Sunday, April 22, 2012

Empat Pemuda di Tujuh Puncak Triangulasi Bumi

Empat Pemuda di Tujuh Puncak Triangulasi Bumi
Awalnya ngobrol-ngobrol santai aja sama Atan, Broery, dan Hafizh. Obrolan merambat ketika Atan sama Broery promosi buku Menapak Tiang Langit yang sekarang ada di tiko-toko buku. Dari ngobrol-ngobrol itu jadi deh feature tentang petualangan mereka. Mulai dari betenya mereka nunggu giliran nanjak di Everest, liciknya porter-porter Aconcagua, sampe kekesalan mereka yang kalo di buku bisa-bisa kena sensor. Hahaha ini dia!

"Menginjakkan kaki di tujuh puncak triangulasi Bumi bukanlah hal yang pernah dipikirkan sebelumnya. Berawal dari sebuah ekspedisi menjelajah Pegunungan Sudirman, Papua, mereka berangkat menuju puncak tertinggi Bumi. Cartensz Pyramid, Kilimanjaro, Elbrus, Vinson Massif, Aconcagua, Everest, hingga Denali dijelajah hanya dalam waktu dua tahun. Ya, merekalah empat orang Indonesia pertama yang mengukuhkan diri sebagai The Seven Summiteers."

With Janatan Ginting (Left) and Broery Andrew Sihombing (Right)

Menginjakkan kaki di tujuh puncak triangulasi Bumi bukanlah hal yang pernah dipikirkan sebelumnya. Berawal dari sebuah ekspedisi menjelajah Pegunungan Sudirman, Papua, mereka berangkat menuju puncak tertinggi Bumi. Cartensz Pyramid, Kilimanjaro, Elbrus, Vinson Massif, Aconcagua, Everest, hingga Denali dijelajah hanya dalam waktu dua tahun. Ya, merekalah empat orang Indonesia pertama yang mengukuhkan diri sebagai The Seven Summiteers.

Dijamu di markas besar Mahitala, di komplek Unpar kami berbincang dengan dua dari empat aktor penjelajahan tersebut. Broery Andrew dan Janatan Ginting yang menceritakan pengalaman seru mereka tanpa ditemani dua rekan lainnya Sofyan Arief Fesa dan Xaverius Frans. Mulai dari kekesalan mereka terhadap para pengangkut barang di Aconcagua, kebosanan tingkat tinggi di Everest, hingga merasakan siang di Kutub Selatan selama 24 jam.

Awalnya, sebelas orang pendaki dari Pecinta Alam Mahitala, Universitas Katholik Parahyangan (Unpar) menjelajah Pegunungan Sudirman di Papua. Sembilan puncak mereka daki, empat diantaranya masih perawan! Keempat puncak tersebut mereka beri nama Puncak Unpar, Mahitala, Garuda, dan Merah Putih. Prestasi besar tersebut membuat mereka ditawari untuk menjajal puncak tertinggi dunia. Sani Handoko, alumnus Unpar pemilik PT Mud King, sebuah perusahaan minyak dan gas yang kemudian mensponsori penjelajahan tersebut.

Singkat, merupakan kata yang bisa menjelaskan rencana penjelajahan seven summits ini. Ditawari untuk berangkat awal 2010, selama kurang dari enam bulan mereka akhirnya memutuskan pergi. Segala macam persiapan dilakukan hanya dalam waktu kurang dari dua bulan. Akhirnya, Agustus 2010 mereka berangkat.
Kilimanjaro di Tanzania, merupakan gunung kedua yang mereka daki dalam ekspedisi tersebut. Berbagai persiapan tambahan mereka lakukan, “Kita nih berat di persiapan latihan ke Sudirman, setelah itu fisik kita udah ada nih, jadi kita tinggal jaga kebugaran,” ungkap Janatan Ginting yang mengakui bahwa persiapan ke Sudirman memang lebih berat daripada latihan ekspedisi seven summits ini. Pesiapan kebugaran tersebut mencakup empat dasar yaitu, endurance yang meliputi aerobik, bersepeda, dan berenang; otot yang meliputi climbing dan olahraga anerobik (sit up dan push up). Khusus untuk latihan pernapasan, mereka juga mengikuti latihan yoga.

Dalam perbincangan ringan di sore hari itu, mereka mendeskripsikan karakteristik gunung yang pernah mereka “jajah”. Cartensz Pyramid misalnya, membuat mereka berkutat dengan urusan tali-temali, kemampuan technical climbing, dan ascending. Kilimanjaro, jalurnya memiliki trek mirip dengan Gunung Semeru. Kemudian, ada sebuah kebanggaan yang berhasil mereka torehkan di Elbrus, yaitu dengan membuka jalur pendakian baru yang kemudian diberi nama “Indonesia Route”. Meskipun Vinson Massif dianggap tidak sesulit gunung lainnya, tapi suhu yang jauh di bawah nol derajat celcius (sekitar -45°C) menyebabkan mereka cukup kesulitan, dan ancaman frostbite pun jadi salah satu hal paling diwaspadai. Sementara itu cuaca Aconcagua yang berangin kencang dengan ancaman Badai cukup membuat mereka siaga. Terakhir, Denali dan Everest, keduanya memiliki karakteristik yang hampir sama, dan trek elevasi yang cukup panjang, bahkan Denali yang di atas kertas puncaknya 2644 meter lebih pendek dari Everest memiliki trek naik 1000 meter lebih panjang.

Sekuen-sekuen selama perjalanan terbebut meninggalkan cerita dan gimmick lucu untuk dikenang, beberapa diantaranya adalah pengalaman pertama mereka berjalan di atas salju sambil menarik sled dan merasakan siang hari selama 24 jam di Antartika, menggunakan bahasa isyarat ketika di Rusia, hingga kebosanan akut selama dua bulan melakukan aklimatisasi di Everest.

Tak hanya senyum yang dikenang, kekesalan mereka terhadap porter –pengangkut barang– di Aconcagua pun masih terekam. Selain faktor cuaca, beberapa oknum pengangkut barang sekaligus pendamping perjalanan di sana dianggap kurang bersahabat, “Kebanyakan guide di Aconcagua itu curang,” ungkap Broery. Kebanyakan diantara mereka seakan-akan berusaha mempercepat ekspedisi dengan cara mendemotivasi para pendaki, “Mereka dengan mudahnya men-judge  pendaki dengan bilang bahwa, Janatan kamu nggak akan kuat, kamu diam di sini, Sofyan, kamu paling cuma sampai base camp 2, dan macam-macam,” Selain bentuk demotivasi verbal, mereka pun seakan berusaha mempercepat pendakian, “Padahal, aklimatisasi kan nggak boleh cepat-cepat, beda ceritanya kalau kami pakai perusahaan Amerika. Kalau pakai perusahaan Amerika, jalannya pelan-pelan, dan base camp-nya banyak,” tambahnya. Merujuk pada informasi para pendaki sebelumnya, keuntungan bagi para porter tersebut adalah, ekspedisi cepat selesai, tapi dengan bayaran penuh.

Mountain sickness merupakan salah satu hal yang paling dihindari oleh para pendaki. Diagnosa dokter “high altitude” di Aconcagua membuat Janatan Ginting yang akrab disapa Atan harus berhenti mendaki dan tinggal sementara waktu di base camp. Jadi, ketika Broery, Sofyan, dan Frans sampai di puncak Aconcagua, Atan terpaksa tidak melanjutkan pendakian. Namun, karena daya juang dan semangat yang kuat, dua minggu berselang Atan memutuskan untuk kembali mendaki Aconcagua, dan berhasil sampai di puncak tanpa ketiga kawan seperjuangannya yang lain. Hal yang cukup janggal dirasakan oleh tim ketika Janatan divonis harus segera turun dan tidak boleh melanjutkan perjalanan, tapi dalam waktu dua minggu saja, berdasarkan tes kesehatan, Ia dinyatakan lolos untuk naik kembali ke Aconcagua.

Dalam perjalanan-perjalanan itu terselip juga ketegangan-ketegangan yang membuat mereka hingga detik ini tetap bersyukur. Broery misalnya, Ia hampir saja tergelincir masuk ke dalam crevasse – rekahan es –, atau Janatan yang hampir saja terkena longsoran salju di Everest.

Selama melakukan pendakian, para pendaki sebisa mungkin tetap berkomunikasi dengan keluarga dan kerabat di Bandung. Beberapa gadget canggih pun mereka bawa agar kejadian seperti di Elbrus tidak terulang. “Di Elbrus pernah hilang kontak selama sembilan hari, orang-orang di Bandung sudah panik, dan sudah merencanakan untuk menjemput tim ke Rusia,  sampai akhirnya kita pulang dan membuat panik orang-orang,” ungkap Broery. Untuk itu, para pendaki menggunakan alat bernama Delorme. “Delorme itu semcam modem, jadi dia bisa dihubungkan dengan GPS, device ini nge-track, kalau sudah nge-trackdia kirim delorme ini, kemudian terhubung dengan satelite dan connect langsung ke sebuah perusahaan bernama SPOT, SPOT ini merupakan salah satu perusahaan provider yang menyediakan layanan delorme ini. Jadi dia bisa mengirimkan posisi kita secara real time,” jelas Broery.

Ekspedisi ber-budget 8 Milyar rupiah ini pun berakhir pada Juli 2011 lalu ketika keempat pemuda Indonesia tersebut berhasil mencapai puncak ketujuh, Denali di Alaska. Ya, memang mereka bukan yang pertama menaklukan ketujuh mahakarya Sang Mahaperkasa. Namun, membentangkan merah putih di ujung Sagarmatha pada Hari Kebangkitan Nasional, mendaki Aconcagua untuk kedua kalinya karena tak mau gagal, hilang kontak di Elbrus selama sembilan hari, menghadapi ancaman frostbite di Antartika, menjelajah dinginnya Denali demi harga diri bangsa, dan mengukuhkan gelar membanggakan bagi Indonesia sebagai negara ke-53 di dunia yang menempatkan pendakinya sebagai The Seven Summiteersadalah hal lain bagi mereka, dan mungkin hanya mereka yang mengerti. Seperti kata Sir Edmund Hillary dalam pendakian pertamanya ke Everest, “Well, we knocked the bastard off!” Ya, You knocked the bastards off!

Mahitala, dari Sinilah Mereka Memulai

Salah satu sudut ruangan di Sekretariat Mahitala
Mahitala sendiri berdiri pada tanggal 14 April tahun 1974. Pada awalnya Mahitala ini berada di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan. Mahitala berdiri karena pada saat itu Frans Setiawan (pendiri Mahitala) meninginkan membuat sebuah kegiatan mahasiswa yang tidak ada hubungannya dari kegiatan politik. Ya, memang pada tahun 1974 mahasiswa sangat berperan dalam kegiatan-kegiatan politik dalam negeri. Hafizh Sufnir, Ketua Mahitala periode 2011 – 2012 pun menjelaskan bahwa pembentukan Mahitala saat itu didasari oleh keinginan dibentuknya organisasi mahasiswa pecinta alam yang tidak memiliki hubungan dengan kegiatan politik.

Sejak saat itu hingga kini Mahitala memiliki beberapa kegiatan rutin setiap tahunnya. Yaitu,  Wandering Season dan diklat. Wandering Season adalah anggota Mahitala mencoba untuk membuat sebuah ekspedisi. Sejak era 1990-an perekrutan anggota baru Mahitala melalui diklat dilaksanakan setahun sekali. Melalui diklat para calon anggota baru mendapatkan lima kemampuan dasar yaitu, tali temali, navigasi, medis, survival dan SAR. Keanggaotaan bagi anggota baru Mahitala yang baru selesai melakukan diklat mendapatkan title sebagai anggota muda. Setelah itu baru di angkat menjadi anggota biasa sesuai dengan keputusan dewan pengurus. Untuk anggota Mahitala yang telah lulus dan meninggalkan kampus mereka diberi title anggota lama.

Satu hal yang selalu menjadi ciri khas dari Mahitala adalah kekeluargaan antar anggotanya. Antara anggota lama dan anggota baru memiliki rasa kekeluargaan yang kuat karena didasari hobi yang sama dan yang terpenting di Mahitala tidak memiliki budaya senioritas antar angkatan, tapi tetap menjunjung rasa hormat.

Click the link above to read the full feature.

Perkebunan Teh Malabar, Sejarah dalam Tetirah

Perkebunan Teh Malabar, Sejarah dalam Tetirah
"Pelesir menelusuri jejak perkebunan teh di tanah Priangan, dirasa tak lengkap jika tak berkunjung ke Perkebunan Teh Malabar. Perkebunan Teh yang yang konon pada masa kolonialisme Belanda tersebut, berhasil menjadi kontributor utama perkembangan kemajuan Kota Bandung pada awal abad ke-20 ini, menyimpan banyak sejarah. Sebuah perjalanan tergurat hebat. Epik! adalah kata yang tepat menggambarkan bagaimana salah satu sistem paling menyengsarakan diterapkan pada rakyat Indonesia pada masa kolonialisasi, Cultuurstelsel. Ya, di sini tempat kami melihat, diorama sejarah dalam tetirah. "

Perekebunan teh Malabar

Kuda besi kami mulai berlari, meraung 45 km ke selatan Kota Bandung. Dengan buah kecintaan Haryoto Kunto terhadap Bandung di tangan, kami benar-benar penasaran. Kebetulan kami bertiga satu tujuan, lebih sialnya lagi, terjebak dalam satu perjalanan.
Menempuh perjalanan hampir 2 jam lamanya dari pusat Kota Bandung, membuat kami cukup kelelahan. Jalan yang berkelok-kelok dan curam diselingi kabut tipis membuat kami ekstra hati-hati, meski sesekali kami melakukan manuver-manuver pongah di jalan, layaknya sekelompok mardijker yang baru bebas dari tuan.
Siang hari biasanya matahari sedang bertugas memaksa bayangan kami bertumpu di bawah kaki. Namun, kami lupa saat itu sedang berada di salah satu tempat tersejuk di Bandung Selatan. Gapura sebagai wujud kongratulasi merupakan pertanda kami telah sampai di perkebunan yang kini dikelola PT Perkebunan Nusantara VIII ini. Cuaca ramah dengan suhu udara berkisar antara 16 – 26 °C, memaksa kami sedikit berleha-leha memandang kebun teh dengan luas 2022 hektar tersebut, sambil mencicipi udara segar yang sudah lama tak kami rasakan.
Cuaca Pangalengan yang menurut warga sekitar  hampir selalu mendung, dengan curah hujan yang tidak dapat diprediksi membuat kami ingin berteduh ke kediaman sang thee konig era awal 1900-an K. A. R. Bosscha. Bagi kami, Ia  bukan hanya seorang tuan tanah, tapi salah satu sokoguru perkembangan ilmu pengetahuan di Kota Bandung. Beberapa sumbangsihnya bagi masyarakat pribumi adalah, kebun teh Malabar, Societeit Concordia atau yang kita kenal sekarang dengan sebutan Gedung Merdeka, Observatorium Bosscha, dan Technische Hoogeschool yang kini dikenal dengan nama Institut Teknologi Bandung.
Kediaman Karel Albert Rudolf Bosscha, Pangalengan, Bandung Selatan
Benar saja, tak lama kami sampai di sebuah rumah bergaya kolonial Belanda, yang hingga kini masih terjaga. Beberapa pemugaran telah dilakukan, tapi keaslian tetap yang utama, “Sebagian besar barang-barang yang ada di dalam masih asli,” ungkap salah satu pengelola rumah tersebut. Kini, rumah tersebut digunakan oleh pihak direksi PT Perkebunan Nusantara VIII hampir tiap akhir pekan untuk keperluan acara khusus. Sayang sekali kami tidak bisa masuk ke dalam, dan hanya bisa mengintip dari jendela, karena saat itu sedang ada persiapan acara direksi.
Ada satu hal yang membuat kami merasa senang, ternyata di sekeliling kediaman filantropis Belanda ini, ada beberapa kamar, bungalow, dan rumah yang disewakan bagi pengunjung. Terdapat sekitar 11 kamar penginapan berkapasitas 2 orang, sembilan diantaranya adalah kamar standar atas dengan harga mulai Rp220.000,- hingga Rp385.000,-/malam, dan dapat naik hingga Rp495.000,-/malam pada liburan hari raya. Tersedia pula 7 rumah Camelia, rumah panggung tropis tradisional yang dapat menampung sekitar 6 orang pengunjung yang dibanderol dengan harga Rp715.000,-/malam pada hari biasa dan dapat naik hingga Rp880.000,-/malam pada hari raya. Untuk pengunjung yang membutuhkan tempat berkapasitas besar, dua buah wisma Melati, yakni penginapan berupa rumah tak jauh dari kediaman Bosscha pun disewakan. Konon, wisma Melati ini merupakan bekas kediaman Deputi Manajer pertama Malabar pada awal tahun 1900-an. Rumah pertama dapat memuat sekitar 40 orang, dan rumah kedua dapat memuat sekitar 50 orang dengan fasilitas 4 kamar tidur dan dua kamar mandi dibanderol dengan harga Rp990.000,- hingga 1.320.000,-.
Penginapan jenis "Rumah Camelia" di Perkebunan Teh Malabar, Pangalengan, Bandung
Ketiga fasilitas di atas merupakan pilihan bagi pengunjung. Namun, pengunjung pun harus dapat menentukan fasilitas mana yang paling cocok. Karena, walaupun Wisma Melati dibanderol lebih murah, segi perawatan daerah sekitar bangunan dan lokasi pun harus menjadi perhatian utama pengunjung. Daerah yang apik dan bersih tentu saja menunjang keselamatan dan keamanan pengunjung. Beberapa tempat memang terlihat terawat, tapi ada diantaranya yang sepertinya luput dari perhatian pengelola. Selain penginapan, tempat ini pun dilengkapi fasilitas rekreasi dan wisata ilmiah seperti, kolam renang air panas,camping ground, lapangan yang dapat disewakan untuk acara outdoor, tea walk. Kita pun dapat berkunjung ke makam K.A R. Bosscha.
Miftahul Firdaus salah satu pengunjung mengungkapkan ketertarikannya terhadap objek wisata Perkebunan Teh Malabar, “Jujur saja, objek wisatanya sangat menarik, tapi akses menuju tempat tersebut cukup sulit, harus menggunakan kendaraan pribadi atau travel, agak sulit jika menggunakan kendaraan umum,” jelasnya. Diakui Miftah, segi perizinan terkesan cukup rumit. Pengunjung tidak bisa langsung datang dan menginap, melainkan harus menghubungi kantor pusat PT Perkebunan Nusantara VIII di daerah Dago. Hal ini dilakukan karena perkebunan dan segala fasilitasnya dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara VII.
Berziarah Ke Tempatnya Bertetirah
Peristirahatan terakhir Karel Albert Rudolf Bosscha
Bagi kami yang tumbuh dan besar pada era 1990-an tentu saja mengenal film anak-anak yang menjadi titik tumpu tumbuhnya industry perfilman Indonesia, Petualangan Sherina. Dalam film tersebut diceritakan, dua orang anak terjebak di sebuah tempat peneropongan bintang di daerah Lembang yang saat ini kita kenal dengan nama Observatorium Bosscha. Pendirinya adalah seorangpreangerplanter yang karena kecintaannya terhadap Bandung, ingin abadi bertetirah di tengah Kebun Teh miliknya, Ialah K.A.R. Bosscha.
“Karel Alberet Rudolep Bosa nama lengkapnya teh,” seorang Bapak yang tak muda lagi tiba-tiba turut bergabung dalam percakapan seru kami bertiga. Dengan logat Sunda-nya yang kental, Ia menyebutkan nama lengkap Karel Albert Rudolf Bosscha. Bah Upir namanya, seketika kami mulai akrab, tentu saja karena kami pun berceloteh dalam bahasa yang sama, Bahasa Sunda. Bah Upir bercerita bahwa dahulu, Bosscha-lah yang meminta untuk dikuburkan di tengah-tengah ladang teh miliknya. Kecintaan dan kontribusi Bosscha terhadap Bandung adalah hal yang belum tentu dimiliki generasi saat ini. Sebuah ironi memang.
Bah Upir pun menyilahkan kami memasuki komplek pemakaman. Makam gaya Eropa dengan tembok tinggi menjulang di atapnya mirip kubah, hampir serupa dengan atap bangunan yang dulu selesai dibangunnya pada 1928, Observatorium Bosscha. Warna putih pun mendominasi, dengan dua buah kursi tempok putih tertanam di kanan dan kiri area berbentuk lingkaran tersebut. Takjub, inilah ternyata tempat peristirahatan terakhirnya. Memilih untuk mengabdikan diri sepenuhnya pada Malabar, bahkan hingga akhir hayat. Begitulah rumah sejati, tempat dimana Anda putuskan untuk beristirahat dengan tenang.
Itulah visualisasi liburan di kaki Malabar. Bagi kami, tak ada alasan untuk tak mencoba, karena kami selalu percaya ungkapan Paul Theroux, “Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu, bukanlah perjalananku,”. Kami tak lebih banyak tahu tentang dunia dan segala isinya, termasuk Anda. Maka, menjelajahlah! 

“Bagimu Persib Jiwa Raga Kami”


"Berangkat dari ungkapan Portland Oregonian , “Sepakbola mungkin tidak bisa menjelaskan semuanya, namun bisa dipakai sebagai titik berangkat untuk memahami pergeseran politik, perekonomian global, dan masalah keagamaan,”. Mungkin terlalu berat berbicara isu global kelas kolosal, tapi kami berangkat menuju kandang macan untuk menyimak kecintaan mereka –masyarakat Bandung– terhadap Persib, simbol kejayaan sepakbola Bandung."
Persib, 2011 (Dimas Edi Sembada)


Persib adalah jiwa raga, bagi mereka yang mencintai bukan hanya sekedar hobi, tapi mencintai karena alur napasnya turut ditunjang nama besar sang marsekal biru. Siang itu Bandung pada puncak kulminasi. Kami sambangi markas Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung (Persib). Saat itu suasana tampak lengang, karena hampir seluruh pemain, pelatih, dan manajer tim bertandang ke Balikpapan.

Tujuan kami memang bukan untuk melihat anggota tim Persib, mata kami mulai terbuka saat memirsa kecintaan masyarakat Bandung akan tim yang mereka klaim sebagai miliknya. Bagi bobotoh  –Sebutan bagi pendukung Persib– “Persib nu aing” bukan hanya sekedar aksioma retoris, tapi janji bagi sebuah kehormatan.

Persib merupakan salah satu tim besar yang disegani di Indonesia. Hal itu berkat sejarahnya. Hingga saat ini setelah Liga Indonesia pertama Persib memang belum pernah menjadi juara di ajang apapun. Namun yang menarik, meskipun Persib berpuasa gelar selama 19 tahun, bobotoh selalu setia pada Persib. Berbagai komunitas didirikan sebagai ajang perkumpulan para bobotoh, sebut saja Viking, Flower City Casual, dan Bomber.

Ayi Beutik saat siaran di Radio Bobotoh
Ayi Beutik, punggawa di balik berdirinya Viking ini merupakan contoh dimana kecintaan dan fanatisme tersebut berkembang. Ia memberi nama anak pertamanya Jayalah Persibku, dan anak keduanya Usab Perning yang berarti Persib. “Sebenarnya Jaya -panggilan Jayalah Persibku- adalah doa untuk Persib, jadi setiap hari saya memanggil Jaya… Jaya… mungkin hanya saya yang mendoakan Persib setiap jam setiap menit,” tandasnya.
Tak hanya bentuk kecintaan, Ia pun secara gamblang menjelaskan bagaimana awalnya Viking terbentuk. Viking yang pada awalnya beranggotakan 50 orang merupakan komunitas yang cukup radikal. Tiap pertandingan, Ayi mengaku selalu berurusan dengan pihak berwajib, “Sampai dulu saya pernah membuat aturan kalo Anda mau masuk Viking anda harus berkelahi dulu,” tambahnya. Menurut informasi  Ayi, Viking adalah salah satu jaringan supporter sepakbola dunia. Viking se-dunia pernah berkumpul, ada yang berasal dari Napoli,  Jepang,  Milan, dan Spanyol. Untuk kawasan Asia, Viking adalah satu-satunya, dan baru pada tahun 2000 lahir Viking di Shibuya, Jepang. Mendengar kisah Ayi, mengingatkan kami pada Alan Garrison, komandan salah satu kelompok hooligan Inggris yang terorganisasi pada pertengahan tahun 1960-an, dan kecintaannya pada Chelsea.

Menjelajah polah Viking, tentu tak dapat dipisahkan dari permusuhannya dengan The Jak Mania Jakarta. Anarkisme tersebut diakui Ayi merupakan hal biasa dalam sepakbola. Permusuhan Viking dengan The Jak Mania pun berawal pada 1999 ketika itu pertandingan di Stadion Siliwangi, Viking enggan kedatangansupporter tim tamu, ketika kapasitas stadion Siliwangi tak mampu menampung animo bobotoh yang ingin menyaksikan tim kesayangan mereka , tapi The Jak Mania memaksa masuk, akhirnya kerusuhan pun tak terelakan. Cerita pun berlanjut ketika Viking mendukung Tim Nasional Indonesia di Senayan.

Puncaknya adalah pada acara kuis Siapa Berani yang berujung pada perusakan bis yang ditumpangi Viking.
Menurut Yusar, dosen Sosiologi dari Universitas Padjadjaran mengatakan, tidak ada garis mutlak yang dapat menjelaskan fanatisme sejauh apa, karena fanatisme sendiri bersifat relatif. “Kalau pendukung tim tersebut sudah menjiwai slogannya, itu bisa disebut fanatis,” ungkapnya. Fanatisme bobotoh terhadap Bandung dapat disebabkan oleh dua hal, dari dua sisi berbeda yaitu timbulnya lokalisasi kedaerahan dan hasil ekstraksi kapitalisme. Berbincang mengenai hal ini membuat kami membayangkan bagaimana jika Persib kehilangan huruf “B”nya. B untuk kata Bandung merupakan sebuah identitas dan bentuk lokalisasi kedaerahan yang menciptakan ikatan antara pendukung dengan tim kesayangannya. “Lihat saja Persijatim, yang pernah pindah markas ke Solo, orang-orang Jakarta Timur sendiri terlihat tidak merasa dekat dengan Persijatim,” tambahnya.

Lalu bagaimana dengan simbolisasi Persib adalah jiwa raga dan berbagai jargon lainnya? Ia melihat hal tersebut sebagai sebuah jargon yang masuk dalam struktur berpikir, kemudian diterima. Bagi bobotoh, slogan-slogan tersebut nampak seperti sebuah epos yang masuk dan tidak hanya diterima, tapi diaplikasikan dalam kehidupan.

Terkait dengan anarkisme, secara sosiologis Yusar menjelaskan, bagi orang Sunda, keterikatan terhadap “leumah cai” –kampung halaman– sangat tinggi, sehingga bisa saja menutup mata bahwa secara objektif tim lain bermain lebih baik. Fanatisme yang berujung pada anarkisme pun dapat dikaitkan dengan konteks kekinian yang merupakan cerminan tekanan hidup yang memicu naiknya derajat stress warga Bandung. Hal ini dikaitkan dengan anarkisme beberapa oknum supporter saat kemenangan tak berpihak pada Maung Bandung.

Max Timisela, Mantan Pemain Persib dan Tim Nasional Indonesia
Dari segi pemain, supporter dan euforianya diakui dapat dijadikan pembangkit semangat. Max Timisela, salah satu punggawa Persib dan Tim Nasional Indonesia yang berjaya pada pertengahan tahun 60-an hingga akhir tahun 70-an mengungkapkan, bahwa lokalitas pemain jelas berpengaruh. “Sekarang kan mereka imigran kebanyakan. Sudah selesai main ya balik, kalau kita kan pemain lokal, terus kalo kalah, mau dikemanakan muka kita,” tandasnya. Ia menambahkan, perbedaan antara pemain lokal dan pemain asing adalah hati. Ia menambahkan, “Pemain lokal benar-benar mendedikasikan hatinya untuk Persib,”. Max yang dilahirkan di Cimahi ini mengaku, baginya Persib adalah nomor satu, sedangkan keluarga baru nomor dua.

Fanatisme dalam hal ini pun bisa disebut sebagai fanatisme yang evolutif, misalnya klub besar seperti Manchester United (MU), meskipun Indonesia jauh dari Inggris, tapi banyak pula masyarakat Indonesia yang mengidolakan MU hal ini pun dapat disebut sebagai proses kapitalisme lanjutan. “Yang bisa diberi label dan laku, maka hal tersebut akan memberi benefit, bisa dibilang hasil ekstraksi kapitalisme itu sendiri,” jelas Yusar.

Adalah Mudji, pemilik sebuah bengkel sederhana di daerah Jalan Jenderal Achmad Yani, Bandung yang Ia beri nama Radiator Persib. Orang-orang yang menggunakan jasanya mungkin tidak pernah tahu bagaimana Persib bisa menunjang kehidupan bapak yang telah berhasil menyekolahkan dan memenuhi kebutuhan rumah tangganya dari usaha tersebut. Namun, baginya Persib memiliki arti lain.

“Buat saya Persib itu nomor satu, walaupun belakangan ini Persib tidak seperti dulu lagi,” ungkapnya. Kecintaannya terhadap Persib pun yang telah membuatnya memilih nama unik bagi bengkel berusia 19 tahun yang dulu berlokasi di tanah tempat markas Persib Bandung saat ini berdiri. “Radiator Persib ini sudah ada sebelum stadion dan mess Persib ini semegah sekarang, sampai akhirnya ada renovasi, dan saya tereliminasi karena tidak boleh jualan di dalam,” tambahnya. Meskipun begitu, Ia mengaku kecintaannya terhadap Persib tak pernah berhenti dalam keadaan apapun.

Mudji, Pemilik Radiator Persib
Setali tiga uang dengan Mudji, Toni pewaris bisnis keluarga Mie Kocok Persib pun merasakan hal serupa. Sudah lebih dari 30 tahun, usaha Mie Kocok milik ayahnya berdiri di sarang Maung Bandung ini ada. Bukan hanya dari segi penamaan, kecintaan masyarakat Bandung terhadap klub ini pun mendatangkan keuntungan lebih baginya, “Kalau Persib mau main di Jalak Harupat, sehari sebelumnya banyak supporter yang berkumpul dan makan di sini,” ujarnya.

Yusar pun menambahkan, hasil ekstraksi kapitalisme tersebut dapat Ia lihat di Persib baru-baru ini, sedangkan yang terlihat di Persib dahulu adalah lokalitasnya saja. Menurutnya, saat ini label Persib bisa memberi jaminan keuntungan, maka dapat dipakai sebagai strategi pasar.

Merupakan sebuah pengalaman lain bila dapat meneropong Bandung dari sisi binokuler lain. Kenyataannya bagi sebagian orang, Persib adalah harga diri orang Bandung. Harga diri yang patut dipertahankan. Meski hingga kini Persib belum kembali membuktikan kejumawaannya, tapi hanya bobotoh sejati yang mencinta untuk kalah dan menangnya. Persib, iraha juara deui lur?


Monday, March 5, 2012

Sewu di Tengah Prambanan, Repesentasi Akulturasi

Dwarapala di Candi Sewu, Komplek Prambanan
Kerajaan Mataram merupakan salah satu kerajaan terbesar yang muncul sekitar tahun 732 Masehi. Mataram saat itu diperintah oleh seorang raja bernama Sanjaya, seorang bangsawan Hindu. Sekitar tahun 750 Masehi, kemunculan dinasti Syailendra memaksa Sanjaya beserta seluruh anggota keluarganya mengasingkan diri keluar dari wilayah kekuasaan Mataram. Satu abad kemudian, seorang keturunan Sanjaya bernama Rakai Pikatan menikah dengan seorang keturunan keluarga Syailendra, kemudian Rakai Pikatan kembali berkuasa dan melahirkan kembali kebudayaan Hindu, terutama dalam arsitektur pembangunan candi dalam komplek Candi Prambanan.
Bersama Dwarapala

Candi terbesar yang ada dalam komplek Candi Prambanan ini disebut Candi Roro Jonggrang, candi ini memiliki legenda seribu candi yang mengisahkan Bandung Bondowoso seorang pria yang ingin menikahi seorang putri bernama Roro Jonggrang. Sang putri menolaknya secara halus dengan cara mengajukan permintaan dimana Bandung Bondowoso harus membuatkan seribu patung dalam waktu satu malam. Bandung Bondowoso mengerjakan candi terakhir dibantu dengan kekuatan jin. Namun, karena khawatir candi terakhir akan dibangun, Roro Jonggrang mengarahkan para wanita untuk memukul-mukul alat-alat penumbuk padi yang menjadi tanda bahwa pagi telah datang. Hal ini membuat jin-jin yang membantu Bandung Bondowoso pergi. Roro Jonggrang kemudian membangunkan Bandung Bondowoso dari semedinya, kemudian Ia tahu bahwa Roro Jonggrang menipunya. Bandung Bondowoso sangat murka, kemudian mengutuk Roro Jonggrang menjadi sebuah patung yang kemudian melengkapi permintaan Roro Jonggrang, genap seribu patung.
Prambanan sendiri sering disebut-sebut sebagai candi Hindu tertinggi dan terindah di dunia. Dahulu Candi ini dibangun pada tahun 856 Masehi, dengan tujuan menghidupkan kembali napas Hindu kerajaan Sanjaya. Candi tersebut kemudian ditinggalkan dan hancur dalam sebuah gempa bumi dahsyat pada abad ke – 16. Pembenahan terhadap candi tersebut pun terus dilakukan terutama saat terjadinya gempa beberap tahun lalu di Yogyakarta, yang juga membuat sedikit kerusakan di beberapa bagian Candi. Candi Prambanan yang bernapaskan hindu pun memiliki relief yang sangat unik. Berkisah tentang tokoh Ramayana yang terukir dalam candi. Dengan relief yang sangat artistic, indah dan detail. 
Simbol Akulturasi Hindu-Buddha
Candi Sewu, terletak sekitar 800 meter dari Candi Roro Jonggarng ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki, atau dengan menyewa sepeda seharga Rp10 ribu per orang atau sepeda tandem Rp20 ribu per sepeda, dengan sepeda ini pengunjung dapat leluasa mengelilingi komplek Candi sekaligus berkunjung ke Candi Sewu yang tergolong sepi pengunjung. Candi Sewu ini merupakan Candi Buddha yang dibangun oleh Rakai Pikatan, karena Ia menikah dengan seorang wanita beragama Buddha. Ketika masuk ke dalam komplek Candi Sewu, pengunjung akan disambut oleh dua dwarapala yang memiliki sosok tubuh tambun sambil membawa alat pemukul. Patung tersebut menjadi symbol penjaga yang juga terdapat di bagian dalam kraton Yogyakarta.

Rinjani, Suguhan Lengkap dari Sang Dewi

“Jangan bilang sedang pergi main-main ke Rinjani, Gunung ini bukan tempat main-main ini sakral!”, ungkap seorang warga. Bagi masyarakat sekitar, Rinjani memang dianggap sakral.
Saya dan Danau Segara Anak
Malam hari sebelum memulai perjalanan, kami bermalam di Sembalun, setelah menempuh perjalanan darat lebih dari 1000 km ke Timur. Seperti malam-malam biasanya di Sembalun, kami disuguhi jutaan gugus bintang, semacam bentuk apresiasi karena telah sampai di titik awal. “Jangan bilang sedang pergi main-main ke Rinjani, Gunung ini bukan tempat main-main ini sakral!”, ungkap seorang warga. Bagi masyarakat sekitar, Rinjani memang dianggap sakral, salah satu buktinya adalah upacara yang diadakan di tepi Danau Segara Anak.
Puncak! Taken by Om Beko
            Treknya luar biasa dan tidak membosankan, apalagi bagi pendaki yang ingin menempuh jalur berbeda ketika berangkat dan pulang. Saat berangkat, kami menempuh jalur Sembalun, dan pulang melewati Senaru. Kedua jalur ini memiliki karakter trek yang berbeda, akan sangat menyesal bila tak mencoba keduanya.
Sembalun, lengkap dengan perbekalan untuk seminggu, jalur menuju 3726 mdpl itu kami sapa pukul 08.30 WITA, pemandangan khas masyarakat Sasak yang membawa hasil panen dan juga perbekalan di sekitar kaki gunung memberi keakraban tersendiri bagi kami. Puncaknya terlihat begitu dekat. Dengan estimasi porter berkecepatan tinggi, basecamp di Plawangan Sembalun konon dapat ditempuh dalam waktu 8 jam. Namun bagi sebagian pendaki yang ingin bersantai, Plawangan dapat ditempuh hingga belasan jam, melewati tiga pos. Sembalun menyuguhkan variasi trek, mulai dari hamparan savanna yang panas membakar, jalan dengan bebatuan besar, jalur lahar, hingga jalan yang mendaki tajam.
Gunung Barujari, Danau Segara Anak; Taken by Reni Purnama Sari
Tiba di Plawangan Sembalun, tempat pendaki berkemah dan beristirahat, terlihat Danau Segara Anak sekitar 500 meter di bawah kaki berpijak, Gunung Barujari di tengah danau, dan dari kejauhan tampak Gunung Agung di Pulau Bali. Dari Plawangan, semua tampak seperti pameran diorama yang apik.
Puncak dapat ditempuh dalam waktu sekitar 4-5 jam, jalan menuju puncak lebih berpasir dan licin. Para pendaki biasanya memulai perjalanan sekitar pukul 02.00 WITA, sehingga matahari terbit menjadi latar yang menawan. Dari Plawangan Sembalun, kaki beranjak menuju Danau Segara Anak. Trek yang dilewati jauh lebih terjal, licin dan berbatu. Kadang jarak pandang sangat minim disebabkan kabut yang tebal. Perjalanan turun menuju Danau Segara Anak memakan waktu sekitar 4-6 jam.
Suasana kemah sekitar Danau lebih hangat, wajah-wajah sumringah para penyerang puncak lebih semarak. Berendam di mata air panas, memancing, membakar ikan, atau sekedar berfoto di sekitar danau pun rasanya cukup untuk menghabiskan hari. Bagi yang ingin pulang lewat jalur Senaru, mendaki ke Plawangan Senaru adalah syarat. Dalam perjalanan dari Danau Segara Anak menuju Plawangan Senaru, hutan, padang edelweiss, dan jalan kecil dengan bebatuan terjal dan jurang akan dilewati.
Dari Plawangan Senaru, menuju kaki Gunung, trek licin berpasir wajib diterjang. Memasuki kawasan hutan, sergapan akar dari pepohonan rindang sekitar perlu diwaspadai, trek ini dapat ditempuh dalam waktu 3-8 jam tergantung kecepatan. Akhirnya sebuah gapura bertuliskan “Taman Nasional Gunung Rinjani, Pintu Senaru” terlihat. Bagi kami, ini semacam kongratulasi!

Thursday, March 1, 2012

Hura-hura, Huru-hara, Haru-BIRU!



Sudah saya putuskan, untuk bergabung bersama kalian. Sudah saya coba untuk relakan, yang saya bisa untuk kalian. Tak jarang marah dan kesal berkoloni, membuat kongsi dagang sendiri. Pernah juga sakit hati masih menjagal. Tapi apa peduli? Ketika kita sama-sama bediri, kata “aku” singkirkanlah. Maka kini para marsekal sinikal siap menendanglah.
Ini cerita tentang mental-mental tempe yang bersporadis, berjamur, tumbuh menjadi utuh. Mengenang kembali segala kesalahan, segala argumentatum ad hominem, segala tutur ucap beragam fonem, segenap jengah dan sedu sedan, hingga apex kemenangan.
Sampai suatu hari kita berevolusi, dari yang sebelumnya sampah, menjadi sampah-sampah daur ulang. Karena, “sampah itu tidak selamanya tanpa guna, sampah bisa didaur ulang!” Sampai jumpa di kulminasi atas JURNALISTIK 2010! Kalianlah hura-hura, huru-hara, dan haru-BIRU saya.

-arziativany-

Wednesday, February 22, 2012

Dr. Indra Perwira, S.H., M.H: Antara Kerja Sosial dan Pengembalian Aset

Dr. Indra Perwira, ketika diwawancarai mengenai rancangan Undang-Undang Asset Recovery di kantornya, Jl. Imam Bonjol No. 21, Sabtu (12/11).
           
Dalam Koran Kompas, Rabu (9/11), terdapat sebuah berita berjudul kejaksaan utamakan pengembalian aset koruptor. Dalam koran tersebut Jaksa Agung menyatakan, “Percuma kita menghukum orang tetapi tidak bisa mengembalikan kerugian Negara…”, selain itu, Jaksa Agung pun menyatakan, “Jadi, kita sita dulu sebanyak-banyaknya, baru dibuktikan nanti saat proses penyidikan, sehingga bisa dipertanggungjawabkan.” Hal tersebut menimbulkan banyak pendapat lain salah satunya pendapat Indra Perwira, dosen Hukum Tata Negara dan Teknik Perundang-Undangan, Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran.
            Saat ini, ada pula wacana mengenai Undang-Undang Asset Recovery para koruptor, yang konon akan dibentuk, sesuai dengan konvensi Anti-Korupsi PBB. Sebenarnya menurut Indra Perwira, perihal denda dan pengembalian asset telah tercantum dalam UU No 30 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Jika terlalu berorientasi pada pengembalian aset tanpa menjatuhkan hukuman yang membuat jera juga dirasa tidak etis. Ia menganggap penanganan kasus korupsi di Indonesia masih setengah-setengah. Berikut perbincangan lengkap dengan Indra Perwira di kantornya Jl. Imam Bonjol No 21 Bandung, Sabtu (12/11).


Menurut Anda, komitmen Indonesia dalam menangani kasus korupsi ini seperti apa bentuknya?
Pertama kan kita memang sejak reformasi punya komitmen untuk memberantas korupsi, selain kita membuat Undang-Undang Tipikor, kita buat KPK, lalu berbagai instrumen kita ubah juga, Undang-Undang Keuangan, Undang-Undang Transparansi, macam-macam ya. Tapi begini kalau kita lihat undang-undangnya itu kan memang ada beberapa kategori tindak pidana korupsi, katakanlah ada sekitar tujuh kategori, jenisnya macam-macam. Sebagian dari tindak pidana itu kan ada dalam hukum kita, kaya suap di KUHP itu sudah ada, penggelapan, mark up itu sudah ada, yang baru itu hanya soal gratifikasi yaitu menerima hadiah.
Sudah se-luar-biasa apakah korupsi sehingga ada undang-undang tersendiri dan juga Pengadilan khususnya?
Nah, kenapa dibuat undang-undang tersendiri, karena kita menganggap korupsi itu sudah menjadi extraordinary crime, kejahatan yang nggak bisa lagi ditangani secara biasa. Akhirnya kita buat acaranya juga khusus Peradilan Tipikor ada juga KPK yang juga punya Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) yang diharapkan bisa memberantas korupsi.
Lalu, menurut Anda sejauh ini penanganan kasus korupsi di Indonesia seperti apa?
Dari berbagai kasus korupsi yang saya amati, meskipun Undang-Undang itu mengancam hukuman Pidana lebih berat daripada di Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), jadi dikeluarkan oleh KUHP. Di Undang-Undang satu dia kasih ancaman berat, maksudnya supaya orang jera, tapi dalam praktik toh hukumannya tetap ringan-ringan saja, dikasih yang minimal, itu pun ada hukuman minimal, tapi dijatuhkannya yang minimal. Jadi kalau kita baca atau kumpulkan itu relatif antara satu setengah tahun sampai tujuh tahun, rata-rata empat tahun hukumannya. Kalau kita bicara dalam sistem pidana, itu belum nyambung dalam sistem permasyarakatan, karena kalau dihukum empat tahun, masuk Januari, bulan Agustus bisa dapat remisi, potongan-potongan. Di hari besar lainnya nanti dapat lagi remisi, sehingga dalam waktu satu setengah tahun sudah dapat melenggang keluar. Kalau ditanya bagaimana pendapat saya, ya masih setengah serius, belum terlalu serius.
Lalu penaganan apa yang seharusnya dilakukan?
Korupsi itu kan ada dua, by greed karena keserakahan, atau juga by system. Jadi kalau orang itu berada dalam sistem yang buruk, itu akan membusukkan siapa saja. Salah satu cara memberantas korupsi itu adalah dengan upaya mencegah peluang orang-orang melakukan tindak pidana korupsi. Itu yang harus dilakukan adalah menata sistem kita, mulai dari sistem birokrasinya, orang-orang kebutuhannya dipenuhi karena ada juga corruption by need karena memang nggak cukup. Ini dalam reformasi itu kan harusnya kita mengkaji berapa sih pantasnya kita membayar karyawan kita. Itu sistem sebenarnya. Mestinya dalam waktu sepuluh sampai dua puluh tahun, itu kita benahi seluruh sistem kita. Semua celah-celah untuk melakukan hal itu kita tutup.
Selain masalah sistem, hal apa lagi yang harus dibenahi dalam hal penanganan korupsi di Indonesia?
Kita harus punya strategi budaya.  Jadi selain sistem itu kan bukan hanya membenahi hukum saja. Kalau dalam kultur kita, kan korupsi itu terpengaruh dari kultur ya. Kadang-kadang kita menghadapi dilemma seperti ini, pada saat orang menyumbang, untuk bangun masjid, untuk fakir miskin, itu kan dilihat uang sumbangannya, kemudian mengucapkan terima kasih dan didoakan suapaya dia dapat lagi, sambil kita gak berani tanya itu duit dari mana. Itu sih menjadi kultur ya, kultur. Jadi kita tutup rejeki itu dari Allah. Baik yang halal maupun haram. Ini budaya ini sulit diubahnya, ini perlu keteladanan. Saya melakukan itu mulai dari rumah sendiri. Anak-anak saya sudah paham, sudah anti-korupsi, karena semenjak kecil saya sendiri menanamkan pola hidup anti-korupsi, walaupun terpaksa hidupnya susah, tapi kan itu meng-invest satu generasi minimal anak-anak saya, dan kalau mereka jadi pemimpin, mereka punya kesempatan untuk menularkan pada bangsa ini.
Saat ini kan sudah ada Undang-Undang tentang Korupsi UU No 31 Tahun 1999 Itu, kemudian akhir-akhir ini muncul wacana tentang Undang-Undang Pengembalian Aset Hasil Korupsi. Menurut Bapak bagaimana?
Sebenarnya Undang-Undangnya sudah ada, UU No 31 Tahun 1999, nah ini juga merupakan pendekatan yang salah, pendekatan yang konyol, nggak boleh.
Jadi bagaimana menurut Anda mengenai pernyataan-pernyataan dalam berita yang sudah Anda baca ini?
Korupsi itu suatu kejahatan, bisa saja terhadap uang negara, bisa saja terhadap uang perusahaan, aset itu bisa aset negara maupun aset perusahaan. Yang harus dipidana itu kan si pelaku, buktikan dulu dia salah sama enggaknya. Dihukum katakanlah tujuh tahun, empat tahun. Itu ada hukuman tambahan, diwajibkan mengembalikan aset atau membayar denda. Jadi, hukuman itu kan bisa penjara bisa denda, bisa dua-duanya. Nah, jadi kalau dia mengambil 30 trilyun, ya didenda saja dengan membayar 30 trilyun. Kalau nggak subsider ganti kurungan tambahan berapa gitu. Tapi kalau judulnya begini, mengembalikan aset, yang penting duit kembali. Jadi, seolah-olah pelakunya nomor sekianlah kalau dipenjara mah, yang penting duit kembali. Ini justru bisa menimbulkan kompromi-kompromi. Buat saya ini justru statement yang ngaco.
Mengutip pernyataan Jaksa Agung, saya mau bertanya juga mengenai pendapat Jaksa Agung begini, “Percuma kita menghukum orang, tetapi tidak bisa mengembalikan kerugian Negara…”. Menurut Anda mana yang harus dilakukan terlebih dahulu, menghukum dulu, atau menyita dulu?
Kita harus mengembangkan, jenis-jenis hukuman yang baru di luar hukuman penjara. Saya setuju kalau begitu intinya, artinya begini kalau katakanlah dia mencuri 1 trilyun, kita penjara empat tahun, satu setengah tahun keluar. Ya investasinya cukup besar. Negara tidak ada untungnya dengan menghukum orang, tetap kerugiannya hilang. Tapi kan hakikatnya dia yang melakukan perbuatan itu, karena itu saya sarankan hakim menjatuhkan hukuman tambahan, dan kalaupun dalam undang-undang itu diubah hukumannya.
Mengubah hukuman. Jadi bagaimana contoh pengubahan hukuman tersebut?
Artinya begini, kerja paksa, kerja sosial selama empat tahun membangun jembatan layang di kota Bandung. Itu bermanfaat, bukan duitnya dikembalikan, tapi kan dia tetap dihukum. Di Amerika, Eropa hukuman semacam itu kan lazim. Kerja sosial selama satu tahun, jadi kalau dia bangun jalan, ya dengan seluruh aset dia gunakan. Itu memang lebih manfaat. Bukan cuma pelaku pidana, untuk pelaku illegal logging sejuta hektar, dihukum lima tahun, emang hutannya kembali? Kan enggak. Lebih baik memerintahkan dia untuk menanam sejuta pohon. Darimana duitnya, terserah elu, elu kan nebang, gue gak mau tahu, diawasin itu. Itu sih oke, tapi bukan aset dikembalikan. Itu kan apa-apaan itu.
Mengenai aset-aset Indonesia yang dilarikan ke luar negeri, menurut Anda bagaimana mekanisme pengembaliannya? Apakah benar-benar sulit?
Yang pertama itu harus dibuktikan dulu si pelaku melakukan tindak pidana, setelah dia dipenjara. Kedua dibuktikan juga aset itu hasil tindak pidana. Jadi, ini pelaku tindak pidana punya harta kekayaan, ini juga harus dibuktikan bahwa ini merupakan tindak pidana kejahatan. Katakanlah ternyata ini tersebar di luar negeri, itu bisa dilakukan kerja sama. Mudah kok. Asal kita bisa memberitahu Interpol, bahwa ini memang hasil kejahatan si X.
Lalu kesulitan yang dihadapi selama ini terletak dimana Pak?
Problem-nya kenapa sulit, kesulitannya itu terletak ketika mengidentifikasi hartanya ini. Tiba-tiba saya punya warisan rumah di Florida mau disita, apa urusannya negara. Korupsi saya di Bandung, itu rumah warisan Bapak saya dulu, tidak ada urusan. Itu yang menjadi kesulitannya.
Saat ini dikatakan Singapura merupakan tempat utama pelarian aset hasil korupsi dari Indonesia, sedangkan Singapura sendiri tidak memiliki kerjasama ekstradisi dengan Indonesia, selain jalan formal, apakah ada jalan lain untuk mengontrol kemudian mengembalikan aset Negara disana?
Ada dong… ada pastinya.
Kira-kira seperti apa Pak caranya, kok selama ini seperti sulit sekali?
Itu kan bisa dengan Malaysia ekstradisinya, melalui kerjasama kita dengan Malaysia. Bisa oleh negara ketiga, bisa dibantu oleh negara ketiga nggak harus face to face dengan Singapura. Itu kan dibesar-besarkan. Sebetulnya bisa saja kerjasama dengan pihak negara lain.
Selain melalui negara lain?
Misalkan dengan lobby-ing, itu bisa banget. Bukan berarti hukum nggak ada ekstradisi, jadi nggak bisa dikembalikan.
Bagaimana contohnya dengan kasus Nazaruddin?
Dalam kasus Nazaruddin itu bisa dilakukan, buktinya dengan lobby, agar keluar dari Singapura, kita tangkap di negara lain kan bisa saja begitu.
Mengenai hukuman sendiri, Anda setuju tidak dengan hukuman mati bagi koruptor?
Hukuman mati saya setuju ya, tapi jangan ditembak.
Kenapa Pak? Perbedaannya hukuman mati yang ditembak dan tidak ditembak?
Nggak ini sekedar joke saja. Nggak ditembak tapi dikelikitik. Enak banget soalnya kalau ditembak, sekali langsung mati. Soal hukuman, setuju nggak setujunya itu bergantung pada jenisnya. Berat ringannya hukuman itu tergantung pada niat dan perbuatan. Jadi, kalau dia korupsi Rp.500 ribu, seperti di Rancaekek karena memang orang itu butuh untuk membayar sekolah, dengan orang yang katakanlah berapa puluh milyar. Mestinya beda dong hukum kita, jangan main-main sama. Untuk orang yang sudah kaya raya, terus korupsi juga, ya mungkin pantaslah dihukum mati. Tapi kan tidak semua begitu.
Kemudian, saya kembali mengutip kata-kata Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Chandra M. Hamzah yang menyatakan upaya pengembalian aset negara hasil korupsi di luar negeri terhambat karena pemberlakuan hukuman mati di Indonesia dalam www.kbr68h.com. Bagaimana menurut Anda?
Kan saat ini di Indonesia faktanya tidak ada kasus korupsi yang dihukum mati, itu mengada-ada. Kalau di ancaman, di undang-undangnya ada hukuman mati, tapi lihat secara praktiknya. Buat saya itu hukuman ringan semua. Makanya koruptor tetap saja dihukumnya ringan-ringan, belum ada yang dijatuhi 20 tahun pun belum ada. Jangan kan mati, hukuman 20 tahun saja, hukuman berat belum ada.
Lalu hukuman yang tepat itu sebenarnya bagaimana?
Lebih ke pada sistem reward and punishment menurut saya. Bukan dengan hukum pidana. Begini, kalau orang ingin menargetkan pajak, itu bukan dengan mengancam orang yang nggak bayar pajak dengan hukum pidana berat, orang nggak takut, praktiknya kan kaya Gayus. Untuk menghindari pidana ya mereka bayar Gayus, diatur sama Gayus. Malah orang-orang kaya Gayus dengan ancaman pidana dapat peluang besar, karena bisa menakut-nakuti para wajib pajak.
Haruskah kita melihat contoh baik luar negeri?
Seperti di Amerika ya. Orang yang rajin bayar pajak itu dikasih kartu titanium, platinum. Manfaatnya apa, kalau dia naik pesawat, kehabisan tiket, dijamin dapat tiket. Masuk hotel, penuh, dijamin dapat kamar. Very Important Person (VIP), Very Very Important Person (VVIP), meskipun tarifnya tarif regular. Nah orang akhirnya ingin mendapat perlakuan seperti VVIP, Very Very Important Person. Antara lain dengan membayar pajak. Kalau di kita kan VVIP itu presiden, menteri, yang ngemplang pajak. Jadi terbalik cara pandangnya.

(***)


A. Identitas
  • Nama                           : Dr. Indra Perwira, S.H., M.H.
  • Tempat/Tgl Lahir          : Jakarta, 29 April 1958
  • NIP                              : 19580429 198601 1 001
  • Email                           : perwira78@gmail.com
  • Alamat                         : Jl. Guntursari Wetan I/30, Buah Batu, Bandung.
  • Pekerjaan         :  Pengajar di Fakultas Hukum dan Program Pascasarjana                                      Universitas Padjadjaran
  • Jabatan                        :  Kepala Pusat Studi Kebijakan Negara, UNPAD
B. Pendidikan Formal
  1. Sarjana Hukum dari Universitas Padjadjaran, tahun 1985
  2. Magister Hukum dari Universitas Padjadjaran, Tahun 1992
  3. Program Doktor Universitas Padjadjaran, tahun 2009
C. Pengalaman Organisasi /Jabatan
  1. Sekretaris Jurusan Hukum Tata Negara, Universitas Padjadjaran, 1995 –1997;
  2. Wakil Kepala Pusat Penelitian Perkembangan Hukum, Lembaga Penelitian   Universitas Padjadjaran, 1999 – 2001
  3. Ketua Bagian Hukum Tata Negara Universitas Padjadjaran, 2002  - 2006.
  4. Anggota Paguyuban Hak Asasi Manusia  (PAHAM), 1997 - sekarang;
  5. Anggota Forum Diskusi Hukum (FORDISKUM) Bandung, 1997 – sekarang
  6. Ketua Asosiasi Pengajar HTN dan HAN Wilayah Jawa Barat, 2007-sekarang.
  7. Kepala Pusat Penelitian Perkembangan Hukum dan Dinamika Sosial, Lembaga Penelitian, UNPAD, 2008-2009
  8. Ketua Pusat Studi Kebijakan Negara, FH UNPAD, 2010-sekarang

Arzia Tivany Wargadiredja