan restoran yang punya view sunset Labuan Bajo tercantik. Saya sarankan ke Paradise Bar and Restaurant! Spot favorit saya adalah meja memanjang yang menghadap langsung ke lautan. Cantiknya keterlaluan.

Jika hendak minum-minum saja, harganya relatif terjangkau, sepadan dengan pemandangan yang disajikan, berkisar antara 9k-20k untuk minuman tak beralkohol, dan sekitar 30k-60k untuk minuman beralkohol. Untuk makanan rata-rata berkisar di atas 20k. Labuan Bajo, our sunset paradise!!!

There was an error in this gadget

Arzia Tivany Wargadiredja