Saturday, November 5, 2011

Fenomena 2011 Trailer


Watch this! Fenomena 2011 Video trailer by Pubdok Fenomena 2011.
Endingnya haceeppp!!! :D

Sunday, October 30, 2011

Berawal dari Salah Alamat - DPP Ting Ting

Waktu itu bulan Juni, dan sebentar lagi Juli, habis itu Agustus, yaaa semua juga tahu, yang tidak semua orang tahu Juni itu adalah saatnya dimana Fikom bersiap-siap menyambut adik-adik baru kami, tentunya tidak begitu saja kami sambut untuk itulah saya lari-lari. Ya, hari itu adalah persiapan pertama untuk Fenomena 2011, dan mulai saat itu juga saya memantapkan diri untuk masuk depertemen logistik dengan jargonnya UEBER ALLEZ!

Lari-lari saya masih lari, ternyata benar saja saya telat, itu adalah hari pertama open recruitment, bingung mencari-cari dimana kawanan logistik. Dalam hati saya bernyanyi, dimaaanaaa dimaaanaaa dimaanaaa ~ saya tanya kanan kiri, di depan gedung jurusan, akhirnya Tuhan saya melihat teman saya, namanya Icha, Icha sedang duduk-duduk di sebuah divisi yang tidak laku-laku amat waktu itu (hahaha).

"Cha, liat kumpulan anak-anak logistik gak?", tanya saya. "Enggak tuh," jawab Icha. Wah saya cukup gundah gulana juga kalau gak duduk rasanya mati gaya, yang lain telah bersekongkol dengan koloninya masing-masing. Terbersit pikiran, apa saya harus duduk di departemen yang ada Icha-nya ini? Saya tanya saja ini departemen apa, dan dijawab DPP. DPP? Apa itu? Namanya tidak terlalu komersil menurut saya, tapi baiklah ini kan bukan band mainstream, jadi gak perlu komersil. Setelah dijelaskan bahwa DPP ini adalah depertemen yang ska memberi tugas itu, saya putuskan untuk duduk saja sambil coba-coba mendengarkan, ternyata asyik juga.

Setelah 4 bulan sama-sama. Saya akhirnya benar-benar menemukan sebuah rumah, dan memang seharusnya saya ada di sini. Saya menemukan bukan hanya sahabat atau teman hura-hura, saya menemukan mereka sebagai tempat memecahkan huru-hara pikiran dan tempat berbagi haru-biru. Untuk saya mereka bukan segalanya,k alau mereka segalanya mereka bisa jadi ibu atau bapak saya juga, saya tidak mau lah tiba-tiba bapak saya berubah jadi Wawe.

Inilah teman-teman yang menurut saya SEHAT, tentu saja sehat bukan dalam arti kata yang sebenarnya, karena Kak Aci tidak suka sayur, dan Wawe tidak makan nasi, yang sehat cuma saya, dian, icha, dan bunga, karena putu masih suka sakit. Sehat ini karena kami bicara banyak hal, tentang ilmu, tentang benang merah, tentang #analogi achi, tentang teori wawe, tentang in group feeling icha, tentang simpulan dayen, tentang diam-diam menghanyutkan putu. Sepertinya cuma saya yang nyampah, ya tentang kesampahan saya.
Kalianlah tempat saya hura-hura dalam ilmu. Kalian tempat saya menghentikan huru-hara dalam pikiran, dan kalian juga tempat berbagi haru biru. Kalian adalah kacang-kacangan di tengah umbi-umbian, kalian adalah sepeda di jalanan yang penuh motor, kalian adalah lagu India di tengah lagu Wali, kalian adalah yang ngeledek saya karena cuma saya yang masih pake mesin tik. Kalian adalah makhluk yang meyakinkan saya bahwa saya adalah sampah yang tidak jelek-jelek amat. Oh iya, dan kalian yang meyakinkan saya kalau saya punya kakak bernama KOYOD.



*PS
Sampai tulisan ini diterbitkan, saya belum mengembalikan:
1. Buku Jurnalisti Investigasi-nya Kak Achi, dan
2. Kaos tangan panjang biru-nya Putu

Rinjani itu Menipu



                Mari rasuk mari rasuk, rasuk. Bila kau rindu aku kan datang…” Itulah sepenggal lirik Malino, dari The Trees an The Wild, lagu yang judulnya juga diambil dari nama sebuah gunung di Sulawesi. Lagu itu pula yang saya nyanyikan di Plawangan Sembalun, sambil memandang Danau Segara Anakan, dan Gunung Jaribaru (Anak Gunung Rinjani).
                Sembalun,lengkap dengan baju band "metal" kesayangan saya The Trees and The Wild, jalur menuju 3726 mdpl itu kami sapa pukul 08.30 WITA, pemandangan khas masyarakat suku sasak yang membawa hasil panen dan juga makanan ke kaki Rinjani memberi keakraban tersendiri bagi kami. Puncaknya terlihat begitu dekat. Dengan estimasi porter berkecepatan tinggi, basecampe di Plawangan Sembalun konon dapat ditempuh dalam waktu 8 jam, dan kami…  percaya.
                Kami disuguhi panorama super canggih, tak mungkin kami membuat diorama serupa yang begitu sama. Bukan main, rasanya kami tak ingin beranjak dan pergi, meskipun kami tahu, alasan kami tak beranjak adalah karena kelelahan tingkat tinggi.
                Trek yang naik dan bergunung-gunung, serta cuaca yang panas dan membakar, seakan-akan memaksa kami untuk tetap tinggal menikmati pemandangan, setidaknya rasa itu tertambal. Jalur Sembalun sendiri memiliki tiga pos hingga menuju Plawangan. Pos pertama terletak di tengah savanna, pos kedua terletak di sebuah jembatan sehabis trek berbatu besar, dan pos ketiga kami lalui setelah kami melintasi sebuah sungai yang lebih akrab disapa jalur lava. Bukan main bukan?
                 Namun seketika saya merasa tertipu, ternyata Jani menipu saya. Dia menipu saya!
Left to right: Om Ronny, Om Beset, A Uchan, Auntie Yayang, Me, Om Beko

Diorama siapa?

Terpanggang di Savanna

Where to go?

This Is Unreal Man!

Rock that acute angled rock!

Savannah Savannah
Current of Lava


Sepatu Pinjaman


Los adolescentes - Dënver



Una obra maestra. Esto es magnífico!!!! Man watch this! Surely recommended!

Tuesday, July 26, 2011

Mendadak Rinjani (Part 1)


Awalnya, saya tak yakin Rinjani adalah salah satu mozaik hidup saya. Tapi kali ini saya lebih yakin. Lebih dari kulminasi atas.
Minggu malam 26 Juni 2011, tak ada sedikitpun rencana liburan yang pasti. I thought, doing household chores, or other kinds of English course as my TOEFL preparation would be nice. Seketika, tanteku yang biasa kupanggil auntie, menawarkan sebuah liburan super murah dengan pengalaman super mahal. Awalnya kami hanya berencan untuk pergi ke Lombok saja (fullstop), setiap orang awam yang belum tahu Rinjani, pasti membayangkan hanyalah pantai yang terkenal disana, begitu pula dengan seluruh family member saya. Kali ini kami pergi dengan perjalanan super murah. Murahnya lebih dari sekedar backpacking menurut saya. Dan di malam itu pun kami memutuskan untuk ikut pergi ke Rinjani, tanpa memberitahu orang rumah. Maklum, saya belum pernah naik gunung yang benar-benar gunung sebelumnya. Hanya gunung-gunungan.
Saya pergi bersama grup pecinta alam Jantera UPI yang merupakan grup pecinta alam. Mereka tak menyangka saya akan ikut dengan persiaan super minim. Pergi tanpa celana quick dry, tanpa sleeping bag, tanpa gloves, tanpa polar jacket, tanpa rain coat, tanpa sepatu hiking, dan tanpa tanpa lainnya. Saya juga berpikir ide buruk ini akan menyusahkan mereka A Uchan, Bang Ronny, Om Beko, dan Om Beset.
Statsiun Kiaracondong, menunggu kereta sabun colek.
Malam hari, 27 Juni 2011 berangkatlah kami dengan kereta merk sabun colek. Kadang, banyak iklan rokok, ataupun iklan-iklan filosofis di bulan Ramadhan yang menyajikan kesan bahwa keindahan ada di dalamnya. Keindahan bercengkrama dengan orang baru, dan keindahan mendapatkan tempat duduk. ITU SEMUA BOHONG! Saya mencoba tidak mengeluh, tidak mengeluh baiklah dengan menumpang tempat duduk orang, dan hanya bisa duduk di ujung besinya saja, yang dapat membuat pantat saya berbekas membentuk jalur lahar. Bagaimana dengan keindahan bercengkrama? Untung saja saya masih bisa menemukannya disana, numpang meletakkan keril-keril yang beratnya mungkin sekitar 15 kg, membuat kami sedikit-sedikit mengobrol dengan seorang ibu dengan tujuan stasium Gombong yang suka mengejutkan kami dengan secara tiba-tiba membuka bxxx lalu menyusui anaknya. HELLLOWWW!
(maaf tidak ada gambar untuk ibu-ibu yang sedang menyusui)
Setelah berjuang di kereta sabun colek selama 10 jam, sampai juga kami di Yogyakarta. Rasanya saya ragu tak kepalang, ingin sekali saya sudahi saya di Yogya, lalu kemudian sedikit belanja-belanja di Malioboro, menginap di rumah teman, lalu pulang lagi ke Bandung. Aaaahhh… lupakan. Saya hanya istirahat selama 2 jam, lalu melanjutkan lagi perjalanan kami ke Banyuwangi.
Statsiun Lempuyangan, Yogyakarta
Lagi-lagi kereta sabun colek. Banyak hal yang belum pernah saya lihat. Saya melewati kampong halaman teman saya Nur di Sragen, lewat tempat wisata Lumpur Sidoarjo (Dasar orang Indonesia), dan menabrak seorang pelanggar rambu lalu lintas sampai tewas. Ya, percaya atau tidak sebelum masuk ke Stasiun Sidoarjo, kereta sabun colek yang saya tumpangi menabrak seorang pengendara motor yang nekad melewati portal saat kereta hendak lewat. Sontak, kereta yang saya naiki maju mundur. Saat itu juga saya baru tahu kalau kereta bisa maju mundur. Sebagai manusia biasa kabar buruknya adalah, saya melihat langsung mayatnya ditandu dan wajah yang ditutupi kardus bekas sebagian sambil bersimbah darah. Saat itu saya sedang benar-benar memegan kamera DSLR saya, tapi memang benar kata orang menal memotret foto juranalistik itu sulit untuk dibentuk. Saya tak sanggup memotret. Ini tanggung jawab moral sodara sodara!
Wisata Lumpur Lapindo, Sidoarjo
Hal yang paling menggelikan sepanjang saya melintasi Pulau Jawa adalah mendengar suara pedagang-pedang yang berlalu-lalang. Yang paling menggelikan dan yang saya analisis adalah perbedaan orang Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dalam menyebut kata “MIZONE”. Mizone yang seharusnya dibaca (mayzon) ini berubah-ubah di tiap tempat. Pedagang Jawa Barat menyebutnya dengan sebutan “MIJON”, Pedangang Jawa Tengah menyebutnya “MISON”, dan Jawa Timur menyebutnya dengan sebutan “MISONE”.
Dari perjalanan “mahal” ini pun saya menyadari bahwa Air Minum kemasan Aqua, memiliki sumber yang berbeda di tiap tempatnya, dan memiliki rasa yang berbeda. Aqua Jawa Barat sumber mata airnya di daerah Subang, Jawa Tengah sumber mata airnya di Klaten, dan Jawa Timur sumber mata airnya dari Gunung Arjuno. Rasanya? Menurut saya agak berbeda, karena saya orang Jawa Barat, menurut saya Aqua Jawa Barat-lah yang paling enak. Hehehe ya, mungkin karena sudah terbiasa lidahnya.
Sampailah kami di stasiun Ketapang Banyuwangi, tanggal 28 Juni 2011 pukul 23.00. Di Stasiun kami bertemu dengan rekan sejawat yang belum kami kenal, teman-teman dari Terra, Grup Pecinta Alam Geofisika ITB yang juga naik kereta sabun colek yang sama dengan kami. Kami pun saling berkenalan, ada mbak Renni, Mas Sapto, Kak Manda, dan Kak Wisnu. Kami pun makan bersama di salah satu kaki lima yang masih buka saat itu.
Kami akhirnya mendapatkan bis dengan tujuan terminal Ubung, Bali yang terkenal kejam itu. Kmai pun menyebrangi selat Bali dengan sebuah kapal Ferry yang butut, berkarat, dan goyang-goyang. Hingga sampailah kami di Pulau Bali. Atmosfer perbedaannya sangat terasa, auranya di pagi buta itu semakin mistis dengan patung-patung dan semak-semak sepanjang jalan.
Selat Bali

Hingga, sampailah kami di Terminal Ubung, Bali. Terminal ini sangat tidak disarankan bagi perempuan single fighter, karena keril atau tas anda dapat ditarik-tarik hingga putus oleh beberapa calo yang berebut penumpang. Disini tawar menawar tak dapat berjalan alot, semuanya keras. Saran saja untuk yang belum pernah kesini, tolong anda pasang muka yang lebih galak dari calo, dan harus bisa mengendalikan situasi, semuanya agar anda yang diuntungkan, meskipun itu sangat nihil kemungkinannya.
Akhirnya dengan tawar menawar yang cukup crunchy (tidak alot), kita pun mendapatkan bis ke Mataram. Kali ini, kita akan berlayar dari Padang Bay di Bali menuju pelabuhan Lembar di Lombok. Kapal Ferry-nya kali ini lebih manusiawi, walaupun tidak bisa dibilang bagus, setidaknya kami bisa menikmati rooftop kapal laut (Saya menyebutnya rooftop, terserah anda mau bilang apa) sambil berlagak seakan-akan kami adalah Jack dan Rose di Film Titanic.
Selat Lombok
Sampailah kami di Pulau Lombok, menurut saya, Lombok terlihat lebih bersahabat dengan kami, tidak terlalu mistis seperti Bali, walaupun nuansa Bali masih cukup kental di dalamnya. Sampai di terminal Mataram, kami langsung melanjutkan perjalanan ke daerah Lombok Timur menuju ke daerah kota yang terdekat dengan Sembalun (Pintu jalur menuju Rinjani).
Sepanjang jalan saya menemukan banyak sekali materi untuk komunikasi lintas budaya, mulai dari seorang nenek Lombok yang tidak mengerti Bahasa Indonesia memberi kami pisangnya yang berwarna merah dan menyuruh kami untuk memakannya dengan kata”dahar” yang dalam Bahasa Sunda berarti “makan”. Banyak sekali cerita menuju Sembalun.
Sampai akhirnya kami tiba di sebuah daerah pasar, disana kita ber -10 akan menyewa sebuah pick up yang akan membawa kami ke kantor basecamp Sembalun. Kami pun makan makanan yang rata-rata rasanya pedas, pedas sekali tepatnya. Sebelm maghrib kami pun menaiki pick up untuk melanjutkan perjalanan kami ke pintu Sembalun. Perjalanan ditempuh sekitar 1 sampai 2 jam. Jalannya? Janga ditanya, meliuk-liuk dan berkabut. Seorang yang belum iasa menyetir di daerah itu harus sangat berhati-hati dan saya pikir malah belum tentu mereka bisa melewati jalan seperti itu, terkecuali orang yang sudah sangat terbiasa.
En route: Sembalun
Akhirnya sekitar pukul 19.00 kami pun tiba di kantor basecamp Sembalun, dan kemudian menginap selama semalam hingga keesokan harinya kita akan melanjutkan perjalanan mendaki Rinjani. Mala mini, saya punya banyak sekali masalah, masalah pertama adalah saya tidak bisa Buang Air Besar, hamper segala metode telah dilakukan, tapi hasilnya nihil. Masalh yang kedua adalah masalah restu, Ibu dan seluruh keluarga saya tidak mengizinkan kami menaiki Rinjani apapun alasannya, sedangkan kami telah berada di pintu Sembalun, tidak ada kendaaan umum, dan orang yang kam kenal. Kami pun awalnya berencana hanya akan menginap di basecamp Sembalun karena restu yang tidak memadai, tetapi ternyata rombongan tidak akan pulang lewat jalur yang sama, mereka akan pulang lewat jalur Senaru yang jauh entah dimana. Mau tidak mau keadaan menuntut saya yang seorang newbie untuk tidak naik, akhirnya setelah bargaining yang berhiaskan airmata di bawah hamparan bintang-bintang maha banyak dan maha indah Sembalun, saya dan auntie berhasil untuk melobi ibu dengan hanya akan naik “sedikit” (nanti saya kasih tahu kenapa saya kasih tanda kutip) dan berkemah di Plawangan dan tidak ikut summit attack. Itu adalah janji saya pada ibu untuk tidak mencapai puncak Rinjani, meskipun sebenarnya saya sangat ingin sampai ke puncak 3726 mdpl.
05.30 WITA, Sembalun
TO BE CONTINUED

Wednesday, June 22, 2011

Korelasi Duduk di Bis, Emansipasi, dan Ibu Kartini???

Kadang saya suka jengkel juga sama aa aa (baiklah saya menggunakan 4 huruf, 4 suku kata dan 4 vokal) ataupun om-om, atau bapak-bapak yang seenaknya saja duduk manis di bis sedangkan perempuan-perempuan tua dan anak-anak yang lebih layak duduk berdiri bersinggungan.
Menghadapi kenyataan tragis itu (walaupun sebenarnya gak setragis itu), dengan bantuan burung biru saya ungkapkan isi hati dan perasaan saya di media sosial, tentang laki-laki yang berkelakuan seperti itu, dan membikin hati kaum hawa dongkol.
Benar saja, saya diserbu retweet yang menyatakan dan seakan-akan menyalahkan kaum hawa? Sebut saja B (bukan nama sebenarnya).
A: (Saya lupa apa yang saya tweet, tapi yang jelas saya cuma mempertanyakan kenapa kaum adam seperti itu?)
B: Kan perempuan sendiri menggaungkan emansipasi, kenapa sekarang mengeluh.

Saya kesal, seakan-akan emansipasi adalah kesalahan ibu-ibu dan anak kecil yang ada di bis ini, padahal belum tentu mereka tahu apa itu emansipasi. Dalam hati saya berkata, kenapa gak bilang aja lu sama ibu kita Kartini kalo lu gak setuju emansipasi? Kenapa Ibu Kita Kartini memberatkan jiwa-jiwa yang sebenaernya belum tentu ngerti apa itu emansipasi, atau bahkan mereka sama sekali tidak menghendakinya? Dan apa hubungannya emansipasi dengan duduk di bis? Yang harus saya lakukan saat itu adalah, cukup membalasnya dengan satu kalimat agar dia diam dan tidak melanjutkan dengan perdebatan gak penting yang dibarengi dengan kepegalan yang cukup membabibuta karena berdiri, saya jawab saja.

A: EMANSIPASI ITU DIKEHENDAKI BUKAN DIWARISKAN.

Maaf ya bu, bukannya saya ngomongin ibu, cuma saya mau ikut pendapat aja. Bukannya selama ini ibu gak pernah bilang kalo ibu mau bikin pergerakan emanispasi kan? Yang saya tahu ibu membangun sekolah untuk generasi perempuan saja kan? Ibu tidak pernah terang-terangan menyebut kata emansipasi. Jadi siapa sebenarnya yang mengaitkan kata emansipasi dengan ibu? Bukan salah ibu juga kan? Lalu siapa pencetus "KATA" emansipasi wanita? SIAPA? SIAPA? SIAPA?
Semoga ibu mendapat tempat yang layak di sisi Allah swt.

Saturday, June 4, 2011

DUA TIANG TUJUH LAYAR


Dua Tiang Tujuh Layar from Dimas Wisnuwardono on Vimeo.

The Trees & The Wild: CAPTURED

Someday in May, I got another project to catch The Trees & The Wild at Sabuga, Bandung. I was concentrating myself in capturing Remedy. But I also got Andra too. And Iga was standing too far. i actually had to be their bystander to catch him. Or maybe I need Iga to lift me up in taking those picts cause he's tall. hahaha

Remedy Waloni

Remedy Waloni

Remedy Waloni

Remedy Waloni
Remedy Waloni
Andra Kurniawan

I got a chance to send this pict to Andra, then he said "Wow, nice picture, thank you Arzia :D". Andra under the blue spotlight. Thanks for appreciating even these aren't good enough.
There are more left, if you wanna see em just see it on my facebook album.

Saturday, March 19, 2011

Thursday, March 17, 2011

"Setiap pikiranmu adalah hal yang nyata. Dan rahasia memberikan segala sesuatu yang kamu inginkan: Kebahagiaan, kesehatan, dan kekayaan"

-Bob Proctor via Frans Lengo Boro

Itulah kenapa saya dan Dina, selalu menganggap bahwa kami sedang berada dan menimba ilmu di tempat impian kami. Kami akan ada disana pada bulan Agustus 2012 nanti. Amiiin.

I had a bee in bonnet! And it's all about WASTING TIME DISEASE

I had a bee in bonnet! i dunno why xactly, but i thought it caused by .dyflqiuwabf. okay, i was thinkin of a break, a break from this wasting time activity. I'm kinda person who use my time properly. I can't stand with people who waste their time well. I'm not into that.
They're killin  my time anyway, I'd rather use my time to do something useful! Doing my assignment, thinkin about my big bang business with dina. Or concentrating myself in writing or other project THAN WAITING for such a wasting time matter. I'd love to wait, but when it breaks my priority, I'd better walk out!
I'm not living in a wealthy condition, i've gotta struggle. That's why i really don't like to waste my time.
I can tolerate people who waste their money, but for people who waste their time. oh okay!

Mngkin bagi orang yang gak ngerasain perjuangan, mereka bakal gampang aja buang2 waktu. Tapi buat gue, waktu itu bukan sekadar buat dinikmatin. Tapi buat dijalanin. Gue udah ngikiutin caranya Bong Chandra dimana gue menghitung harga waktu gue. Walaupun 1 jam waktu gue baru seharga 5000, tapi buat gue itu berharga banget. Selain gue orangnya gak sabaran, gue gak bisa buang2 waktu banyak. Bukannya gue sok sibuk, tapi buat gue waktu itu buat struggle. Gue juga mulai ngebiasain biar gak ngaret, atau gak nunggu lama. Maka bekerjasamalah dengan waktu.
Hidup bersama orang yang sering membuang2 waktu bikin waktu lo terbuang juga! RUBAH

Tuesday, February 15, 2011

I got my 1st negative film ( Cuci cetak film )

Saturday, 12nd February 2011.
Waktunya cuci cetak film pertama gue dalam hidup. Yea, I gathered with some of ma friends in a group, then we took some photos using SLR (Analog), that was totally different. The feeling, the mental, the contentedness, the pressure, the sensation. Extremely different!
Masuk ke proses cuci cetak, kita abisin dulu filmnya, terus kita keluarin tu film dari kamera, terus bawa tu film ke kamar gelap, inget yanga namanya kamar gelap gak boleh ada cahaya sedikitpun.
Di kamar gelap, kita keluarin isi filmnya buat dimasukin ke dalem rel. Proses "memasukkan" (jangan jorok) film ke dalem rel ini yang paling susah, masalahnya feeling lo main berat, kalo udah biasa mungkin akan jadi gampang, tapi buat super beginner kaya gue? Masukin rol flm ke dalem relnya ini bisa memakan waktu puluhan menit kalo feeling kita lagi gak hoki. Jangan lupa sebelum dimasukkin ke relnya, ujung film lo potong dulu buat di tes sama developer, biar kita tau berapa lama kita harus "ngocok" tu film.
Dan pada giliran ini, gue yang masukin rol film ke relnya, susahnya lagi kalo rol yang yang lo masukin ke rel kusut di tengah jalan padahal udah mau selesai, lo harus ngulang dari awal GONDOK kan?
Dan pada bagiannya lo harus masukin lagi rol itu ke jalur relnya ITU YANG PALING NGENES!
Dan film yang gue rolling pun kusut pada bagian akhirnya, dan GUE MALES NGULANG, jadi biarkanlah orang berkata apa.
Setelah itu kita masukin ke tube khusus yang kalo pas kita masukin cairan, cahaya gak bisa masuk, dengan alat itulah kami mengocok.
Oiya, sebelu dikocok, lo arus tau berapa lama waktu ngocoknya, caranya lo masukin potongan rol film tadi ke dalem cairan developer, sambil diitung berapa detik yg dibutuhin sampe tu film warnannya berubah jadi item.
Misalnya tu film berubah warna selama 30 detik, 30 dibagi 2 = 15, nah berarti lo ngocok tu film yg udah masuk ke rel selama 15menit. INGET DIUBAH JADI MENIT.
Lo kocok selama 15 menit pake cairan DEVELOPER gak boleh berenti, dan harus dengan ritme kocokan yang sama, kalo arahnya verikal, ya terus vertikal. Kalo udah selesai, lo buang developernya dan lo masuin air buat ngebersihin semua cairan developer yg nempel, trus lo buang airnya.
Biar gambarnya jadi tahan lama, langsung masukin cairan fixer, kocok dengan waktu yang sama juga sama kocokan sebelumnya, dan kalo udah, lo masukin air lagi buat ngbersihin fixernya.
Kalo udah gitu film kalian bisa dikeluarin dan bisa bertatap muka secara langsung dengan cahaya. Sebelum dicetak coba jemur dulu biar airnya agak kering, tapi gak usah di panas matahari juga, dalem ruangan juga cukup kok.
Kalo gitu SELAMAT YOUR NEGATIVE FILM HAS DONE!
Kalo negatif kalian mau dicetak jadi foto, kalian harus punya alat khusus, gue lupa namanya, tapi yang jelas alatnya itu memancarkan cahaya yang bisa bikin kertas foto bergambar.
Di alat itu ada fokus, zoom, dan cahaya merahnya. Caranya kalian pilih foto mana yg mau dicetak dari negatif film kalian, udah gitu, kalian masukin ke alat, simpen kertas foto di bawahnya. Kertas foto itu mirip preparat lah kalo di mikroskop. Udah gitu, sebelumnya lo test dulu fokus sama zoomnya, kalo udah pas oke tapi ingey masih pake cahaya merah ya.
Sebelum lo cetak, lo harus tau berapa detik tu kertas foto lo sianrin, caranya, lo gunting aja kertas foto, cobain pake kelipatan waktu, misalnya keliapatan 3, sebagian2 sambil yg laen ditutup, nah kalo udah misalanya lo bagi 5 bagian, berarti ada yg kesinarin 3detik, 6, 9, 12, 15 dari situ lo pilih warna mana yg paling mantep. Misalnya 9 detik, lo atur waktu di timernya 9 detik, yang secara otomatis bikin tu alat nyinarn kertas foto selama 9 detik.
Kalo udah lu tinggal taro kertas foto, set timer dan tunggu. Udah selesai, lo belom bisa gitu aja liat fotonya, lo masukin lagi ke developer, sambil lo usap2 yang alus yg lembut, kalo dia mulai rese karena gambarnya ga keluar juga, bar lo boleh udek2 deh sesuka hati lo sampe gambarnya keluar.
Jangan kelamaan juga, ntar foto lu butek. Ada saran nih dari senior gue, *kalo pas pencahayaan terlalu sebentar, lo bisa siasatin dengan ngucek2 tu foto lebih lama di developer.
Oiya, jangan sampe kertas foto lu kena cahaya ya, dan pas proses penyinaran atau pencetakan, lo cuma boleh ditemani lampu yang paling gede 5 watt dengan warna merah, jadi agak kaya anak remang-remang juga.
Kalo lo gambar udah keluar, lo masukin ke cairan fixer biar tu gambar makin awet, dan terakhir lo bisa jemur tu foto biar eksotis.
Yaudah deh jadi, capek gue.
Semoga bermanfaat ya

Friday, February 11, 2011

Just like your name "Remedy", You heal !!! Cause you're hot REMEDY WALONI !!!
- Arzia Tivany Wargadiredja

 is it you?
oh it's you!
photo by dimas wisnuwardana


Thursday, February 10, 2011

My Horror Birthday

10 Februari 2011, ultah gue yang ke 19. Ini pertama kalinya gue ulang tahun di Jatinangor. Sebenernya gak ada yang gue harapin banget banget selain beasiswa ke luar, cuma paling enggak hari ini gua bisa ngebersihin kamar abis-abisan, bisa puasa karena ini hari Kamis, dan paling enggak gua gak nyia-nyiain waktu gue.
Hari ini, gue udah janji mau buka puasa bareng sama sobat gue dina sonyah, tapi sebelumnya gue ke rumah tante gue dulu gembaliin helm. Magrib tepatnya gue pulang dari tempat tante gue, menuju ke tempat makan di daerah Ciseke, namanya Talijiwo. Tu tempat makan enak banget lah enak banget kalo menurut gue. Selesai makan dari sana, rencananya kita mau ngambil duit di ATM, soalnya dina mau bayar les bahasa. Karena jalan di Jatinangor tuh searah, kita mutusin ngambil di ATM IKOPIN, soalnya kalo di ATM Unpad, berarti harus muter lagi. Tapi kita gak jadi ngambil disitu soalnya pecahan 50ribu, dina ngambil duit lumayan banyak, jadi mutusin buat ngambil duit di Unpad yang ATMnya pecahan 100ribu.
Pas keluar dariATM IKOPIN, kita penasaran sama ikopin masuklah kita ke dalemnya dan ternyata gelap banget, kita ngukutin motor yang ada di depan kita, tapi ternyata motor itu makin lama makin ke dalem dan lumayan gelap, yaudah kita putusin buat puter balik.
Mauklah kita ke area Unpad, selesai ngambil duit di ATM centre, kita ngerasa kayanya asik juga ya jalan2 di sana, padahal masih jam 8 malem, yaudah pertama kita naek ke tanjakan cinta unpad, masuk ke tempat parkir fikom yang belakang, jalan lagi ke bale santika, dan memandang rektorat kita yang gagah yang masih dalam proses pembangunan. Dari bale, kita aslnya mau pulang lewat belakang fikom lagi yang emang jalannya terang, tapi sang rider yaitu dina sonyah malah ngebelokin ke arah jajaran fakultas geologi, jalannya gak gelap-gelap banget cuma emang sepi. Sepanjang jalan kita coba berposting-posting ria dengan sok2an ngeliat city of lights, tapi pas depan fakultas geologi yang jalannya agak turun, gue ngedenger suara sesuatu yang gue gak tau apaan, suaranya itu kaya suara orang ngusir ayam ato kucing, dan berasa deket banget di kuping gue, "sshhuuuhh ssshhuuuhh..!" gitu, dan temen gue dina, gak dengar sama sekali. Dari situ gue langsung nyuruh dina buat ngebut walopun pas turunan. Pas udah lewat belakang psikologi yang masih jajaran situ juga udah mulai agak tenang dan ada orang, kita mulai biasa lagi dan gue gak anggep apa2, turunlah kita lewat turunan unpad terus, dibawah turunan itu kan ada bunderan, kita mau belok ke kanan ke arah FKG, pas mau belok banget, gue denger lagi suara yang sama kaya yang gue denger di depan Geologi, seketika pas gue denger gue langsung teriak, dan motor yang kita tumpangin langsung oleng ampir jatoh, seketika itu pula motor mulai kerasa makin berat, dan ban belakangnya makn lama makin kempes. Depan fakultas kedokteran, kita turun dan mulai dorong motor sampe tambal ban yang ada di sebelah pos polisi deket Jatos! Lumayan jauh kan noh? Anehnya lagi pas kita mau ke pintu keluar kita lewat tanjakan arboretum yang deket danau, dan dina bilang dia denger suara yang ampir mirip sama yang gue denger di tanjakan arboretum itu.
Pas di tambal ban, abangnya bilang kalo bannya udah sobek, yaudahleh kita dorong lagi tu motor sampe kosan temen dina di ciseke, lumayan kan? Bsok mungkin kita cus ke dealer. Dan setelath gue pulang ke kosan, gue baru sadar kalo ini malem jumat kliwon, dan harusnya kira ngaji dan solat di kosan.
Kalo lo berharap ultah lo gak terlupakan coba deh maen2 ke unpad jatinangor.

Inspiring Nicoline Patricia Malina

Nicoline Patricia Malina was born in Surabaya, studied Fine Art in Utrecht, and currently shooting in Jakarta. Her photographic aesthetic is distinctive, rich colors and impeccable sense of details dominate the scene, combined with raw and cinematic black and white. From natural landscape to a tiny hotel rooms, she makes them all appear as if they are sets which have been specifically constructed for the shoot taking place.

CLIENTS
Editorial: Harper’s Bazaar, Elle, Amica, Esquire, Maxim, Cosmopolitan, Marie Claire
Commercial: JWT, McCann, Lowe, Bates, FAME74, Coca Cola, A Mild, WWF, Senayan City, Immigrant

AWARDS
"Iconique Societas Excellence in Fashion Photography", 2007
"Young Photographer of The Year", ELLE Style Awards 2009
"Photographer of The Year", A+ Scarlett Celebrity Fashion Awards, 2009

EXHIBITIONS
"Women On Top", Amica Presents Nicoline Patricia Malina Solo Exhibition, Senayan City Jakarta, 3-12 April 2009
"HotelHotel", Individualists Exhibition, Galeri Salihara Jakarta, 10 June 2009
"Paris Defile", Food & Fashion Week, The Ritz-Carlton, Jakarta, 6-14 July 2009
"BLIPFest: Imagemakers of The Future", Alila Ubud, Bali, October 2009
"Wonderland", Senayan City Fashion Nation and Sony Alpha Presents Nicoline Patricia Malina Solo Exhibition, Senayan City Jakarta, 28 April-9 May 2010

Catch her photos that I took from facebook.
Those are my favourites.









or just visit her website to catch up hers more nicolinepatricia or follow her diary nicolinepatricia's diary

Tuesday, February 8, 2011

Summer Vacation

Been always dreaming about going somewhere else and capturing the moment. My destination is USA. I don't know why do i love this country. Portugal is also my next destination in summer.
I'm gonna tell you what's my dream place to visit. Here ya go!

1. Achorage, Alaska, USA (Anchorage Skyline Evening)
Why? Because I really love the Anchorage Skyline Evening, I wanna go there in summer. You'll love this.

2. Grand Canyon, Arizona, USA (In May)
The best all-around periods are May and mid-September to mid-October. And, I'll choose May! Why cause you can see Snowy Grand Canyon in may, it could be 3 inches. I bet, you'll love that. But, remember the weather it may be hazardous.


 3. Azores, Portugal
The Archipelago of the Azores is composed of nine volcanic islands situated in the middle of the North Atlantic Ocean. The Portuguese Archipelago  is located about 1,500 km (930 mi) west from Lisbon and about 3,900 km (2,400 mi) east from the east coast of North America. (Wikipedia)
You must be love this archipelago, it's a tropical region in Portugal. GUESS! What do I love first from this place? It's the name. AZORES.

Friday, February 4, 2011

"Jika kau khawatir, kau mati. Jika tidak khawatir, kau juga mati. Jadi, buat apa khawatir?"


-Mike Horn

Monday, January 24, 2011

"Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari."

Sunday, January 23, 2011

Eastern Promise

Eastern Promise
Read this! Five new bands to watch by TIME MAGAZINE.
The Trees & The Wild on it !!!
The Trees and The Wild's songs should be played in a nocturnal rite of autumnal equinox in September. (Arzia Tivany)

Thursday, January 20, 2011

Lyric by request

My English teacher in high school asked me to make a lyric about emptiness or something? Maybe he just broke up with someone? IDK? but ya, Actually I'm not a kinda person who make a thematic lyric, but yesterday my brain thawed then i made a lyric titled THOSE TORMENTED FRENZIES. ya here ya go!!



THOSE TORMENTED FRENZIES

That was a windy and sizzling day
In a time when you saw
the bus and the way
Then suddenly you sent me a goodbye
on that quay
I long for your quizzical paranoia
When you were drinking
your Jamaican Coca Cola
And a plate of jerusalem artichoke
Simply set a single knock
I see those frozen signs
Without your nocturnal sighs
And a very simple silhouette
Bring all of the legless spates
And this solitary soul
Is growing well with no foul
Cause your passionate pull
Made me so fool


Tuesday, January 18, 2011

Sophia's Uncle

SOPHIA’S UNCLE

A hundred kisses for Sophia’s uncle

Singing this song in the end of December

Believing the truth that he’s so memorable

Been trying to ease those picts but I still remember

I crush on you!

I crush on you!

I crush on you Sophia’s uncle!

I saw your uncle on the rooftop

Playing guitar with no stop

And those frozen smiles

Made me so shy

Taught me to fly

And I walked by


I made a distinctive song for REMEDY WALONI, it's not really good, but I just want to show that I like his music. I can't even make any score for this lyric. When I was writing this lyric, I didn't expect anything, just wrote it. Thanks for being my inspiration hahaha. Sorry if there's still any grammatical error.

Monday, January 17, 2011

I Wear "Our Roots" from Monstore

I just wanna tell ya whats my most fave tee!
Yes here ya go The Trees & The Wild's tee from monstore
I just love wearing this tee, ultra comfort, and wearable everywhere.
The Trees & The Wild is my favourite band, so I bought the original one. Look at the printed art work, such a gorgeous one.
This tee named "Our Roots" took from TTATW's song.

i've worn this stuff for 4 days non-stop hahaha. I'm a bit shabby but wearing this stuff makes still OK! Haahaha.
Catch up this stuff at MONSTORE

AN UNFORTUNATE BABY

Once I heard cacophony

Cackling inside the melody

A baby boy lost symphony

Drowning with his own blackberry

Remember when he was born

His mother used her telephone

His daddy shouted on the phone

The doctor helped 'em all alone

He was born in the cadenza of December

His mother was afraid of calendar

The doctor looked like a cadaver

He looked oh so miserable

Saturday, January 15, 2011

Oouchh she's my model

Had a hectic photo session, @ trottoart





*All photos were taken by Arzia Tivany Wargadiredja using Canon EOS 40D
Those photos also can be seen by clicking she's my model !!

HUMAN INTEREST (They're honest!)

okay just finished my 1st semester. i had done a sensational photo session, and it caused by my dickens limited-time photography chore!
i just love taking human interest photos. they are honest! Gimme ur comment please so i'll make better ones.


A 5 year-old boy had been left by his mother. He lives with his grandma. His grandma, an old woman, a strong old woman who takes care of her 3 grandchildren

They are living with smiles. I couldn't say anything, i was speechless because they were smiling.

I took this photo in jalan braga, it used to be called as the most extravagant place in bandung, and see what? two children played their role as panhandlers. IRONIC! Look at the background AMERICAN FRANCHISE RULES!!

This photo titled "IRONESIA" an acronym of IRONISNYA INDONESIA. as i told u before AMERICAN FRANCHISE RULES!
Extra energy was needed! cause i was running along asia-africa street bandung while i was tryin to take this picture.



*All photos were taken by Arzia Halida Tivany Wargadiredja using Canon EOS 40D
those photos also can be seen by clicking  "Human Interest" by arziativany
There was an error in this gadget

Arzia Tivany Wargadiredja