Wednesday, February 18, 2015

Max Havelaar by Multatuli Book Review




"SEBAB kita bersukacita bukan karena memotong padi, kita bersukacita karena padi yang kita tanam sendiri." Itulah sepenggal kalimat yang terlontar dari mulut Max Havelaar dalam pidatonya yang ia sampaikan di depan persidangan di Lebak pada 1856. Melalui pidatonya tersebut, tersirat hasrat besar dirinya membebaskan Lebak yang begitu tandus dibekap rakus, dan masyarakatnya melarat tak bisa berbuat. Kisah ini kemudian dikemas kembali oleh penerbit Qanita, Mizan Pustaka, yang diterjemahkan kembali oleh Inggried Dwijani Nimpoeno, dan didiskusikan dalam OPMI Bedah Buku Max Havelaar di Freedom Institute, Jakarta, Sabtu (18/10) lalu.

Terjemahan versi Qanita, Mizan Pustaka, dianggap belum semenarik terjemahan pertamanya, yakni karya HB Jassin yang dinilai sangat cermat menempatkan intimasi dan penggambaran suasana berdasarkan waktu dengan kata `aku' dan `saya', tetapi novel terjemahan Inggried Dwijani Nimpoeno ini pun dinilai menarik dan tetap bisa menggambarkan pengaruhnya bagi pembaca. Salah satu pembahas yang hadir dalam bedah buku ini adalah pendiri taman bacaan Multatuli, Ubaidilah Muchtar. Menurutnya, kisah buku ini bukanlah roman semata. "Kisah ini bukan roman, ini adalah gugatan." tegasnya.

Bisa jadi perkataan Ubai benar, seperti yang banyak orang ketahui, buku ini memang berkisah tentang perlawanan seorang Asisten Residen Lebak yang dikisahkan bernama Max Havelaar. Max Havelaar menentang sistem kolonialisme yang telah diterapkan selama bertahun-tahun oleh Belanda. Tidak hanya vokal menentang sistem yang dibuat negaranya sendiri, Havelaar pun harus menyaksikan kesengsaraan masyarakat Lebak dari penindasan dan perampasan hak yang dilakukan pemimpin mereka sendiri yang menjadi cerminan feodalisme yang telah mengakar di Banten, bahkan di seluruh kawasan Hindia Belanda.

Multatuli, melalui penokohan dirinya sebagai Max Havelaar tetap bersikukuh pada pandangannya bahwa sistem tanam paksa harus segera diakhiri . Dia pun kerap memberikan kritik dan protesnya pada gubernur jenderal, tetapi usaha tersebut malah dianggap sebagai penghalang, dan itu menjadi penyebab dia dipindahkan ke Ngawi. Havelaar pun menolak, dan memilih untuk kembali ke Eropa, dan menuliskan kisahnya dalam sebuah buku berjudul asli Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij (1860). Sastra sekaligus autobiografi Roman ini dibingkai melalui be berapa jalinan cerita, mulai dari kisah yang dipaparkan Droogstoppel, seorang makelar kopi di Belanda yang chauvinis, kaku, dan menjemukan yang menjadi representasi bangsa kolonial. Cerita ini pun pada intinya menceritakan tentang kisah pribadi Multatuli yang diwakili oleh Max Havelaar selama menjadi pegawai pemerintah Belanda di Hindia Belanda. Ada pula kisah cinta tragis mengenai Saijah dan Adinda, yang menjadi korban penindasan dan keserakahan para feodal.

"Bisa dibilang, ini adalah autobiografi yang Multatuili tulis sendiri, tetapi keberadaannya sebagai karya sastra tetap diterima" jelas Ubaidilah. Karya ini tidak hanya mengentaskan sistem tanam paksa, tapi juga menjadi salah satu karya penting dalam dunia sastra, baik Belanda maupun Indonesia. Seperti diketahui se belumnya, Max Havelaar menjadi salah satu karya paling berpengaruh da lam kesusastraan Belanda pada sekitar abad ke-19, seperti yang pernah dise butkan Maritha Matijsen, seorang profesor sastra Belanda abad ke-19.

Namun, di sisi lain, mahakarya Multatuli ini pun memberikan pengaruh be sar bagi dunia sastra Indo nesia, "Karya ini berperan sebagai tonggak awal sastra Indonesia dengan fiksionalisasi potret sosial yang ada," jelas sejarawan UI Hilman Farid. Pada abad ke-19, di Indo nesia terdapat keterbatasan bentuk dalam sastra. Menurutnya, kritik-kritik yang disampaikan dalam roman ini memberikan napas bagi pencapaian tema Indonesia sebagai gagasan, sekaligus cita-cita yang harus direalisasikan.

Jika Pramoedya Ananta Toer menye butnya kisah yang membunuh kolo nialisme, sejatinya kalimat tersebut tak berlebihan. Bagi Hilmar, novel Max Havelaar berperan penting terhadap banyak perubahan yang terjadi. "Karya ini berhasil membongkar skandal yang selama berpuluh tahun dilihat tapi tak disadari," ungkapnya. Hilmar pun berpendapat, energi yang dimiliki oleh novel realisme memiliki kelebihan untuk menyampaikan kritik. "Kritik dalam bentuk novel bisa mengungkapkan cerita yang lebih mendalam dan bisa menciptakan perubahan dengan daya yang masif dan global," jelasnya.

Melalui karya ini, pembaca dibuat sadar bahwa kolonialisme akan senantiasa bergantung pada feodalisme."Kolonialisme itu ibaratnya parasit yang menempel pada feodalisme, tanpa feodalisme kolonialisme sulit untuk tumbuh," ungkap Hilmar. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam 46 bahasa di dunia. Buku ini pun diyakini sebagai penggerak perubahan berakhirnya sistem tanam paksa yang menyengsarakan rakyat pribumi di Hindia Belamda. Diawali dengan diberlakukannya Agrarische Wet atau Undang-Undang Agraria.

Kisah tentang kolonialisme dan feodalisme senantiasa relevan, dan keniscayaannya terbukti kini. Setelah 154 tahun sejak kelahiran buku ini, kisah antara rakyat dan penguasa Banten tak jauh berubah. Kisahnya tetap terwakili oleh dinasti era kini. "Mungkin seharusnya anggota DPR dan pemimpin di negeri ini harus baca Max Havelaar," singgung Ubai. Hingga kini, keadaan masyarakat Banten khususnya Lebak tak bisa dibilang jauh berbeda. "Di Lebak, tempat anak-anak Taman Bacaan Multatuli, listrik itu baru masuk 2 tahun terakhir," ungkap Ubai. Kondisi itu seharusnya tak terjadi mengingat Banten terletak di Pulau Jawa. Hal ini menjadi kontras jika dibandingkan dengan dinasti keluarga gubernur Banten yang seakan raja.

(Tulisan ini diterbitkan di Media Indonesia)
http://www.mediaindonesia.com/mipagi/read/5322/Mengilhami-Karya-Sastra-dan-Semangat-Kebangsaan/2014/10/26

Saturday, June 7, 2014

The Holi Spirit


Spring is celebrated throughout the world in many form of festivities. In Indian culture, as the vernal equinox marks the beginning of spring, people ignite the bonfires before the color war turns as revels.
In welcoming spring, The Indian Embassy in association with PT. Jaya Ancol, conducting an event, named “Colors of India”. The two-day festival represents the array of Indian cultural events completed by several attractive frolics from the artits trained by the Jawaharlal Nehru Indian Cultural Centre (JNICC). The night was filled with such powerful beats fusing with trembling motions of the Indian dancers.
The event was officially launced by the Indian Ambassador to Indonesia, ASEAN, and Timor Leste, on Friday March 21, while the event itself held for two nights.
First night was opened with the photo exhibition showing the strong bilateral relationship between the two countries, themed at “Six Decades of India and Indonesia Relationship”. The Indian Ambassador to Indonesia, ASEAN, and Timor Leste, Gurjit Singh made a remarks during the press conference aiming at enhancing the people-to-people contacts, targetting young Indonesians.
The exhibition took place at the North Art Space, Pasar Seni [Night Art Market] Ancol, Jakarta, capturing India-Indonesia relationship which dates back from time immemorial referring to both countries’ vibrant decades.
Besides the bilateral documentations, the exhibition was also depicting the illustrious bollywood movie industry by organizing a movie screening. While the second day filled with smearing and splashing color ritual.
“The colored powder are part of the celebration in welcoming spring, to show the colors of nature,” Indian Ambassador to Indonesia, ASEAN, and Timor Leste, Gurjit Singh told me on Friday right before the Grand Opening of the event.
Singh exuberantly explained that Holi festival was celebrated on the different day depending on the lunar calender, thereby the date changed every year.

On the day of holi festival, the entire sights filled with gulal and abeer that symbolize the hues of spring. Gulal is made of dyed flour, while abeer is the glittery paper that added into gulal to create lustrous shades to the color battle.
Several essential colors in holi tradition, represent different philosopical meanings. Red explains chastity, green is interpreted as vitality and energy. While composure and calmness is expressed through blue, and yellow shows piety.
These days, after holi festival is widely celebrated, the materials of gulal and abeer are sometimes dangerous. The colors that was extracted from natural coloring substances, such as flowers is now subtituted by the harmful chemical coloring matters. In fact, Indian enviornmental groups is striving to disseminate the awareness of using more natural way in commemorating holi.
“[Toxic chemicals that contained in gulal] can cause health problems, so we are applying with more organic colors, and less chemical colors. It is very eco-friendly,” Singh emphasized.
Besides celebrating holi festival with colors, he further said that in India people usually gather in a Summer Camp. “It is a big festival when we have a lot of fun a lot of jokes. So it is a big day we celebrate,” Singh added.
What lies beneath the rites

Too many historical sources, and different chimerical stories lies beneath the ancient Hindu religious festival. It is said that holi was initially started by igniting holika, known as the bonfire, was derived by the story of the legend of Holika and Prahlad.
It is believed, a demon king, Hiranyakashyap commanded everybody to worship him. On the contrary, his own son, Prahlad became an obidient devotee of Lord Naarayana. Prahlad was repetantly saved by the Lord Vishnu from trial for premeditated murder by his own father. After all such, Hiranyakashyap asked his sister that blessed with boon, Holika to kill Prahlad by carrying him into flaming fire. Holika didn’t realize that even she could escape from fire unscathed using her boon, she only could do that all alone.
While Holika was being razed by fire, Prahlad kept praying in the name of Lord Naarayana. His worship as an obidient devotee made his life saved. Thereby, ‘Holi’ brought from Holika which marks the triumph of good over evil.
Aside from the story of Holika, the colorful downpour and throwing hues ritual also has its own story. It was when the little Krishna –the eighth incarnation of Lord Vishnu in Hinduism- felt so jealous due to his dark complexion compared to his lover, Radha. While Krishna felt so dark and Radha was so fair. Krishna intended to put a prank on Radha using color, until both of them are looked alike. By that story, throwing colors during the festival can be seen as the expression of love.
In the famous Indian culture, devotion contributes huge role. Not only shown in its festival, but also applicated in other forms such as science that explains the enormously popular yoga.
“Yoga is the science of health and healing,” said Ravi Dixit, an experienced yoga guru. It is believed that Yoga, was nothing but life style. Ravi Dixit explained during a Yoga consultation session at the Night Art Market, that Yoga meant enjoying life in a balanced version.
He said that yoga was a package of science when body, mind, and emotion in total coordination. “Yoga takes care of your emotion, mind, andbody, and remember Yoga has nothing to do with any religion,” he added.
Yoga was formulated under the social and personal principles called “ashtanga” or “eight limbs of yoga”, concerning ethical and moral conduct. There are Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, and Samdhi.
“In short, Yoga means discipline, determination, and devotion as shown in the spirit of holi festival,” said Ravi Dixit.
A woman gets inked. Mehndi or Henna in Indian tradition is applied during special Hindu weddings and Hindu festivals used for women’s palm.

Sunday, December 8, 2013

Ekspedisi Kompas, Hidup Mati di Negeri Cincin Api - Ahmad Arif


Judul                     : Ekspedisi Kompas, Hidup Mati di Negeri Cincin Api
Penulis                   : Ahmad Arif
Penerbit                 : Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2013
Tebal                     : viii + 216 hlm;28 cm x 22 cm
ISBN                     : 978-979-709-679-3

Gagasan mengenai Indonesia mungkin sama sekali dianggap tak ada kaitannya dengan keajaiban morfologis yang dimiliki negeri yang ratusan tahun dijajah karena kekayaannya sendiri. Buku ini adalah sebuah entitas, dari konsep kelahiran, kepercayaan, pola hidup, kearifan lokal, kekayaan, kebinasaan suatu peradaban, hingga ramalan bagi calon penghuni “negeri mega-bencana” ini.

Secara tidak langsung, konsep negara kepulauan di ataslah yang membuat nama Indonesia tersebut muncul. Berawal dari sebutan seorang ahli etnografi yakni George Samuel Windsor Earl yang memberi nama khusus bagi masyarakat cabang ras Polinesia yang mendiami Kepulauan Hindia. Kemudian, nama Indonesia tidak digunakan lagi sampai akhirnya digunakan kembali oleh James Logan yang menggunakannya sebagai istilah geografis yang merujuk pada kata “Indian Archipelago”.1

Tabrakan dan pergeseran lempeng-lempeng besar inilah yang menghasilkan deretan kepulauan Indian Archipelago ini, yang sekaligus mendatangkan bonus utama, yaitu jajaran gunung api terbanyak dan teraktif di dunia. Hal ini pun menjadi konsekuensi logis bagi tanah yang subur, kekayaan hayati, pemineralan yang kaya dan khas, pengendapan sumber energi di bawah alas kaki, relief bumi yang rupawan, dan kehidupan di atasnya yang menakjubkan.

Tak heran jika beberapa abad sebelumnya, Prabu Jayabaya yang terkenal akan ramalannya telah menuliskan syair-syairnya yang dianggap relevan dengan kehidupan masa kini,
Banjir bandang ana ngendi-endi
Gunung njeblug tan anjarwani, tan angimpeni
Gehtinge kepathi-pati marang pandhita kang oleh pati geni
Marga wedi kapiyak wadine sapa sira sing sayekti 2

Konsep Ekspedisi Cincin Api sebelumnya jelas sudah ada, tapi tak sepopular saat ini. Bahkan ekspedisi mengenlilingi negeri cincin api telah diawali bangsa asing, ada Lorne dan Lawrence Blair yang melakukan ekspedisi keliling Nusantara selama 10 tahun dan dimulai sejak 1972. Pelayaran sejauh 2500 mil tersebut bermula dari jejak leluhur bangsa kulit putih yang mencari rempah-rempah dan burung Cendrawasih kuning-putih. Ekspedisi yang dibiayai oleh penabuh drum grup band kenamaan The Beatles, Ringo Starr ini bahkan dijadikan produk jurnalistik pula berupa acara televisi dengan judul “Ring of Fire”. 3

Ekspedisi dengan tema menelusuri cincin api pun kembali dilakukan, kali ini pribumi beraksi dalam “Ekspedisi Cincin Api Kompas” dan “Ring of Fire Adventure” yang digawangi pasukan keluarga Tanzil, dan dilakukan dalam jangka waktu yang hampir bersamaan. Ada satu hal yang dimiliki buku ini, sajian jurnalisme yang menampilkan kedalaman masalah tak hanya dari satu dimensi. Disebut-sebut menganut ciri ‘beyond journalism’, laporan ini berhasil menghantarkan Anugerah Tirto Adhi Soerjo atas pencapaian membanggakan di biddang jurnalistik.

Ekspedisi ini melibatkan para ilmuwan dari berbagai bidang, mulai dari geologi, arkeologi, botani, antropologi, bahasa, bahkan sejarah untuk mengungkap apa sisa-sisa yang telah terkubur untuk sekaligus memprediksi apa yang akan timbul. Namun, produk jurnalistik yang mengangkat tema cincin api bukanlah yang pertama kali. Buku ini seharusnya kembali berupaya untuk memunculkan sisi “ekspedisi”, dimana ekspedisi berarti yang pertama atau yang terbaru. Penonjolan hal tersebutlah terdengar kurang dari buku ini ,padahal kini buku mengenai ekspedisi cincin api lain sedang diproduksi, dan sajian televisi pun masih mengudara.

Memahami Negeri Sendiri
Sebanyak 127 gunung aktif hidup di Kepulauan Indonesia. Jumlah ini sekaligus menegaskan bahwa Indonesia memiliki jumlah gunung api terbanyak di dunia, sekaligus sebagai episentrum bagi 90 persen gempa di bumi, dan 81 persen di antaranya memiliki kekuatan yang terbesar di dunia. Dalam jangka waktu 1629 – 2012 tak kurang dari 117 tsunami terjadi. Belum lagi pemahaman yang keliru terhadap keadaan geografis sekitar, yang menyebabkan bancana ini menyebabkan banyak korban.

Banyak yang salah duga bahwa Kota Ternate yang selama ini ditinggali penduduk berada di kaki Gunung Gamalama yang jika diukur dari permukaan laut hanya setinggi 1715 meter. Nyatanya kaki gunung ini berada di bawah laut dengan ketinggian 3000 meter. Sejatinya, kota ternate berada di tubuh gunung tersebut.
Belum lagi Tambora, letusan dahsyat pada April 1815, mengeluarkan total volume 150 miliar meter kubik, mengacaukan angin monsoon, menyebabkan hujan berkepanjangan dan banjir di India, Pakistan, dan Bangladesh, kelaparan melanda Asia Selatan hingga Utara, menyebabkan 1816 sebagai tahun tanpa musim panas.

Krakatau pun berulah sama pada 1883. Pulau Danan dan Perbuatan pun hilang tenggelam, letusannya terdengar sejauh 4800 km hingga Mauritus, menjadi biang keladi tsunami raksasa yang menerjang Banten dan Lampung, dan menurut De Neve (1984) kekuatannya setara dengan 21.574 kali bom atom.

Belum lagi, fenomena mengerikan terbaru terjadi di Aceh, Minggu pagi 26 Desember 2004. Kerak bumi sebelah barat Aceh terangkat dan menggoyang area sekitarnya dengan kekuatan 9,3 Skala Richter. Faktanya, gempa bumi di Aceh inbi mengeluarkan daya lebih besar jika dibandingkan dengan seluruh gempa bumi di dunia yang terjadi dalam kurun 10 tahun sebelumnya. Miliaran ton air laut tersebut tumpah ke daratan sampai 9 kilometer dari bibir pantai, menewaskan ratusan ribu orang di 14 negara.

Namun dari sekian banyak bencana luar biasa yang terjadi di negeri ini, karena hal itulah mereka semakin terikat di jalur patahan bumi. Jika sebagian penduduk Amerika Serikat menghampiri bahaya dengan berbondong-bondong bermigrasi ke California dalam fenomena Gold Rush, yang nyatanya secara geologis merupakan salah satu wilayah tumbukan sesar berbahaya di dunia. Maka, rakyat Indonesia sudah dilahirkan di tempat semestinya, tempat penuh bahaya, yang memaksa masyarakat memahami sendiri segala bentuk fenomena alam dengan segala keterbatasan.

“Engel mon sao surito. Inang maso semon manoknop sao fano. Unen ne alek linon, fesang bakat ne mali. Manoknop sao hampung tibo-tibo maawi. Ede smong kahane, turiang da nenekta. Miredem teher ere fesan naïf-nafi da. Smong dumek-dumek mo…”4

Adalah Smong, pengetahuan yang diperoleh dari peristiwa gempa dan tsunami 1907. Kisah tersebut diwariskan secara lisan. Hal inilah yang membuat warga Simeulue lebih siap dengan kejadian tsunami. Buktinya, korban relatif sedikit yakni tujuh orang dari total penduduk 78.128 yang tinggal di pesisir pantai. Faktanya, gelombang tsunami yang menerjang Simeulue seperempat jam lebih cepat daripada di Meulaboh. Keterikatan antara manusia dan gunung pun menjadi sebuah pengabdian luar biasa bahkan untuk nyawa sekalipun.

Melalui buku inilah, pembaca dipaksa menyadari bahwa bahaya sesungguhnya dari menetap di negeri api ini penuh bahaya. Memaksa pembaca untuk meahami kebijakan sistem-sistem kepercayaan dan sosial yang dibentuk untuk melindungi anak-cucu yang belum hadir. Membuat terpacu membaca kembali sisi lain Indonesia tak hanya sekedar naskah di buku Geografi SMA yang menyatakan bahwa negeri ini terletak di antara dua benua dan dua samudera. Tapi membuat sejarah, sosiologi, dan antropologi menjadi menarik untuk dibaca kembali.

Disertai foto-foto jurnalistik yang menggugah mata, serangkaian ilustrasi yang mudah dimafhumi. Sekaligus gaya bahasa yang mengalir, kaya informasi. Penyampaian informasi dibuat layaknya berita khas yang dapat mengaduk emosi, seketika membuat bangga, sekaligus miris, dan kembali mengagumi hikayat negeri cincin api. Sudah selayaknya para penghuni negeri cincin api mengetahui bahaya besar yang ada di sekitar

Sumber dan Catatan Kaki
1. R. E. Elson, “The Idea of Indonesia”, Serambi. 2008. 3.n
2. Bait Terakhir Ramalan Jayabaya
3. L awrence Blair, Lorne Blair, Ring of Fire, Indonesia dalam Lingkaran Api. Ufuk Press. 2010. 1-2.n
4. Penggalan bait “smong”. Cerita lisan masyarakat Simeulue tentang tsunami 1833 dan 1907

Meraba Indonesia - Ahmad Yunus


Sebagian besar isi buku ini anehnya justru saya baca bukan di Indonesia. Memang, sesuatu akan lebih mudah dicintai dan dirindukan jika kaki ini jauh dari tanahnya. Ketika berminggu-minggu saya jauh dari rupanya, justru saya semankin ingat bahwa alasan saya membacanya sangatlah sederhana.

Mencintai Indonesia dengan sederhana. Itulah kalimat yang saya pelajari setelah membaca buku ini. kenapa dengan sederhana? Karena tanpa kesederhanaan, tanpa kepedulian, tanpa rasa kemanusiaan, dan tanpa keikhlasan mencintai apa adanya bukan ada apanya, mungkin sulit menemukan alasan bagi negeri ini untuk dicintai.

Kesederhanaan itu pula yang dihadirkan buku ini. Dengan gaya bahasa jurnalisme sastrawi yang mengalir dan hidup, saya banyak belajar dari perjalanan kedua “orang gila” yang mengelilingi Indonesia selama hampir setahun mengelilingi Indonesia hanya dengan mengendarai sepeda motor 100 cc bekas yang dimodifikasi.

Lewat kisah yang dibuat untuk mengagumi dan menyelami Indonesia sebagai negeri bahari ini, sukses menampilkan realita bahwa: Indonesia yang konon agraris itu ternyata payah di daratan, dan Indonesia yang konon maritim itu pun nyatanya tak jaya di lautan. Namun, justru dari realitas itulah pembaca akan dibuat sadar untuk menghargai setiap kristal garam yang dicecap yang diperoleh dari negeri sendiri. Mencintai Indonesia dari dekat.

Di satu sisi pembaca akan terpukau dengan kekayaan alam negeri, merasa diundang oleh serangkaian upacara adat. Namun, di sisi lain air mata tak terasa menggenangi pelupuk. Seiring mata memicing tumpah ruah isinya meliputi ironisnya kisah-kisah bahari negeri ini.


Buku ini sarana kontemplasi melihat negeri. Membacanya seperti lupa diri, lupa Jawa. Wajah asli Indonesia dibalut kesaksian ratusan wawancara dan referensi sejarah yang membuat khazanah pengetahuan bertambah. Ditulis oleh Ahmad Yunus dalam perjalanannya yang anehnya masih saja waras dengan realita yang ada, menarik kita ke masa lalu kemudian menyilahkan kita kembali ke realita, dan membuat kita menerawang masa depan kita, Indonesia.

Monday, October 21, 2013

Rumah di Sebelah Timur

Bukit Cinta, Labuan Bajo (Oleh Anisa Rahmawati)

Belum pernah saya menginjakkan kaki di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Namun, saya sadar separuh alur napas kehidupan masa kecil saya ditunjang di sini.
Awal dekade 90-an Ayah saya tinggal dan bertugas di Kabupaten yang kini mendadak diinvasi turis karena sensasi 7 wonders ini. Ayah selalu bercerita, lewat foto-fotonya di masa lalu pada saya, tentang bagaimana Ia tinggal dan bergabung menjadi seorang asli Kabupaten Manggarai, sekaligus menyambung napas keluarga di tanah Jawa. Melalui perjalanan pertama saya ke Flores, saya merasa "kembali".
Dua dekade berselang setelah Ayah lepas landas dari NTT, saya mewakili diri Ayah saya untuk menyaksikan diaspora pembangunan masyarakat Manggarai di tengah eksodus besar-besaran komoditas pariwisata domestik dan internasional ke  timur Indonesia.
Kini masyarakat Manggarai Barat yang berpusat di Labuan Bajo sedang gencar-gencarnya mempromosikan pariwisata mereka. Maklum saja, bisnis pariwisata sedang berada di puncak jayanya. Salah satunya adalah acara Sail Komodo 2013 yang puncak acaranya akan jatuh pada 14 September nanti, hanya selang 2 minggu dari kedatangan saya di  Labuan Bajo.
Phinisi, Labuan Bajo

Kata orang-orang akan datang ribuan kapal yang berlayar dari belasan negara dan beberapa wilayah di Indonesia, menggunakan kapal-kapal khas wilayah mereka masing-masing. Ketika saya pertama kali tiba di Labuan Bajo pun saya disambut ratusan phinisi mini yang bergaya di sekitar perairan Flores.
Kelak pada acara puncak nanti akan hadir banyak pejabat-pejabat negeri mulai dari staf-staf pemerintahan, menteri, Presiden, hingga pemimpin atau wakil diplomatis negara tetangga. Sempat terpikir, untuk tinggal sampai Sail Komodo 2013 selesai. Namun, apadaya kampus sudah memanggil-manggil. Tanggungjawab menanti di Jawa. Selain itu saya pun berpikir, sepertinya pergerakan akan susah sekali jika Sail Komodo tiba.
Pelabuhan dan penerbangan akan sangat penuh, penginapan pun bernasib sama. Harga-harga melambung? Jangan ditanya, hingga tebakan bahwa pada harinya nanti tak akan bisa kemana-mana dan berakhir diam.

Rumah Pak Viggo
J-Trip bersama keluarga Pak Viggo

Ya, saya betah di Labuan Bajo. Sangat betah. Bahkan saya punya mimpi, saya harus punya penginapan di sini. Terlalu banyak orang baik yang saya temui di Labuan Bajo, salah satunya keluarga Pak Viggo.
Kami, yang jumlahnya lebih dari selusin dan hampir sekodi ini diterima dengan sangat baik di rumah Pak Viggo. Beserta istri, dan dua anaknya George dan Jason kami merasa menemukan keluarga baru yang sangat menyenangkan.
Kedatangan pertama kami di rumah ini, kami disambut dengan pesta kecil-kecilan. Ikan kerapu bakar yang besar-besar dengan sambal dabu-dabunya yang pedas dan segar serta ratu penyambutan, sopi!
Pak Viggo pun memanggil beberapa kerabatnya untuk mengobrol dan meramaikan pesta. Lagu-lagu folk khas pesisir Labuan Bajo yang bagi orang awam seperti saya sekilas terdengar seperti lagu reggeae dicampur nada musik afro amerika membuat kami ingin bersantai di hammock tapi tetap bergoyang ala timur. Coba bayangkan bagaimana rasanya!
(Foto oleh Anisa Rahmawati)

Esok harinya kami diajak berjalan-jalan melihat sunset dari salah satu bukit yang ada di Labuan Bajo. Orang bilang namanya Bukit Cinta karena banyak orang berpacaran yang menyaksikan matahari tenggelam di sana.
Bukitnya tak terlalu tinggi, tetapi cukup untuk melihat pemandangan dari atas Labuan Bajo. Ke arah berlawanan dari tempat matahari tenggelam, kami bisa melihat bandar udara Labuan Bajo. Siap-siap saja bila di sini siang hari, pesawat terlihat terbang dengan rendahnya.
Sepanjang jalur menuju puncak bukit, terdiri dari savana. Rumput-rumput kering yang gatal dan sudah menguning. Benar-benar menyenangkan. Dari atas, titik-titik phinisi yang kemarin saya lihat begitu megah dan besar menghiasi tepi Labuan, diselingi bukit-bukit cantik. Saya sempat berpikir, kok mirip Raja Ampat ya gugusan bukitnya? Ya, walaupun cuma saya lihat dari foto saja.
Sebelum sunset benar-benar usai, kami meluncur menuju salah satu bar dan restoran yang punya view sunset Labuan Bajo tercantik. Saya sarankan ke Paradise Bar and Restaurant! Spot favorit saya adalah meja memanjang yang menghadap langsung ke lautan. Cantiknya keterlaluan.

Jika hendak minum-minum saja, harganya relatif terjangkau, sepadan dengan pemandangan yang disajikan, berkisar antara 9k-20k untuk minuman tak beralkohol, dan sekitar 30k-60k untuk minuman beralkohol. Untuk makanan rata-rata berkisar di atas 20k. Labuan Bajo, our sunset paradise!!!

Saturday, September 28, 2013

Arzia's Delusional Mixtape

It's quite hard for me to like a fresh-from-the-oven song. Liking always takes time. And these are the list of what I was thinking of, at the very first strike!


1.    (The Verve – Bittersweet Symphony)

It all started with blurry bulbs. I walked down the street seeing everyone not giving any fuck to the people around. They all were moving in normal motion and I was paralyzed in a plastic membrane…  I walked slower, getting slower, while they’re rapidly changing into other poses. I saw their pain slowly in their face, real face-to-face. Each of them. Their pain.


2.   (Lenny Kravitz – It Ain’t Over Till It’s Over)

Lenny Kravitz, he knows how to bring people’s mood up up up! No matter they’re in love or in pain. No matter they’re working hard or stuck in a jam. It ain’t over till it’s over. This song fits the mood of I-don’t-care-what-has-happened-I’m-still-alive-and-I’m-good-and- that’s-all. Au revoir!


3.   (Jagwar Ma – That Loneliness)



All set?  Riding a Harley with 70s goggle glass on head. Cropped jacket gently unveils my Darwin’s-human-evolution-tattoo at my back accompanied by an Archaeopteryx from the era of jura. Then I hit the break to have a little debauchery with the windswept creatures perched in a 1010 meters hill. Literally lonely!


4. (Theme Park – Jamaica)

I’m in a private island with nine or ten. Have a little drink or two. With blinks from head to toe. The girls singing in alto. And the guys who just got tattooed. Dancing in a line, inhale a snap of cocaine, and they said, “Oh well, we’re just fine”. 


5.   (New Navy – Zimbabwe)

I have told you what I feel everytime I listen to this song. It was described when I transcreated Herald's Go-getaway Mixtape. BONDI BEATS YO!



6. (The Libertines – What Katie Did)

Wondering, how could those libertines talking about a sweet sweet girl in a cruel cruel world? Just listen to this song!
  

7.  (Vampire Weekend – Holiday)


It’s funny! This song is funny. I’m laughing now when I’m typing. Yo know, It’s like I’m having a great time with my friends in my class to a camping ground dressed in pastels. Confettis, Eggs with breads toasted like Englishman does. And laugh!

   

There was an error in this gadget

Arzia Tivany Wargadiredja