Friday, March 15, 2013

Kolonialisme, Pulau Rempah, dan Jailolo dari Segelas Bandrek

Tulisan ini diikutkan dalam "Jailolo, I'm Coming!" Blog Contest yang diselenggarakan oleh Festival Teluk Jailolo dan Wego Indonesia


Bagi saya yang lahir dan besar di tanah Sunda, menyeruput minuman satu ini bukanlah hal baru, bukan pula hal yang mahal jika diukur dari segi materi. Namun, ada kebanggan dan prestise tersendiri di benak saya ketika mengenalkannya pada teman-teman saya ketika berkesempatan pergi ke Negara lain, bahwa pada masanya, inilah minuman termahal di dunia! Bandrek!
http://commons.wikimedia.org/wiki/File:A_time_for_a_cup_of_coffee.jpg
Menurut saya, makan, minum, atau melakukan apapun tak bisa diukur dari sensasi indrawi semata. Sadar atau tidak dalam tiap lumatan nasi kapau yang kita makan, ada hikayat yang melekat pada orang Minang hingga sekarang, hingga muncul pertanyaan, “Mengapa nasi Padang atau nasi Kapau ada dimana-mana?” Itulah di balik hikayat merantau! Tanpa disadari pula di balik rasa manis gudeg Yogya, tersimpan sejarah masakan khas Jawa yang manis, dimana terdapat banyak perkebunan tebu pada masanya. Termasuk ketika saya menghirup harumnya dan mencecap manis-pedasnya bandrek.
doc travel.detik.com/readfoto/2010/12/10/104126/1520973/1026/1/jailolo

Seruput bandrek di pagi atau malam hari semacam ritual kembali pada sejarah. Bahwa minuman yang dibuat dari pala, cengkeh, gula aren, dan lada hitam ini punya efek luar biasa pada lahirnya sejarah di dunia. Saya ingin sekali tiba-tiba ‘menghilang’ ke kampung halaman si rempah-rempah yang ‘bikin gara-gara’ dan gempar dunia, mulai dari ‘biang keladi’ tersesatnya Colombus ke Amerika Tengah hingga ditemukannya benua Amerika, lahirnya kolonialisme di Nusantara sampai ditukarnya Pulau penghasil rempah, yakni Pulau Run dengan salah satu pulau termodern di dunia, Manhattan!

Menikmati hal-hal sederhana seperti menikmati secangkir minuman rempah-rempah sambil bersantai di pinggir pantai menonton “Cabaret on the Sea” ala Jailolo, mencoba mengintip dasar laut Halmahera yang cantiknya luar biasa, sambil bercengkrama atau sekedar main kartu, berguling dan tertawa dengan warga sekitar adalah hal yang ingin saya lakukan di Jailolo.

Menuliskannya di blog, atau sekedar update di akun media sosial pribadi, atau akun komunitas traveling kampus yang saya kelola, atau sekedar berbagi cerita pada teman-teman di luar sana yang kurang beruntung, karena telat mengenal Jailolo. Festival kebudayaan yang rutin diadakan kampus saya tiap tahun pun bisa jadi opsi menarik mengenalkan Jailolo ke publik. Karena tiap tahun stand Provinsi Maluku siap siaga di depan kampus saya, Jl Dipatiukur, Bandung.

Jika benar harga pala, cengkeh, dan lada pada masanya lebih mahal dari emas, maka untuk 30 menit yang saya habiskan untuk menulis tulisan ini saya telah meminum minuman termahal di dunia.
Kalau saya ikut-ikutan Giles Milton dalam bukunya Nathaniel’s Nutmeg, maka saya akan bilang, “The island can be smelled before It can be seen”. Ah, Indonesia kamu itu ya….. kaya! Jailolo… I’m coming!

Tuesday, March 12, 2013

Jatiluhur, Tak Kenal Maka Tak Sayang


"Asal dari daerah mana?" tanya seorang teman asal Jakarta.
"Purwakarta, itu yang ada Waduk Jatiluhur, tahu kan? " Jawab saya sambil mencoba memastikan.
"Wah jauh juga ya dari Jatinangor? Berapa jam di perjalanan? Ada 8 jam?"
Saya pun hanya bisa tersenyum.
Bendungan Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat
Wajar saja saya tersenyum, dia tidak bisa membedakan Purwakarta dan Purwokerto. Padahal, hampir tiap minggu Ia pulang ke Jakarta dari Bandung, tetapi tidak pernah tahu ada sebuah Kabupaten di perlintasan terkenal dengan waduknya yang kini hampir terlupakan. Hal serupa pun terjadi pada ratusan bahkan ribuan warga Jakarta yang hampir tiap minggu menghabiskan lembaran duit di Bandung dengan berbelanja ke berbagai pusat pertokoan. Nyatanya, ada sebuah danau buatan yang senantiasa menyimpan  kebutuhan air baku untuk minum dan air untuk kebutuhan industri bagi sebagian besar warga Jakarta. Lantas, bagaimana dengan pasokan untuk daerah penyangga ibukota lainnya seperti Bekasi dan Karawang? Itu, jangan ditanya!
Kenyataan itu pula yang membuat saya mencoba melakukan survei bagi mahasiswa-mahasiswa asal Jakarta yang menjalani studi di Bandung. Hasilnya, 90 persen responden asal Jakarta yang pasti pernah ‘numpang lewat’ Purwakarta menuju Bandung pernah mendengar ada sebuah Waduk bernama Jatiluhur. Namun, dalam persentase yang sama juga terbukti tidak ada yang tahu dan berhasil menjawab dengan benar letak Waduk Jatiluhur tersebut. Lalu, sisa 10 persennya? Hebat.
Purwakarta, mengingatkan saya akan Radiator Spring, nama kota dalam film animasi berjudul Cars produksi Pixar yang disutradarai oleh John Lasseter. Film tersebut menceritakan hilangnya Lightning McQueen, sebuah mobil balap Nascar di sebuah kota perlintasan yang telah ditinggalkan. Purwakarta pun mengalami hal sama. Setelah Jalan bebas hambatan Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang) mulai beroperasi pada 2006, semakin sedikit pengemudi yang singgah, walau hanya sekedar merebah. Padahal, Purwakarta memiliki sebuah ikon yang tak hanya penting bagi kota itu sendiri, tapi juga bagi Indonesia, sebut saja Waduk Jatiluhur.
Ketika mulai dibangun pada 1957, bendungan ini disebut-sebut sebagai bendungan terbesar di Indonesia. Tujuan awal dibangunnya bendungan ini adalah demi kepentingan sektor irigasi bagi daerah-daerah di utara Jawa Barat. Tak main-main daerah ini pun menyuplai kebutuhan air baku bagi 80 persen penduduk Jakarta. Bayangkan saja jika pasokan air untuk Jakarta dihentikan, maka sekitar 80 persen penduduk dari total penduduk Jakarta atau sekitar 7.686.230 dari t 9.607.787 jiwa (Sensus penduduk 2010) tidak akan mendapat pasokan air minum. "Kalau pasokan air di-stop dari sini, ya Jakarta kekeringan," ungkap Kepala Urusan Pengolahan Data dan Pelaporan, Jasa Tirta 2 Jatiluhur, Rahmat Sudiano, ST.
Hal serupa dapat terjadi juga pada Karawang. Kabupaten yang merupakan lumbung padi Jawa Barat, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu lumbung padi nasional ini, jelas-jelas disokong oleh sistem irigasi Jatiluhur. Bendungan ini mengairi sekitar 242 ribu hektar sawah di wilayah utara Jawa Barat, dimana sekitar 86.588 hektar merupakan luas lahan sawah irigasi teknis Karawang. Lahan itu pulalah yang berkontribusi langsung bagi kebutuhan beras nasional sebesar 789.000 ton per tahun pada 2011, sesuai dengan data yang dilansir oleh www.karawangnews.com. Hal tersebut menjadikan Jawa Barat sebagai penghasil beras terbesar kedua di Indonesia.

Mantan Kepala Sub-bagian Anggaran di  Kantor Biro Keuangan Jasa Tirta 2 Jatiluhur, Amil Sofwan yang menyaksikan langsung proses pembuatan bendungan ini yang berlangsung pada tahun 1957 hingga 1967 pun menerangkan bahwa, sebelum dibangunnya multi-purpose dam ini, Karawang merupakan daerah langganan banjir, setiap tahun pada musim hujan. Maka, jika Karawang masih menjadi langganan banjir hingga saat ini, relatif sulit pasokan beras nasional terpenuhi. Hal itu pun berdampak pada lahirnya belasan bahkan puluhan kawasan industri di Karawang yang kini luasnya mencapai sekitar 14 ribu hektar, bahkan konon  digadang-gadang Karawang akan dijadikan kawasan Industri terbesar se-Asia Tenggara.
Tak hanya dalam konteks pemenuhan kebutuhan pangan, waduk yang memiliki nama resmi Ir. H. Juanda ini pun turut berkontribusi terhadap perkembangan dunia olahraga tanah air. Waduk jatiluhur menjadi tempat latihan sekaligus home base bagi para atlet dayung yang akan berlaga di ajang nasional dan internasional. “Sudah lama waduk ini digunakansebagai tempat latihan dayung oleh Timnas, sejak tahun 1986 hingga sekarang untuk ajang-ajang nasional dan internasional,” ujar Pelatih Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) cabang olahraga dayung Jawa Barat, Mulyana Irmawan. Pada ajang nasional PON XVIII 2012 di Riau, dan pada ajang internasional SEA Games 2011 para atlet yang akan bertanding pun memusatkan latihan di waduk ini. Hasilnya, pada ajang internasional SEA Games 2011 di Palembang, Indonesia mengantongi 3 medali emas, 1 medali perak, dan 1 medali perunggu dari cabang olahraga dayung.
Tak hanya pasokan air, bendungan ini pun merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang menghasilkan 180 MW dan dilengkapi oleh 6 turbin. Dengan kata lain, system kelistrikan Jawa-Bali salah satunya disokong oleh PLTA ini. Namun, Rahmat Sudiana mengakui bahwa pasokan litrik tersebut tidak bisa dibilang besar jika dibandingkan dengan waduk lain seperti Saguling dan Cirata, “Cirata, kapasistas terpasangnya adalah 1000 MW, dengan kata lain lebih dari lima kali Jatiluhur, karena didesain khusus untuk PLTA,” jelasnya. Ia pun menambahkan bahwa tugas utama Jatiluhur bukanlah memasok  kebutuhan listrik, melainkan memasok air di hilir.
Empat puluh lima tahun melayani masyarakat bukan berarti tanpa hambat. Waduk yang terletak sekitar 9 km dari pusat kota Purwakarta ini pun sempat memiliki beberapa masalah, salah satunya adalah adanya retakan pada bendungan. Hal tersebut terjadi sekitar tahun 1998. Namun, hal tersebut masih dianggap sebagai kerusakan minor yang dapat segera diatasi oleh tim ahli dan teknisi bendungan. Retakan semacam itu menurut Rahmat Sudiana, normal terjadi pada konstruksi bendungan, terutama bendungan tipe urugan, “Bendungan itu tidak diam, setelah bendungan selesai dibangun akan terjadi konsolidasi terutama pada timbunan,” jelas Rahmat Sudiana.  Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa, bendungan terdiri atas timbunan material-material yang dipadatkan hingga mencapai elevasi lebih dari 100 meter. Timbunan tersebut pasti akan mencari titik keseimbangan baru, sehingga terjadi penurunanpada beberapa bagian yang disebut konsolidasi.
Masalah utama yang terjadi pada bendungan sesungguhnya bukan hanya pada konstruksi, ada masalah lain yang jauh lebih nyata dan pasti terjadi pada setiap bendungan manapun di dunia, yaitu sedimentasi atau pengendapan yang menyebabkan pendangkalan pada dasar waduk. Dijelaskan pula oleh ahli konservasi tanah dan air, Institut Pertanian Bogor (IPB), Wahyu Purwakusuma, bahwa Sedimentasi merupakan akibat dari proses erosi yang terjadi di sekitar waduk. Erosi menyebabkan bagian tanah yang subur hilang sehingga mengakibatkan menurunnya kualitas lahan di lokasi terjadinya erosi.
“Bagian tanah yang tererosi dapat meningkatkan kesuburuan parairan waduk (eutrofikasi) sehingga  dapat memicu perumbuhan tanaman air di waduk yang akan memperparah pendangkalan dan menyempitnya luas permukaan waduk akibat tertutupi tanaman air,” jelasnya lebih lanjut. Perlu diingat bahwa umur bendungan bukan ditentukan oleh umur konstruksi, melainkan oleh umur layanan waduknya. Jika berkaca pada kasus serupa, menurut data yang dilansir Indonesia for Global Justice (www.igj.or.id), Waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah diprediksi hanya mampu bertahan kurang dari sepuluh tahun lagi, padahal menurut rencana pada dekade 1990-an, Kedung Ombo masih akan memasok irigasi selama 100 tahun.
Untungnya, kehadiran Waduk Saguling dan Cirata dalam satu jalur Sungai Citarum, secara tidak langsung turut mengurangi dampak Sedimentasi, karena sedimen-sedimen yang terbawa arus Sungai Citarum lebih dahulu tertahan di dua Waduk yang letaknya di hulu, dari pada Jatiluhur yang letaknya di hilir. Menurut survei batimetri yang dilakukan pada tahun 2000, dinyatakan bahwa sedimentasi pada Waduk Jatiluhur termasuk kecil, yakni tidak lebih dari 5 mm per tahun. Meskipun, umur layanan Waduk Jatiluhur diprediksi dapat bertahan hingga 150 tahun lagi terhitung sejak tahun 1987. Namun, bukan berarti masalah sedimentasi lepas begitu saja, masih ada dua anak Sungai Citarum yang hilirnya langsung masuk ke waduk, yakni Sungai Cisomang dan Cilalawi. Hal tersebut juga memungkinkan naiknya risiko sedimentasi.
Segudang maslahat, bukan berarti tanpa mudarat. Jika saja bendungan ini hancur dan pecah maka daya rusaknya kemungkinan akan lebih besar dari tsunami. Hal tersebut dijelaskan pula oleh Rahmat Sudiana, “Kalau tsunami merupakan gelombang laut yang disebabkan gempa dan berasal dari tempat yang lebih rendah, sedangkan bendungan berada di tempat yang lebih tinggi,” Namun, Rahmat meyakinkan sejauh ini Waduk Jatiluhur aman. Hal tersebut pun kembali mengingatkan saya pada tragedi Situ Gintung yang terjadi pada tahun 2009. Dapat dibayangkan, Situ Gintung yang menampung air sebanyak 2,1 juta meter kubik saja menyebabkan kerusakan fatal, bandingkan dengan volume tampungan air Waduk Jatiluhur mencapai hampir 1043 kali volume Situ Gintung atau sebanyak 2,4 milyar meter kubik. Maka bisa dibayangkan apa yang dapat terjadi.
Amil Sofwan, orang yang turut menyaksikan sejarah pembangunan Bendungan Jatiluhur pun menjelaskan bahwa, konstruksinya dibangun sangat kokoh, dasarnya dikeruk sampai dalam, agar kepadatan bendungan terjaga. Konon, pembangunan bendungan tersebut tidak menggunakan semen, tapi benar-benar mengandalkan pemadatan tanah, “Saya ingat betul kontraktornya dari Perancis, CEB, Coyne et Bellier,” jelasnya.
Tak hanya dampak yang terlihat, dampak yang tak terlihat pun ternyata besar. Commission on Dams (WCD) menemukan bahwa bendungan besar sebenarnya menyumbang sekitar 28 persen emisi gas efek rumah kaca melalui hasil proses kimiawi organik. Hal tersebut disebabkan oleh bahan organik seperti vegetasi terendam air yang menciptakan reaksi pembusukan secara anaerob yang menghasilkan gas efek rumah kaca. Tentu saja tak hanya berdampak bagi warga Jawa Barat dan sekitarnya, tapi bagi dunia.
“Masyarakat di sekitar waduk harus melakukan pengelolaan lahan dengan baik untuk mencegah erosi sehingga pendangkalan waduk akibat sedimentasi bisa dihindari,” tegas Wahyu Purwakusuma. Usaha bersama dengan masyarakat sekitar harus dilakukan. “Kami pun melakukan konservasi lahan dibantu oleh elemen masyarakat sekitar,” jelas Rahmat Sudiana.
Jatiluhur kini tak dikenal. Dipuja tapi tak dijaga. Dibebat tapi tak dirawat. Dibuat tapi tak diingat. Jatiluhur, terlupakan atau dilupakan.


Thursday, January 17, 2013

(Hampir) Mati Muda di Selat Sunda


Malam itu saat semua sadar bahwa tak ada lagi keberadaan terang, maka kami mencoba menyalakannya dengan jentik-jentik dan sedikit letupan kecil di ujung bibir. Menyanyikan apa yang tak kami rasakan, menghadirkan apa yang tak kami takuti... Kematian.

Dan disaat dek kapal itu semrawut bercatut dengan lidah-lidah nyinyir gelombang, dengan kedamaian dan gelora tak ingin mati muda kami siapkan senjata, kami pasang kendali diri. Hanya satu, rompi oranye itu!
Napas kami tersentaklah, cemas kami teriaklah. Maka, semesta pun tak berani lihat kami melaju. Diam kami di tengah-tengah... di tengah-tengah.

Malam itu disaat semua berbagi damai indahnya hari pertama Muharram melantunkan 3 putaran Surat Yasin, kami mencari terang di ujung barat Jawa. Kami coba singkap dengan lagu-lagu cantik masa kini hingga suara takbir yang memekikkan langit.

Tuhan, ketika itu kami berbagi langit, kami berbagi sengit.
Tuhan, ketika itu kami berpegangan, saling teriakan.
Tuhan, ketika itu kami tak yakin melihat pagi, hanya tangis mereka, ibu kami.
Terima kasih Tuhan, kami tak jadi mati muda, di Selat Sunda.


Untuk sahabat-sahabatku yang ketika itu berbagi langit, berbagi sengit, berkumpul berhimpit.

Tuesday, January 1, 2013

KA(TEGOR)ISASI Pejalan, Harus Ada?


Trend traveling keliling Indonesia, ya, TREN! Saya ulangi, TREN ini memang baru berkembang akhir-akhir ini. Tak jelas kapan mulanya, tapi yang jelas awal 2000-an kegiatan menjelajah alam Indonesia belum popular kecuali bagi para kelab pegiat alam, pemerhati alam, atau peneliti. Dahulu, sebelum decade 2000an orang-orang Indonesia lebih banyak yang suka ke luar negeri “katanya”.
Bagi saya mempersoalkan masalah destinasi kemana seseorang akan melakukan perjalanan, itu bukan urusan saya. Jika memang dipandang dari sudut pandang “traveling” sendiri. Karena, untuk apa mempermasalahkan destinasi, toh bagi saya yang merupakan penganut paham Paul Theroux yang percaya bahwa, “Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu, bukanlah perjalananku,”, selama mereka mampu, dan mau, mereka bisa pergi kemanapun.
Lain halnya jika dipandang dari sudut pandang nasionalis-nasionalis yang berkeras sekuat tenaga memajukan pariwisata Indonesia. Mungkin bagi mereka menjelajahi Indonesia adalah bentuk kontribusi terhadap sector ekonomi masyarakat sekitar. Hal tersebut juga jelas tidak salah.
Kemudian, bagi para ibu-ibu sosialita yang doyan jalan-jalanlayaknya empat sekawan Sex and The City. Pergi ke Dubai atau Abu Dhabi dengan pelayanan penerbangan kelas satu, bermalam di hotel termashur dengan segudang pengalaman kelas satu pun bagi saya tak ada yang salah, termasuk bagi para pejalan yang berorientasi pada budget.
Tidak, sama sekali tidak ada yang salah. Setiap orang dapat pergi kemanapun, dengan tujuan apapun. Menghilangkan penat, melakukan penelitian, konservasi, bekerja, menjadi sukarelawan, atau sekedar buang air pun bagi saya tak masalah. SAMA SEKALI BUKAN MASALAH. DAN TIDAK SALAH.
Namun, yang membikin saya heran sebenarnya adalah kenapa harus ada yang mempermasalahkan siapa pergi naik apa, atau siapa menginap dimana, bahkan siapa pergi kemana sehingga terjadi pengkotak-kotakan, terkesan ada batas antara traveler jenis ini atau traveler penganut itu.
Sex and the City 2 (doc. google)
Misal, seseorang pergi keliling Eropa kemudian berfoto di depan menara Eifel, kemudian ada pihak berkicau, “Yaiyalah, dia kan banyak duit”, “Yaiyalah dia kan jurnalis traveling wajar aja, liburannya gratis”, sekalinya ada yang bijak malah berkomentar, “Yausahlah yaa, Eifel kan mainstream banget”, “Yaeelah Eropa masih kerenan Indonesia”, “Ellaaah doi kan ribet, ga bisa backpacking tuh pake kalo gitu”.
Yang mau saya bicarakan di sini adalah, kenapa harus ada pengkategorian semacam itu?
1.       Kenapa harus ada yang merasa lebih keren dari yang lain ketika dia bisa menghabiskan uang lebih sedikit dengan pergi ke tempat-tempat tertentu?
2.       Kenapa harus ada yang merasa lebih keren dari yang lain ketika dia pergi ke tempat-tempat anti-mainstream (katanya) daripada ke tempat yang menurutnya mainstream?
3.       Kenapa harus ada yang merasa lebih keren kalau pernah pergi ke tempat-tempat lebih banyak?
4.       Kenapa juga harus ada yang mempermasalahkan siapa yang pernah lebih dulu ke tempat itu?
“Ah gue kan udah pernah ke tempat itu” (seketika setelah melihat foto seseorang yang ke sana)
5.       Kenapa juga harus ada pertanyaan “Udah pergi kemana aja lo?” dibandingkan “Gimana, seru ga cerita lo di sana?”?
6.       Kenapa harus ada yang mempermasalahkan seseorang pergi dengan metoda apa (backpacking atau flashpacking lah)?
Backpacker (doc. google)

Sempat beberapa kali saya mengobrol dengan para backpackers, dan ketika saya tanya apa bedanya backpacker dengan pejalan lain?
“Backpacking itu kan pada dasarnya traveling dengan menggunakan backpack” (INI SAYA SETUJU)
“Tapi yang paling membedakannya adalah backpacking adalah metoda traveling dengan budget seminimal mungkin, dan pengalaman sebanyak mungkin” (NAH INI SAYA TIDAK SETUJU)
Ah masa, kalo nggak backpacking pengalamannya nggak banyak? Pengalaman apa dulu?
Nah sebagian orang mungkin terjebak dengan kata “pengalaman”. Buat saya tidul di hotel mewah dengan pelayanan kelas satu pun akan menjadi pengalaman mengesankan. Ya siapapun boleh tidak setuju.
Lantas apa lagi yang kita permasalahkan? Apa sih traveling? Kenapa kita traveling? Apa tujuannya? 
Selama kita punya jawaban masing-masing atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Rasanya tak ada yang patut mempermasalahkan atau merasa lebih hebat dari yang lain. Bukankah katanya si ‘travelingg’ itu yang mengajarkan kearifan dan kerendahan hati? Baiklah, dengan segala kerendahan hati, ini hanya sebuah pendapat. Sangat dapat disangkal dan sangat dapat disetujui. :D

Monday, November 26, 2012

Bandung Kota Kembang, Mana Kembangnya?

Sebuah pertanyaan muncul dalam benak kami selagi kecil tentang sebuah Kota yang konon katanya Kota kembang. Agenda wajib anak usia Sekolah Dasar ketika adalah pernah pergi ke Taman Ade Irma Suryani, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Taman Lalu Lintas, tapi satire itu kembali muncul di benak kami, “Mana Kembangna?”. Inilah bentuk rasa penasaran kami, terhadap pertanyaan yang tak sempat dijawab Bandung, si Kota Kembang.
Harastoeti, Dosen Sejarah dan Teori Arsitektur, Universitas Katholik Parahyangan (Unpar), Bandung

 Europa in de Tropen, itulah salah satu julukan warga Belanda bagi kota sang saat ini sudah tak mirip Paris lagi. Dulu, Bandung merupakan tempat pemukiman orang-orang Eropa dimana mereka tetap mempertahankan atmosfer lingkungan, gaya hidup, makanan, hingga cara berpakaian. Salah satu hal yang saat itu dipertahankan adalah gaya arsitektur khas Eropa, seakan-akan memindahkan kota-kota di Eropa pada sebuah wilayah dalam kungkungan tropic of cancer dan tropic of capricorn.


Terjebak dalam wilayah dua musim ini pula yang membuat Bandung harus memiliki unsur tropis, sebagai caranya adalah dengan membangun taman kota. Salah satu taman kota di Bandung yang cukup terkenal adalah Pieters Park atau yang kini disebut dengan nama Taman Merdeka. Taman ini dibangun pada 1885 sebagai sebuah persembahan bagi Asisten Residen Priangan Pieter Sijthoff dan organisasinya dalam kontribusinya terhadap akselerasi pesat Bandung.

Menurut dosen Sejarah dan Teori Arsitektur Universitas Katholik Parahyangan (Unpar), Harastoeti menjelaskan, awalnya Bandung didesain menjadi kota taman (Garden City). Konsep ini awalnya diterapkan di Eropa untuk mengatasi keadaan lingkungan dari polusi yang terbentuk dari industrialisasi besar-besaran. Dahulu memang banyak dibangun taman-taman kota seperti Ijzerman Park (Taman Ganeca), Jubileum Park (Taman Sari), Oranje Plein (Taman Pramuka), Pieters Park (Taman Merdeka), dan masih banyak lagi.

Masih menurut Harastoeti, masalah ini bermula dari perencanaan yang sembarangan. “Saat ini Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) di Kota Bandung mudah diubah-ubah,” ungkapnya. Seharusnya RTRW membuat perencanaan yang jelas dengan membagi-bagi wilayah (zoning), seperti pembagian wilayah perumahan, pertanian, resapan air, industry, dan sebagainya. Sebagai imbasnya, masalah tata kota kini bukan lagi milik para planolog ataupun juru teknik lainnya, tapi merembet pada masalah sosial dan menyangkut hajat hidup orang banyak.

Pembenahan terhadap kota Bandung saat ini dirasa sulit, walaupun tidak menutup kemungkinan akan terjadi perubahan. Jika ditanya butuh waktu berapa lama, Harastoeti menjawab, “Hitungannya bukan tahun, mungkin butuh beberapa generasi untuk memperbaikinya, dalam hal ini kita tidak boleh pesimistis”. Dalam konteks lahan penghijauan, Bandung sudah mengalami kemajuan, tapi kekurangannya, yang dilakukan terutama di sekitar jalan hanya menggunakan pot, dalam hal ini jelas Bandung butuh resapan air.

Bukan hanya Bandung kota kembang dalam konteks denotative, halaman 45 buku karya Haryoto Kunto yang berjudul Wajah Bandoeng Tempoe Doeloe itu mengajak kami menelaah jejak peradaban bangsa Kaukasoid itu di tanah kami, termasuk kembang bandung dalam konteks konotatif. Dalam buku itu “kembang” dijelaskan dengan cukup sederhana: perempuan. Tak melulu soal perempuan, buku tersebut juga menjelaskan peran taman-taman di Bandung sebagai lahan konservasi alam dan penyeimbang lingkungan.

Dijelaskan, pada akhir abad ke-19, Bandung mendapat kehormatan untuk menyelenggarakan kongres pertama Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula. Saat itu Bandung masih tertinggal kemajuannya jika dibandingkan dengan Surabaya. Akibat fasilitas yang belum memadai, penyelenggara kebingungan menyusun strategi agar kongres berjalan lancar. Sampai akhirnya Meneer Jules Schenk, seorang preangerplanter yang membawa serombongan noniek Indo-Belanda untuk menghibur para peserta kongres. Dapat diramalkan, kongres sukses besar!

Sejatinya, tak melulu masalah perempuan dalam konteks negatif yang selalu dikaitkan dengan istilah kembang. Sejak dahulu, Bandung sudah menjadi kota mode. Jalan Braga merupakan pusat perbelanjaan elite pada masanya. Beragam jenis pakaian yang dapat ditemukan di Paris, dapat juga ditemukan di Jalan Braga, maka itulah alasan mengapa Bandung dapat pula digambarkan sebagai kiblat mode Indonesia, yang di dalamnya tentu saja terdapat perempuan-perempuan penganut “aliran” modis.


Kalia Labitta, Finalis Puteri Indonesia 2010 asal Jawa Barat
Diakui finalis Puteri Indonesia 2010 asal Jawa Barat, Kalia Labitta bahwa perempuan-perempuan Bandung itu banyak memiliki kelebihan yang membedakannya dari perempuan-perempuan dari daerah lain, “Bedanya sama cewek daerah lain itu, cewek Bandung terkenal santun dan ayu,” ungkapnya. Ia pun meambahkan kesan-kesan positif dari beberapa finalis Puteri Indonesia daerah lain terhadap finalis asal Bandung, yaitu ramah, santun, lebih aware pada lingkungan sekitar, dan tidak menutup diri terhadap orang lain.

Dalam konteks konotatif, jelas kini Bandung berkembang pesat. Banyak industri-industri kreatif yang diciptakan perempuan lahir di Bandung. Banyak pula perempuan-perempuan asal Bandung yang dapat merepresentasikan kecantikannya lewat karya dan prestasi besar di bidangnya. Tak etis jika hanya memandang istilah “Kembang Bandung” dari konotasi negative saja.

Lalu, bicara masalah masih pantaskah Bandung disebut kota kembang kini kami mengembalikan sepenuhnya pada Anda, masih pantaskah Bandung disebut Kota Berhiber (Bersih, Hijau, Berbunga)? Atau masih layakkah Bandung bergelar Kota Bermartabat (Bersih, Makmur, Taat, Bersahabat)?

You can also read this feature by visiting :citizenmagz.com

Sunday, November 25, 2012

Wonderful Indonesia


Aku mengingat nama itu ketika aku dibawa ke sebuah teras tempat aku belajar yang aku sebut sekolah. Dalam sepenggal syair
"Nenek moyangku seorang pelaut gemar mengarung luas samudra menerjang ombak tiada takut mengarung badai sudah biasa"
aku pikir aku sudah mengenalnya. Begitu pula dalam syair
"Naik-naik ke puncak gunung tinggi tinggi sekali. Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara,"
aku pikir aku sudah menemukan rumah. Aku mengingat namanya ketika itu, Indonesia.
Sejak kecil jarang aku rasakan asinnya air laut, tak pernah pula aku rasakan bau angin gunung-gunung tinggi. Sehingga, aku tak percaya pada syair -syair itu di waktu kecil.
Namun, ternyata negeri ini lebih dari sekedarnya. Lebih dari apa yang diajarkan dalam buku geografi SMA bahwa tanah airku ini terletak di antara dua benua, bahwa negeriku ini terletak di antara dua samudera, bahwa negeriku ini terletak di khatulistiwa, bahwa, dan bahwa lainnya.
Bahwa banyak yang tak kudapat hanya dari buku. Banyak yang tak kudapat hanya dengan mengintip "jendela dunia"-nya saja. Banyak yang harus kuketuk langsung pintunya, memberi salam dan disambut di sana. Iya, di sana di tempat-tempat yang selama ini tak aku tahu, di Indonesia.
Negeri ini punya segalanya, gunung salju, hutan tropis, savana, gurun pasir, gunung berapi, ombak yang cantik, arus tenang, gugusan karang indah, jeram-jeram menawan, ekosistem alam yang kaya, hingga segala keajaiban budayanya.
Aku pun percaya bahwa aku harus seperti negeriku, karena menurut Pramoedya Ananta Toer
"Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga. Yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada yang tahu benar akan tujuan hidupnya"
Jika Eric Weiner berkata dalam The Geography of Bliss bahwa kebahagian bagi Belanda adalah angka, dan bagi Bhutan adalah kebijaksanaan. Maka bagiku, kebahagiaan bagi Indonesia adalah tempat itu sendiri. Wonderful Indonesia.

Thursday, November 22, 2012

"Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya" - Pramoedya Ananta Toer

Tuesday, November 6, 2012

Jalesveva Jayamahe!

Well here I go again, Kompas set my feature (again) on its page. Thanks #Conservation2nd and UKSA 387 Undip. My writing on Kompas had been cut by the editor, the full version is shown below. Happy reading!
My feature on Kompas (6/11)




Jalesveva Jayamahe!
Di lautan kita berjaya...
Di lautan kita berkarya...

Kita boleh berbangga karena sekitar 18 persen terumbu karang dunia yakni seluas 74.748 kilometer persegi hidup di dasar laut Nusantara. Dengan keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia yakni sekitar 750 jenis karang dan 942 jenis ikan, tak aneh rasanya bila negeri ini dijuluki "Negeri Megabiodiversity".

Namun, hal menyedihkan justru datang dari laporan para peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) (2005), ternyata hanya tersisa 5,8 persen terumbu karang di Indonesia yang masih dalam kondisi baik. Hal tersebut memicu gerakan sekelompok pemuda yang tergabung dalam Unit Kegiatan Selam 387 Universitas Diponegoro (Uksa 387 Undip) Semarang untuk menyelenggarakan kegiatan bertajuk Coral, Serviceable, Volunteer, Action (Conservation).

All participants


Conservation merupakan program berkelanjutan lima tahun yang diselenggarakan Uksa 387 Undip sejak 2011 di Kepulauan Karimun Jawa, Jawa Tengah. Pada 21-25 September 2012, acara Conservation kedua kembali dilaksanakan. Sebanyak 15 sukarelawan dari beberapa daerah di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, hingga Kalimantan Timur berkumpul di Karimun Jawa untuk melakukan konservasi lautan.

Hari pertama diisi dengan seminar mengenai ekonomi pariwisata, konservasi, dan terumbu karang, para peserta dibekali pengetahuan awal mengenai terumbu karang. Hadir sebagai pembicara dosen Oseanografi Undip, Prof. Sahala Hutabarat, M.Sc, perwakilan Coral Triangle Center, Arief Darmawan, dan perwakilan dari Terangi, Mikael Prastowo.

Peserta mulai beranjak menuju Karimun Jawa pada Sabtu (22/9) dan menginap di Desa Kemujan, sekitar 25 kilometer dari pintu utama Pulau Karimun Jawa. Keesokan harinya, meskipun laut Jawa yang biasanya tenang sedikit bergelombang, hal tersebut tak menyurutkan semangat para penyelam yang rata-rata terdiri atas mahasiswa dan pelajar untuk melakukan kegiatan transplantasi karang di kedalaman 7-8 meter. Mereka berharap kelak hewan yang hanya tumbuh 2 hingga 10 cm per tahun ini dapat dilihat oleh anak-cucu mereka.

Coral transplantation

Setelah melakukan kegiatan transplantasi karang, rombongan peserta beranjak menuju Pulau Tengah untuk melakukan kegiatan selam gembira atau fun dive. "Tahun ini konstruksi bawah lautnya kami tambah tugu dengan polip di atasnya, serta fish shelter untuk membasmi alga," jelas Ketua Panitia acara Aulia Yustian. Hari terakhir diisi dengan kegiatan sosial seperti Coastal Clean Up di sekitar Pantai Bare, Coastal Clean Up merupakan kegiatan pembersihan sampah di sekitar pesisir pantai dari batas pasang pantai hingga batas surut pantai. Kegiatan pun dilanjutkan dengan pendataan keadaan sosial ekonomi masyarakat, dan peresmian perpustakaan pintar di SD Negeri 4 Kemujan. "Melalui program ini, kami berharap semua yang terlibat memiliki jiwa konservasi yang sustainable," tambah Aulia Yustian.

Pendataan keadaan social ekonomi masyarakat dilakukan kepada sekitar dua puluh sampel kepala keluarga. Selain pendataan keadaan social dan ekonomi, penduduk juga mendapat penjelasan seputar konservasi dan pentingnya terumbu karang bagi kehidupan masyarakat. Dari kegiatan itu pula diketahui bahwa masih ada penduduk sekitar yang melakukan “selam kompresor”, yaitu menyelam dengan menggunakan kompresor pengisi udara ban yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan mulai dari kram hingga kelumpuhan.

Kemujan, Sisi Lain Karimun Jawa
"Indonesia memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia," ungkap Prof. Sahala Hutabarat, M.Sc. dalam seminar hari pertama Conservation 2nd. Jadi dapat dibayangkan berapa banyak masyarakat pesisir yang alur napasnya turut ditunjang kekayaan sector kelautan. Bukan tanpa alasan Tuhan menganugerahi negeri ini dengan laut mahaluas, potensi negeri mega-biodiversity ini pun tak perlu diragukan lagi. Maka, bukan tanpa alasan pula proyek ekowisata Taman Bawah Laut di Karimun Jawa ini diadakan demi membangun potensi ekonomi masyarakat sekitar pesisir.

Masih banyak tantangan yang harus dilalui untuk menjadikan Desa Kemujan destinasi ekowisata yang menjanjikan, bayangkan saja akses yang cukup jauh dari Pelabuhan utama (sekitar 25 km) tanpa kendaraan komersial,  sinyal provider telepon genggam pun sulit dijangkau, itupun menggunakan penangkap sinyal, belum lagi, pasokan listrik yang hanya hidup 6 jam saja (18.00-24.00). Masyarakat sekitar pun belum banyak yang mengenal kegiatan konservasi bagi terumbu karang yang menjadi sasaran wisata andalan.

"Kendala Desa Kemujan itu disebabkan pintu bagi wisatawan cuma ada satu, yaitu di Karimun Jawa" jelas Kepala Desa Kemujan, Yuslam Said saat pembukaan acara Conservation. Seiring istilah "traveling" dan acara "jalan-jalan" yang kini makin menjamur, tak ada salahnya sebagai wisatawan tak hanya mengekspos keindahan dan metode bepergian saja, kesejahteraan masyarakat sekitar pun patut diperhatikan! Sekali lagi, Jalesveva Jayamahe!


Thursday, November 1, 2012

Feature TV - PPLP Dayung, Jawa Barat (Waduk Jatiluhur)

Tinggal di negara maritim, yang terletak di khatulistiwa dengan gugusan pulau sebanyak lebih dari 17ribu pulau. Merupakan salah satu wilayah dengan ekosistem kekayaan air dan darat terkaya. Memiliki potensi luar biasa di sektor perairan baik darat dan laut.
Tidak hanya letak secara geografis, secara sosial dan budaya pun masyarakat Indonesia memang unggul di bidang perairan. contohnya saja suku Bajo di Sulawesi Selatan yang memang rajanya Samudra. Mengarungi luasnya lautan dengan kapal laut asli Indonesia, Phinisi.
Tak hanya itu, suku Dayak di Kalimantan yang terkenal akan kehebatannya menjelajahi jeram-jeram ganas di sungai-sungai besar di Kalimantan pun tak patut diragukan lagi
Memperingati hari sumpah pemuda, bagi saya yang merasa belum melakukan apa-apa untuk bangsa, sepertinya ingin mencoba untuk mengenalkan olahraga dayung, yaitu salah satu cabang olahraga yang belum banyak dikenal di Indonesia, padahal melalui olahraga ini Indonesi memeroleh segudang prestasi hingga ajang internasional. Bedanya, kali ini saya meliput Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) cabor dayung di home base mereka Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat.
Dari sinilah atlet-atlet junior ditempa, hingga mencapai usianya mereka bisa mengharumkan nama bangsa!



Video ini benar-benar DIY loh, mulai dari storyline, ide cerita, narasi, narator, kameraman, hingga editing saya handle sendiri. Maklum masih belajar. Kritik dan saran saya tunggu yah ;)

CONSERVATION2nd on TV !!!


I joined #CONSERVATION2nd, an event conducted by Unit Kegiatan Selam Undip (UKSA 387 Undip) form 21-25 September 2012. We transplanted corals, Had a fun snorkel/dive, conserved the islands, did coastal clean up, made a library for children (SD 4 Kemujan), and collected the social and economic data from the inhabitants. Because WE LOVE INDONESIA! These are the report from the TV station. You can see me in a crack hahahaha :D

#1 CORAL TRANSPLANTATION

#2 COASTAL CLEAN UP

Arzia Tivany Wargadiredja