![]() |
| MORAL.ASIA |
Saturday, June 7, 2014
The Holi Spirit
Spring is celebrated throughout the world
in many form of festivities. In Indian culture, as the vernal equinox marks the
beginning of spring, people ignite the bonfires before the color war turns as
revels.
In welcoming spring, The Indian Embassy in
association with PT. Jaya Ancol, conducting an event, named “Colors of India”.
The two-day festival represents the array of Indian cultural events completed
by several attractive frolics from the artits trained by the Jawaharlal Nehru
Indian Cultural Centre (JNICC). The night was filled with such powerful beats
fusing with trembling motions of the Indian dancers.
The event was officially launced by the
Indian Ambassador to Indonesia, ASEAN, and Timor Leste, on Friday March 21,
while the event itself held for two nights.
First night was opened with the photo
exhibition showing the strong bilateral relationship between the two countries,
themed at “Six Decades of India and Indonesia Relationship”. The Indian
Ambassador to Indonesia, ASEAN, and Timor Leste, Gurjit Singh made a remarks
during the press conference aiming at enhancing the people-to-people contacts,
targetting young Indonesians.
The exhibition took place at the North Art
Space, Pasar Seni [Night Art Market] Ancol, Jakarta, capturing India-Indonesia
relationship which dates back from time immemorial referring to both countries’
vibrant decades.
Besides the bilateral documentations, the
exhibition was also depicting the illustrious bollywood movie industry by
organizing a movie screening. While the second day filled with smearing and
splashing color ritual.
“The colored powder are part of the
celebration in welcoming spring, to show the colors of nature,” Indian
Ambassador to Indonesia, ASEAN, and Timor Leste, Gurjit Singh told me on Friday right before the Grand Opening of the event.
Singh exuberantly explained that Holi
festival was celebrated on the different day depending on the lunar calender,
thereby the date changed every year.
On the day of holi festival, the entire
sights filled with gulal and abeer that symbolize the hues of spring. Gulal is
made of dyed flour, while abeer is the glittery paper that added into gulal to
create lustrous shades to the color battle.
Several essential colors in holi
tradition, represent different philosopical meanings. Red explains chastity,
green is interpreted as vitality and energy. While composure and calmness is
expressed through blue, and yellow shows piety.
These days, after holi festival is widely
celebrated, the materials of gulal and abeer are sometimes dangerous. The colors
that was extracted from natural coloring substances, such as flowers is now
subtituted by the harmful chemical coloring matters. In fact, Indian enviornmental
groups is striving to disseminate the awareness of using more natural way in
commemorating holi.
“[Toxic chemicals that contained in gulal]
can cause health problems, so we are applying with more organic colors, and
less chemical colors. It is very eco-friendly,” Singh emphasized.
Besides celebrating holi festival with
colors, he further said that in India people usually gather in a Summer Camp.
“It is a big festival when we have a lot of fun a lot of jokes. So it is a big
day we celebrate,” Singh added.
What
lies beneath the rites
Too many historical sources, and different
chimerical stories lies beneath the ancient Hindu religious festival. It is
said that holi was initially started by igniting holika, known as the bonfire,
was derived by the story of the legend of Holika and Prahlad.
It is believed, a demon king,
Hiranyakashyap commanded everybody to worship him. On the contrary, his own
son, Prahlad became an obidient devotee of Lord Naarayana. Prahlad was
repetantly saved by the Lord Vishnu from trial for premeditated murder by his
own father. After all such, Hiranyakashyap asked his sister that blessed with
boon, Holika to kill Prahlad by carrying him into flaming fire. Holika didn’t
realize that even she could escape from fire unscathed using her boon, she only
could do that all alone.
While Holika was being razed by fire,
Prahlad kept praying in the name of Lord Naarayana. His worship as an obidient
devotee made his life saved. Thereby, ‘Holi’ brought from Holika which marks
the triumph of good over evil.
Aside from the story of Holika, the colorful
downpour and throwing hues ritual also has its own story. It was when the
little Krishna –the eighth incarnation of Lord Vishnu in Hinduism- felt so
jealous due to his dark complexion compared to his lover, Radha. While Krishna
felt so dark and Radha was so fair. Krishna intended to put a prank on Radha
using color, until both of them are looked alike. By that story, throwing
colors during the festival can be seen as the expression of love.
In the famous Indian culture, devotion
contributes huge role. Not only shown in its festival, but also applicated in
other forms such as science that explains the enormously popular yoga.
“Yoga is the science of health and
healing,” said Ravi Dixit, an experienced yoga guru. It is believed that Yoga,
was nothing but life style. Ravi Dixit explained during a Yoga consultation
session at the Night Art Market, that Yoga meant enjoying life in a balanced
version.
He said that yoga was a package of science
when body, mind, and emotion in total coordination. “Yoga takes care of your
emotion, mind, andbody, and remember Yoga has nothing to do with any religion,”
he added.
Yoga was formulated under the social and
personal principles called “ashtanga” or “eight limbs of yoga”, concerning
ethical and moral conduct. There are Yama, Niyama, Asana, Pranayama,
Pratyahara, Dharana, Dhyana, and Samdhi.
“In short, Yoga means discipline,
determination, and devotion as shown in the spirit of holi festival,” said Ravi
Dixit.
A woman gets inked. Mehndi or Henna in Indian tradition is applied during
special Hindu weddings and Hindu festivals used for women’s palm.
Sunday, December 8, 2013
Ekspedisi Kompas, Hidup Mati di Negeri Cincin Api - Ahmad Arif
Judul : Ekspedisi Kompas, Hidup
Mati di Negeri Cincin Api
Penulis : Ahmad Arif
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta,
2013
Tebal : viii + 216 hlm;28 cm x 22
cm
ISBN : 978-979-709-679-3
Gagasan mengenai
Indonesia mungkin sama sekali dianggap tak ada kaitannya dengan keajaiban
morfologis yang dimiliki negeri yang ratusan tahun dijajah karena kekayaannya
sendiri. Buku ini adalah sebuah entitas, dari konsep kelahiran, kepercayaan,
pola hidup, kearifan lokal, kekayaan, kebinasaan suatu peradaban, hingga
ramalan bagi calon penghuni “negeri mega-bencana” ini.
Secara tidak
langsung, konsep negara kepulauan di ataslah yang membuat nama Indonesia
tersebut muncul. Berawal dari sebutan seorang ahli etnografi yakni George
Samuel Windsor Earl yang memberi nama khusus bagi masyarakat cabang ras
Polinesia yang mendiami Kepulauan Hindia. Kemudian, nama Indonesia tidak
digunakan lagi sampai akhirnya digunakan kembali oleh James Logan yang
menggunakannya sebagai istilah geografis yang merujuk pada kata “Indian
Archipelago”.1
Tabrakan dan
pergeseran lempeng-lempeng besar inilah yang menghasilkan deretan kepulauan
Indian Archipelago ini, yang sekaligus mendatangkan bonus utama, yaitu jajaran
gunung api terbanyak dan teraktif di dunia. Hal ini pun menjadi konsekuensi
logis bagi tanah yang subur, kekayaan hayati, pemineralan yang kaya dan khas,
pengendapan sumber energi di bawah alas kaki, relief bumi yang rupawan, dan
kehidupan di atasnya yang menakjubkan.
Tak heran jika
beberapa abad sebelumnya, Prabu Jayabaya yang terkenal akan ramalannya telah
menuliskan syair-syairnya yang dianggap relevan dengan kehidupan masa kini,
Banjir
bandang ana ngendi-endi
Gunung
njeblug tan anjarwani, tan angimpeni
Gehtinge
kepathi-pati marang pandhita kang oleh pati geni
Marga
wedi kapiyak wadine sapa sira sing sayekti 2
Konsep Ekspedisi
Cincin Api sebelumnya jelas sudah ada, tapi tak sepopular saat ini. Bahkan
ekspedisi mengenlilingi negeri cincin api telah diawali bangsa asing, ada
Lorne dan Lawrence Blair yang melakukan ekspedisi keliling Nusantara selama 10
tahun dan dimulai sejak 1972. Pelayaran sejauh 2500 mil tersebut bermula dari
jejak leluhur bangsa kulit putih yang mencari rempah-rempah dan burung
Cendrawasih kuning-putih. Ekspedisi yang dibiayai oleh penabuh drum grup band
kenamaan The Beatles, Ringo Starr ini bahkan dijadikan produk jurnalistik pula
berupa acara televisi dengan judul “Ring of Fire”. 3
Ekspedisi dengan
tema menelusuri cincin api pun kembali dilakukan, kali ini pribumi beraksi
dalam “Ekspedisi Cincin Api Kompas” dan “Ring of Fire Adventure” yang digawangi
pasukan keluarga Tanzil, dan dilakukan dalam jangka waktu yang hampir bersamaan. Ada satu hal yang
dimiliki buku ini, sajian jurnalisme yang menampilkan kedalaman masalah tak
hanya dari satu dimensi. Disebut-sebut menganut ciri ‘beyond journalism’,
laporan ini berhasil menghantarkan Anugerah Tirto Adhi Soerjo atas pencapaian
membanggakan di biddang jurnalistik.
Ekspedisi ini
melibatkan para ilmuwan dari berbagai bidang, mulai dari geologi, arkeologi,
botani, antropologi, bahasa, bahkan sejarah untuk mengungkap apa sisa-sisa yang
telah terkubur untuk sekaligus memprediksi apa yang akan timbul. Namun, produk
jurnalistik yang mengangkat tema cincin api bukanlah yang pertama kali. Buku
ini seharusnya kembali berupaya untuk memunculkan sisi “ekspedisi”, dimana
ekspedisi berarti yang pertama atau yang terbaru. Penonjolan hal tersebutlah terdengar kurang dari buku ini ,padahal kini buku mengenai ekspedisi cincin api lain
sedang diproduksi, dan sajian televisi pun masih mengudara.
Memahami Negeri Sendiri
Sebanyak 127
gunung aktif hidup di Kepulauan Indonesia. Jumlah ini sekaligus menegaskan
bahwa Indonesia memiliki jumlah gunung api terbanyak di dunia, sekaligus
sebagai episentrum bagi 90 persen gempa di bumi, dan 81 persen di antaranya
memiliki kekuatan yang terbesar di dunia. Dalam jangka waktu 1629 – 2012 tak
kurang dari 117 tsunami terjadi. Belum lagi pemahaman yang keliru terhadap
keadaan geografis sekitar, yang menyebabkan bancana ini menyebabkan banyak
korban.
Banyak yang
salah duga bahwa Kota Ternate yang selama ini ditinggali penduduk berada di
kaki Gunung Gamalama yang jika diukur dari permukaan laut hanya setinggi 1715
meter. Nyatanya kaki gunung ini berada di bawah laut dengan ketinggian 3000
meter. Sejatinya, kota ternate berada di tubuh gunung tersebut.
Belum lagi
Tambora, letusan dahsyat pada April 1815, mengeluarkan total volume 150 miliar
meter kubik, mengacaukan angin monsoon, menyebabkan hujan berkepanjangan dan
banjir di India, Pakistan, dan Bangladesh, kelaparan melanda Asia Selatan
hingga Utara, menyebabkan 1816 sebagai tahun tanpa musim panas.
Krakatau pun
berulah sama pada 1883. Pulau Danan dan Perbuatan pun hilang tenggelam,
letusannya terdengar sejauh 4800 km hingga Mauritus, menjadi biang keladi
tsunami raksasa yang menerjang Banten dan Lampung, dan menurut De Neve (1984)
kekuatannya setara dengan 21.574 kali bom atom.
Belum lagi,
fenomena mengerikan terbaru terjadi di Aceh, Minggu pagi 26 Desember 2004.
Kerak bumi sebelah barat Aceh terangkat dan menggoyang area sekitarnya dengan
kekuatan 9,3 Skala Richter. Faktanya, gempa bumi di Aceh inbi mengeluarkan daya
lebih besar jika dibandingkan dengan seluruh gempa bumi di dunia yang terjadi
dalam kurun 10 tahun sebelumnya. Miliaran ton air laut tersebut tumpah ke
daratan sampai 9 kilometer dari bibir pantai, menewaskan ratusan ribu orang di
14 negara.
Namun dari
sekian banyak bencana luar biasa yang terjadi di negeri ini, karena hal itulah
mereka semakin terikat di jalur patahan bumi. Jika sebagian penduduk Amerika Serikat menghampiri bahaya dengan berbondong-bondong bermigrasi ke California dalam fenomena Gold Rush, yang
nyatanya secara geologis merupakan salah satu wilayah tumbukan sesar berbahaya
di dunia. Maka, rakyat Indonesia sudah dilahirkan di tempat semestinya, tempat
penuh bahaya, yang memaksa masyarakat memahami sendiri segala bentuk fenomena
alam dengan segala keterbatasan.
“Engel mon sao surito. Inang maso semon
manoknop sao fano. Unen ne alek linon, fesang bakat ne mali. Manoknop sao
hampung tibo-tibo maawi. Ede smong kahane, turiang da nenekta. Miredem teher
ere fesan naïf-nafi da. Smong dumek-dumek mo…”4
Adalah Smong,
pengetahuan yang diperoleh dari peristiwa gempa dan tsunami 1907. Kisah
tersebut diwariskan secara lisan. Hal inilah yang membuat warga Simeulue lebih
siap dengan kejadian tsunami. Buktinya, korban relatif sedikit yakni tujuh
orang dari total penduduk 78.128 yang tinggal di pesisir pantai. Faktanya,
gelombang tsunami yang menerjang Simeulue seperempat jam lebih cepat daripada
di Meulaboh. Keterikatan antara manusia dan gunung pun menjadi sebuah
pengabdian luar biasa bahkan untuk nyawa sekalipun.
Melalui buku
inilah, pembaca dipaksa menyadari bahwa bahaya sesungguhnya dari menetap di
negeri api ini penuh bahaya. Memaksa pembaca untuk meahami kebijakan
sistem-sistem kepercayaan dan sosial yang dibentuk untuk melindungi anak-cucu
yang belum hadir. Membuat terpacu membaca kembali sisi lain Indonesia tak hanya
sekedar naskah di buku Geografi SMA yang menyatakan bahwa negeri ini terletak
di antara dua benua dan dua samudera. Tapi membuat sejarah, sosiologi, dan
antropologi menjadi menarik untuk dibaca kembali.
Disertai
foto-foto jurnalistik yang menggugah mata, serangkaian ilustrasi yang mudah
dimafhumi. Sekaligus gaya bahasa yang mengalir, kaya informasi. Penyampaian
informasi dibuat layaknya berita khas yang dapat mengaduk emosi, seketika
membuat bangga, sekaligus miris, dan kembali mengagumi hikayat negeri cincin
api. Sudah selayaknya para penghuni negeri cincin api mengetahui bahaya besar yang
ada di sekitar
Sumber dan Catatan Kaki
1. R. E. Elson, “The Idea of Indonesia”, Serambi.
2008. 3.n
2. Bait Terakhir Ramalan Jayabaya
3. L awrence Blair, Lorne Blair, Ring of Fire,
Indonesia dalam Lingkaran Api. Ufuk Press. 2010. 1-2.n
4. Penggalan bait “smong”. Cerita lisan masyarakat
Simeulue tentang tsunami 1833 dan 1907
Meraba Indonesia - Ahmad Yunus
Sebagian besar isi buku ini anehnya justru saya baca bukan di Indonesia. Memang, sesuatu akan lebih mudah dicintai dan dirindukan jika kaki ini jauh dari tanahnya. Ketika berminggu-minggu saya jauh dari rupanya, justru saya semankin ingat bahwa alasan saya membacanya sangatlah sederhana.
Mencintai Indonesia dengan sederhana. Itulah kalimat yang
saya pelajari setelah membaca buku ini. kenapa dengan sederhana? Karena tanpa
kesederhanaan, tanpa kepedulian, tanpa rasa kemanusiaan, dan tanpa keikhlasan mencintai apa adanya bukan ada apanya, mungkin sulit menemukan
alasan bagi negeri ini untuk dicintai.
Kesederhanaan itu pula yang dihadirkan buku ini. Dengan gaya
bahasa jurnalisme sastrawi yang mengalir dan hidup, saya banyak belajar dari
perjalanan kedua “orang gila” yang mengelilingi Indonesia selama hampir setahun
mengelilingi Indonesia hanya dengan mengendarai sepeda motor 100 cc bekas yang
dimodifikasi.
Lewat kisah yang dibuat untuk mengagumi dan menyelami
Indonesia sebagai negeri bahari ini, sukses menampilkan realita bahwa:
Indonesia yang konon agraris itu ternyata payah di daratan, dan Indonesia yang
konon maritim itu pun nyatanya tak jaya di lautan. Namun, justru dari realitas
itulah pembaca akan dibuat sadar untuk menghargai setiap kristal garam yang
dicecap yang diperoleh dari negeri sendiri. Mencintai Indonesia dari dekat.
Di satu sisi pembaca akan terpukau dengan kekayaan alam negeri,
merasa diundang oleh serangkaian upacara adat. Namun, di sisi lain air mata tak
terasa menggenangi pelupuk. Seiring mata memicing tumpah ruah isinya meliputi
ironisnya kisah-kisah bahari negeri ini.
Buku ini sarana kontemplasi melihat negeri. Membacanya
seperti lupa diri, lupa Jawa. Wajah asli Indonesia dibalut kesaksian ratusan
wawancara dan referensi sejarah yang membuat khazanah pengetahuan bertambah.
Ditulis oleh Ahmad Yunus dalam perjalanannya yang anehnya masih saja waras
dengan realita yang ada, menarik kita ke masa lalu kemudian menyilahkan kita
kembali ke realita, dan membuat kita menerawang masa depan kita, Indonesia.
Monday, October 21, 2013
Rumah di Sebelah Timur
| Bukit Cinta, Labuan Bajo (Oleh Anisa Rahmawati) |
Belum pernah
saya menginjakkan kaki di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Namun,
saya sadar separuh alur napas kehidupan masa kecil saya ditunjang di sini.
Awal dekade
90-an Ayah saya tinggal dan bertugas di Kabupaten yang kini mendadak diinvasi
turis karena sensasi 7 wonders ini. Ayah selalu bercerita, lewat foto-fotonya
di masa lalu pada saya, tentang bagaimana Ia tinggal dan bergabung menjadi
seorang asli Kabupaten Manggarai, sekaligus menyambung napas keluarga di
tanah Jawa. Melalui perjalanan pertama saya ke Flores, saya merasa
"kembali".
Dua dekade
berselang setelah Ayah lepas landas dari NTT, saya mewakili diri
Ayah saya untuk menyaksikan diaspora pembangunan masyarakat Manggarai di tengah
eksodus besar-besaran komoditas pariwisata domestik dan internasional ke timur Indonesia.
Kini masyarakat
Manggarai Barat yang berpusat di Labuan Bajo sedang gencar-gencarnya
mempromosikan pariwisata mereka. Maklum saja, bisnis pariwisata sedang berada
di puncak jayanya. Salah satunya adalah acara Sail Komodo 2013 yang puncak
acaranya akan jatuh pada 14 September nanti, hanya selang 2 minggu dari
kedatangan saya di Labuan Bajo.
| Phinisi, Labuan Bajo |
Kata orang-orang
akan datang ribuan kapal yang berlayar dari belasan negara dan beberapa
wilayah di Indonesia, menggunakan kapal-kapal khas wilayah mereka
masing-masing. Ketika saya pertama kali tiba di Labuan Bajo pun saya disambut
ratusan phinisi mini yang bergaya di sekitar perairan Flores.
Kelak pada acara
puncak nanti akan hadir banyak pejabat-pejabat negeri mulai dari staf-staf
pemerintahan, menteri, Presiden, hingga pemimpin atau wakil diplomatis negara
tetangga. Sempat terpikir, untuk tinggal sampai Sail Komodo 2013 selesai.
Namun, apadaya kampus sudah memanggil-manggil. Tanggungjawab menanti di Jawa.
Selain itu saya pun berpikir, sepertinya pergerakan akan susah sekali jika Sail
Komodo tiba.
Pelabuhan dan
penerbangan akan sangat penuh, penginapan pun bernasib sama. Harga-harga
melambung? Jangan ditanya, hingga tebakan bahwa pada harinya nanti tak akan
bisa kemana-mana dan berakhir diam.
Rumah Pak Viggo
| J-Trip bersama keluarga Pak Viggo |
Ya, saya betah
di Labuan Bajo. Sangat betah. Bahkan saya punya mimpi, saya harus punya
penginapan di sini. Terlalu banyak orang baik yang saya temui di Labuan Bajo,
salah satunya keluarga Pak Viggo.
Kami, yang
jumlahnya lebih dari selusin dan hampir sekodi ini diterima dengan sangat baik
di rumah Pak Viggo. Beserta istri, dan dua anaknya George dan Jason kami merasa
menemukan keluarga baru yang sangat menyenangkan.
Kedatangan
pertama kami di rumah ini, kami disambut dengan pesta kecil-kecilan. Ikan
kerapu bakar yang besar-besar dengan sambal dabu-dabunya yang pedas dan segar
serta ratu penyambutan, sopi!
Pak Viggo pun
memanggil beberapa kerabatnya untuk mengobrol dan meramaikan pesta. Lagu-lagu
folk khas pesisir Labuan Bajo yang bagi orang awam seperti saya sekilas
terdengar seperti lagu reggeae dicampur nada musik afro amerika membuat kami
ingin bersantai di hammock tapi tetap bergoyang ala timur. Coba bayangkan
bagaimana rasanya!
| (Foto oleh Anisa Rahmawati) |
Esok harinya
kami diajak berjalan-jalan melihat sunset dari salah satu bukit yang ada di
Labuan Bajo. Orang bilang namanya Bukit Cinta karena banyak orang berpacaran
yang menyaksikan matahari tenggelam di sana.
Bukitnya tak
terlalu tinggi, tetapi cukup untuk melihat pemandangan dari atas Labuan Bajo.
Ke arah berlawanan dari tempat matahari tenggelam, kami bisa melihat bandar udara
Labuan Bajo. Siap-siap saja bila di sini siang hari, pesawat terlihat terbang dengan rendahnya.
Sepanjang jalur
menuju puncak bukit, terdiri dari savana. Rumput-rumput kering yang gatal dan
sudah menguning. Benar-benar menyenangkan. Dari atas, titik-titik phinisi yang
kemarin saya lihat begitu megah dan besar menghiasi tepi Labuan, diselingi
bukit-bukit cantik. Saya sempat berpikir, kok mirip Raja Ampat ya gugusan
bukitnya? Ya, walaupun cuma saya lihat dari foto saja.
Sebelum sunset
benar-benar usai, kami meluncur menuju salah satu bar dan restoran yang punya
view sunset Labuan Bajo tercantik. Saya sarankan ke Paradise Bar and
Restaurant! Spot favorit saya adalah meja memanjang yang menghadap langsung ke
lautan. Cantiknya keterlaluan.
Jika hendak
minum-minum saja, harganya relatif terjangkau, sepadan dengan pemandangan yang
disajikan, berkisar antara 9k-20k untuk minuman tak beralkohol, dan sekitar
30k-60k untuk minuman beralkohol. Untuk makanan rata-rata berkisar di atas 20k.
Labuan Bajo, our sunset paradise!!!
Saturday, September 28, 2013
Arzia's Delusional Mixtape
It's quite hard for me to like a fresh-from-the-oven song. Liking always takes time. And these are the list of what I was thinking of, at the very first strike!
1. (The Verve – Bittersweet Symphony)
It all started with blurry bulbs. I walked down the
street seeing everyone not giving any fuck to the people around. They all were
moving in normal motion and I was paralyzed in a plastic membrane… I walked slower, getting slower, while they’re
rapidly changing into other poses. I saw their pain slowly in their face, real
face-to-face. Each of them. Their pain.
2.
(Lenny Kravitz – It Ain’t Over Till It’s Over)
Lenny Kravitz,
he knows how to bring people’s mood up up up! No matter they’re in love or in
pain. No matter they’re working hard or stuck in a jam. It ain’t over till it’s
over. This song fits the mood of
I-don’t-care-what-has-happened-I’m-still-alive-and-I’m-good-and- that’s-all. Au
revoir!
3.
(Jagwar Ma – That Loneliness)
All set?
Riding a Harley with 70s goggle glass on head. Cropped jacket gently
unveils my Darwin’s-human-evolution-tattoo at my back accompanied by an Archaeopteryx from the era of jura. Then I hit
the break to have a little debauchery with the windswept creatures perched in a
1010 meters hill. Literally lonely!
4.
(Theme Park – Jamaica)
I’m
in a private island with nine or ten. Have a little drink or two. With blinks
from head to toe. The girls singing in alto. And the guys who just got
tattooed. Dancing in a line, inhale a snap of cocaine, and they said, “Oh
well, we’re just fine”.
5.
(New Navy – Zimbabwe)
I
have told you what I feel everytime I listen to this song. It was described
when I transcreated Herald's Go-getaway Mixtape. BONDI BEATS YO!
6. (The Libertines – What Katie Did)
Wondering, how could those libertines talking about a
sweet sweet girl in a cruel cruel world? Just listen to this song!
7. (Vampire Weekend – Holiday)
It’s funny! This song is funny. I’m laughing now when
I’m typing. Yo know, It’s like I’m having a great time with my friends in my
class to a camping ground dressed in pastels. Confettis, Eggs with breads
toasted like Englishman does. And laugh!
Subscribe to:
Posts (Atom)




