Friday, March 15, 2013

Kolonialisme, Pulau Rempah, dan Jailolo dari Segelas Bandrek

Tulisan ini diikutkan dalam "Jailolo, I'm Coming!" Blog Contest yang diselenggarakan oleh Festival Teluk Jailolo dan Wego Indonesia


Bagi saya yang lahir dan besar di tanah Sunda, menyeruput minuman satu ini bukanlah hal baru, bukan pula hal yang mahal jika diukur dari segi materi. Namun, ada kebanggan dan prestise tersendiri di benak saya ketika mengenalkannya pada teman-teman saya ketika berkesempatan pergi ke Negara lain, bahwa pada masanya, inilah minuman termahal di dunia! Bandrek!
http://commons.wikimedia.org/wiki/File:A_time_for_a_cup_of_coffee.jpg
Menurut saya, makan, minum, atau melakukan apapun tak bisa diukur dari sensasi indrawi semata. Sadar atau tidak dalam tiap lumatan nasi kapau yang kita makan, ada hikayat yang melekat pada orang Minang hingga sekarang, hingga muncul pertanyaan, “Mengapa nasi Padang atau nasi Kapau ada dimana-mana?” Itulah di balik hikayat merantau! Tanpa disadari pula di balik rasa manis gudeg Yogya, tersimpan sejarah masakan khas Jawa yang manis, dimana terdapat banyak perkebunan tebu pada masanya. Termasuk ketika saya menghirup harumnya dan mencecap manis-pedasnya bandrek.
doc travel.detik.com/readfoto/2010/12/10/104126/1520973/1026/1/jailolo

Seruput bandrek di pagi atau malam hari semacam ritual kembali pada sejarah. Bahwa minuman yang dibuat dari pala, cengkeh, gula aren, dan lada hitam ini punya efek luar biasa pada lahirnya sejarah di dunia. Saya ingin sekali tiba-tiba ‘menghilang’ ke kampung halaman si rempah-rempah yang ‘bikin gara-gara’ dan gempar dunia, mulai dari ‘biang keladi’ tersesatnya Colombus ke Amerika Tengah hingga ditemukannya benua Amerika, lahirnya kolonialisme di Nusantara sampai ditukarnya Pulau penghasil rempah, yakni Pulau Run dengan salah satu pulau termodern di dunia, Manhattan!

Menikmati hal-hal sederhana seperti menikmati secangkir minuman rempah-rempah sambil bersantai di pinggir pantai menonton “Cabaret on the Sea” ala Jailolo, mencoba mengintip dasar laut Halmahera yang cantiknya luar biasa, sambil bercengkrama atau sekedar main kartu, berguling dan tertawa dengan warga sekitar adalah hal yang ingin saya lakukan di Jailolo.

Menuliskannya di blog, atau sekedar update di akun media sosial pribadi, atau akun komunitas traveling kampus yang saya kelola, atau sekedar berbagi cerita pada teman-teman di luar sana yang kurang beruntung, karena telat mengenal Jailolo. Festival kebudayaan yang rutin diadakan kampus saya tiap tahun pun bisa jadi opsi menarik mengenalkan Jailolo ke publik. Karena tiap tahun stand Provinsi Maluku siap siaga di depan kampus saya, Jl Dipatiukur, Bandung.

Jika benar harga pala, cengkeh, dan lada pada masanya lebih mahal dari emas, maka untuk 30 menit yang saya habiskan untuk menulis tulisan ini saya telah meminum minuman termahal di dunia.
Kalau saya ikut-ikutan Giles Milton dalam bukunya Nathaniel’s Nutmeg, maka saya akan bilang, “The island can be smelled before It can be seen”. Ah, Indonesia kamu itu ya….. kaya! Jailolo… I’m coming!

3 comments:

  1. Wah, saya juga suka bandrek hehe. Tulisannya bagus sekali teteh, semoga beruntung ya. Salam dari Bandung selatan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah salam kenal juga, makasih banyak :). Di Bandung juga? Salam juga dari Jatinangor (merepet Bandung)

      Delete

Arzia Tivany Wargadiredja