Saturday, June 8, 2013

CHINA'S GASTRONOMIC FAIR! part 3

Time to hunt STREET FOODS!
Will make you drool within seconds of seeing :p

Fruits covered with sugar

Spicy white carrots and mushrooms!

Snacks snacks snacks!

I didn't believe I found this, "Satu Produk Durian" in Bahasa Indonesia WOW!

The Real HOTPOT *drooling*

Hot drink during winter :))

CHINA'S GASTRONOMIC FAIR! part 2

Welcome back to CHINA'S GASTRONOMIC FAIR part 2!
Chinese Spring Festival special foods edition

Give me a local snort please :)

Special foods on special occation


Eat, Sleep, Repeat just like Lebaran

CHINA'S GASTRONOMIC FAIR! part 1

China, known for its predicate as "the most populated country" in the world. Not only for that, China also home for the most appealing dishes! I curated some pictures of the most appealing dishes of Chongqing, known for "The City of Mountains", also for its spicy food!
Chongqing's TRADITIONAL dishes!
Photos taken by myself.


Chinese Foods without Pork? Oh impossible, (even I don't eat pork)

Salty, spicy, anddd tastes like terasi -__-


Fake "beef hotpot"

White Carrot

Taiwanese Pineapple Cake, my everlasting fave cake! Give me the cake, and I'll be yours forever! Gah! 

Still another "Fake beef hotpot"

I don't know exactly the name but this dish made of rice (just like lontong in Indonesia) and the sauce  tastes like rujak.
Just imagine eating lontong with rujak sauce

Chongqing Local Food, root of "I don't know the name of the plant"


Wednesday, May 29, 2013

A Random Conversation with a Cuban Named Jorgi: "Now, We Can Sell Houses!"


I've been always wondering of visiting some places not only for their beauty but also for their uniqueness. And if you ask me with your keen eyesight to answer 'what kind of uniqueness' is it, I'm absolutely afraid of answering "i don't know". Besides books, websites, or any other trails that could be trusted in this or any other peculiar planet, i would definitely tell you that talking with the natives is an alternative solution.

Sunday May 5th 2013. After planning to spend the whole day by rafting and swearing in all at once in Cikapundung with Rintang and Wita. Hani Fauzia told me that she couldn't exactly get the access to the River. And at the day that I thought would be ended up by 'NOTHING-AT-ALL' finally ended up with a conversation with a random guy I met in Pasar Baru Cemetery Bloc.

We joined Komunitas Aleut exploring Jalan Cipaganti, and met a guy from Cuba! Yeah Cuba! National Geographic Indonesia November 2012 edition successfully made me creating a gang of vexatious questions. Jorgi, that Cuban guy named Jorgi, or be your name 'Jorrgi' or 'Jorrggii' or 'Jorrgi' or 'Jorggi', well I don't care. That guy named Jorgi, and he didn't (or "doesn't" yes I use present tense cos I bet he still doens't) know why he came here, to Indonesia.

Arzia (A): "Was that true in Cuba (In Fidel's regime) you couldn't sell houses?"
Jorgi (J): "Yeah, that's right. We only could exchange our house, like If you've had enough with your house and looking for other situation we can exchange ours but not for sale"

*Oh boy*

A: "Why many Cubans moving to Miami illegally?
J: "It's hard to find a job and get a proper job and money. By going to Miami they'll find a better job, or make a job in the US, send the money for their family in Cuba. And if they're rich enough, they'll go back to Cuba, especially after Fidel's regime cos now they can easily find a job and they can sell something. So, mostly people from US are coming back"
A: "It's illegal, but nothing happens?"
J: "Ya, nothing happens. I don't know why Cubans are so easy getting US citizenship. So easy!"
A: "So, how's Cuba now after Fidel's regime, which is Cuba now led by Fidel's little brother Raul Castro"
J: "Cuba is better, free. Now, we can sell houses!"

*Well okay, congrats man! You looked so happy :))*
                                      

Saturday, April 20, 2013

Dilema Raja Samudera #SaveSharks

EarthDay 2013
Jaws dan Deep Blue Sea, bukanlah searangkaian film baru yang hadir di bioskop. Mereka adalah film-film yang berhasil menyedot perhatian jutaan pasang mata dengan hiu sebagai bintang utama. Serangkaian film itu pun berhasil membentuk sudut pandang kekal tentang sosok hiu yang mengerikan dan suka makan orang. Tanpa kita sadari, perkiraan ahli perikanan dunia bahwa hanya dalam jangka waktu yang diperlukan untuk menonton salah satu film tersebut (2 jam) 16.900 - 34.722 ekor hiu ditangkap di seluruh dunia, sebagian besar hanya untuk sirip mereka.
Bupati Raja Ampat, Marcus Wanma (kiri) dan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Sharif C. Sutarjo
dalam Simposium Nasional Perlindungan Hiu di Kementrian Kelautan dan Perikanan RI.

Penurunan jumlah spesies hiu kini bukanlah proyeksi masa depan lagi. Hiu mengalami penurunan jumlah sebesar 75% dan bisa mencapai 90% bagi spesies tertentu. "Penangkapan hiu dan pari ini merupakan salah satu pendapatan masyarakat nelayan di Indonesia. Akibatnya, penangkapan hiu di Indonesia termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara" jelas Dirjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K), Sudirman Saad di Kantor Kementrian Kelautan dan Perikanan RI, Jakarta. 

Data yang diperoleh FAO menunjukkan bahwa sejak tahun 2000 hingga 2008 Indonesia merupakan penyumbang hiu terbesar dengan lebih dari 100.000 ton per tahun. Dengan kenyataan seperti ini, di luar sana masih banyak masyarakat yang berbangga hati menikmati aneka jenis kuliner berbahan dasar hiu, mulai dari steak hiu, hiu saus padang, satai hiu, hiu bakar, hingga bubur hiu. Tak banyak yang menyadari bahwa hiu sebagai predator puncak dalam sistem rantai makanan di laut pun mempunyai andil besar dalam keseimbangan ekosistem laut.

Maka, jangan salahkan siapapun jika suatu saat kita akan kehilangan ikan karang seperti kerapu , lobster, dan tuna dalam daftar sajian bahari kita. Selain itu bila dibandingkan dengan perkembangbiakan ikan lain seperti cakalang, hiu sangatlah lambat. Cakalang dapat berkembang biak setelah 1,5 tahun dengan frekuensi perkembangbiakan 3 -4 kali per tahun, jutaan anak dapat dihasilkan. Bandingkan dengan hiu yang baru dapat berkembangbiak setelah berusia 7 – 15 tahun dengan frekuensi perkembangbiakan 1 kali setiap 2 – 3 tahun, dan hanya menghasilkan 1 – 10 ekor anak. 

"Hiu merupakan jenis hayati yang sangat penting dari sisi ekologi dan bisa menjamin kelangsungan ekosistem di negara kita" jamin Menteri Kelautan dan Perikanan, sharif Cicip Sutardjo. Melihat kenyataan tersebut, beberapa negara di dunia mulai melancarkan aksi melalui berbagai macam regulasi. Palau mulai 2009 melarang penangkapan hiu, Maladewa pun mengikuti jejak Palau pada 2010. Pada 2011 dibuat tempat perlindungan hiu di Honduras dan Tokelau, yang kemudian diikuti oleh Kepulauan Cook pada 2012. Tak hanya di negara-negara kepulauan, beberapa negara bagian di Amerika Serikat seperti Oregon, Washington, California, dan Illinois sukses menjalankan regulasi pelarangan kepemilikan, dan perdagangan sirip hiu.

Kabar gembira datang dari daratan Cina, sejak 2012 pemerintah Cina melarang penyajian makanan berbahan dasar sirip hiu dalam seluruh kegiatan pemerintahan. Bagaimana dengan Indonesia? Kabar datang dari ujung kepala burung Papua. Kabupaten Raja Ampat membuat terobosan luar biasa dengan menetapkan kawasan perairannya sebagai kawasan perlindungan hiu dan pari manta pertama di Indonesia melalui Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2012 tentang Larangan Penangkapan Hiu, Pari Manta, dan Jenis-Jenis Ikan Tertentu di Perairan Laut Kabupaten Raja Ampat.

Sebuah penelitian terpisah yang dilakukan di Kepulauan Bahama, Afrika Selatan, Palau, Maladewa, dan Australia menunjukkan bahwa keuntungan wisata selam dengan hiu jauh melebihi potensi keuntungan penangkapan hiu. Wisata penyelaman dengan hiu yang sehat, secara global dapat menghadirkan keuntungan berkelanjutan sekitar $ 314 juta tiap tahunnya, bandingkan dengan keuntungan yang diperoleh hanya dengan menjual sirip saja, tak lebih dari 10 persennya, kemudian mati percuma. Bahkan, Manajer Misool Eco Resort, Raja Ampat, Andrew Miners menyatakan, bahwa melihat pari manta dan hiu secara langsung merupakan puncak dari wisata selam dan menempatkan hiu dan pari manta di urutan pertama paling menarik.

Masih banyak pekerjaan rumah terkait dengan masalah lingkungan termasuk hiu. Permasalahan utama adalah tingginya permintaan hiu oleh konsumen menyebabkan penangkapan dan ekspor hiu dari Indonesia masih menjadi salah satu yang tertinggi di dunia. Jika kita sebagai konsumen tak bisa berhenti menyantap hiu dan menjadikannya lestari, jangan harap lobster bakar yang manis dan legit juga tuna dalam spaghetti aglio pedas kita tetap tersaji. Jadi, masih bangga makan hiu?

Tuesday, April 16, 2013

Friday, March 15, 2013

Kolonialisme, Pulau Rempah, dan Jailolo dari Segelas Bandrek

Tulisan ini diikutkan dalam "Jailolo, I'm Coming!" Blog Contest yang diselenggarakan oleh Festival Teluk Jailolo dan Wego Indonesia


Bagi saya yang lahir dan besar di tanah Sunda, menyeruput minuman satu ini bukanlah hal baru, bukan pula hal yang mahal jika diukur dari segi materi. Namun, ada kebanggan dan prestise tersendiri di benak saya ketika mengenalkannya pada teman-teman saya ketika berkesempatan pergi ke Negara lain, bahwa pada masanya, inilah minuman termahal di dunia! Bandrek!
http://commons.wikimedia.org/wiki/File:A_time_for_a_cup_of_coffee.jpg
Menurut saya, makan, minum, atau melakukan apapun tak bisa diukur dari sensasi indrawi semata. Sadar atau tidak dalam tiap lumatan nasi kapau yang kita makan, ada hikayat yang melekat pada orang Minang hingga sekarang, hingga muncul pertanyaan, “Mengapa nasi Padang atau nasi Kapau ada dimana-mana?” Itulah di balik hikayat merantau! Tanpa disadari pula di balik rasa manis gudeg Yogya, tersimpan sejarah masakan khas Jawa yang manis, dimana terdapat banyak perkebunan tebu pada masanya. Termasuk ketika saya menghirup harumnya dan mencecap manis-pedasnya bandrek.
doc travel.detik.com/readfoto/2010/12/10/104126/1520973/1026/1/jailolo

Seruput bandrek di pagi atau malam hari semacam ritual kembali pada sejarah. Bahwa minuman yang dibuat dari pala, cengkeh, gula aren, dan lada hitam ini punya efek luar biasa pada lahirnya sejarah di dunia. Saya ingin sekali tiba-tiba ‘menghilang’ ke kampung halaman si rempah-rempah yang ‘bikin gara-gara’ dan gempar dunia, mulai dari ‘biang keladi’ tersesatnya Colombus ke Amerika Tengah hingga ditemukannya benua Amerika, lahirnya kolonialisme di Nusantara sampai ditukarnya Pulau penghasil rempah, yakni Pulau Run dengan salah satu pulau termodern di dunia, Manhattan!

Menikmati hal-hal sederhana seperti menikmati secangkir minuman rempah-rempah sambil bersantai di pinggir pantai menonton “Cabaret on the Sea” ala Jailolo, mencoba mengintip dasar laut Halmahera yang cantiknya luar biasa, sambil bercengkrama atau sekedar main kartu, berguling dan tertawa dengan warga sekitar adalah hal yang ingin saya lakukan di Jailolo.

Menuliskannya di blog, atau sekedar update di akun media sosial pribadi, atau akun komunitas traveling kampus yang saya kelola, atau sekedar berbagi cerita pada teman-teman di luar sana yang kurang beruntung, karena telat mengenal Jailolo. Festival kebudayaan yang rutin diadakan kampus saya tiap tahun pun bisa jadi opsi menarik mengenalkan Jailolo ke publik. Karena tiap tahun stand Provinsi Maluku siap siaga di depan kampus saya, Jl Dipatiukur, Bandung.

Jika benar harga pala, cengkeh, dan lada pada masanya lebih mahal dari emas, maka untuk 30 menit yang saya habiskan untuk menulis tulisan ini saya telah meminum minuman termahal di dunia.
Kalau saya ikut-ikutan Giles Milton dalam bukunya Nathaniel’s Nutmeg, maka saya akan bilang, “The island can be smelled before It can be seen”. Ah, Indonesia kamu itu ya….. kaya! Jailolo… I’m coming!

Tuesday, March 12, 2013

Jatiluhur, Tak Kenal Maka Tak Sayang


"Asal dari daerah mana?" tanya seorang teman asal Jakarta.
"Purwakarta, itu yang ada Waduk Jatiluhur, tahu kan? " Jawab saya sambil mencoba memastikan.
"Wah jauh juga ya dari Jatinangor? Berapa jam di perjalanan? Ada 8 jam?"
Saya pun hanya bisa tersenyum.
Bendungan Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat
Wajar saja saya tersenyum, dia tidak bisa membedakan Purwakarta dan Purwokerto. Padahal, hampir tiap minggu Ia pulang ke Jakarta dari Bandung, tetapi tidak pernah tahu ada sebuah Kabupaten di perlintasan terkenal dengan waduknya yang kini hampir terlupakan. Hal serupa pun terjadi pada ratusan bahkan ribuan warga Jakarta yang hampir tiap minggu menghabiskan lembaran duit di Bandung dengan berbelanja ke berbagai pusat pertokoan. Nyatanya, ada sebuah danau buatan yang senantiasa menyimpan  kebutuhan air baku untuk minum dan air untuk kebutuhan industri bagi sebagian besar warga Jakarta. Lantas, bagaimana dengan pasokan untuk daerah penyangga ibukota lainnya seperti Bekasi dan Karawang? Itu, jangan ditanya!
Kenyataan itu pula yang membuat saya mencoba melakukan survei bagi mahasiswa-mahasiswa asal Jakarta yang menjalani studi di Bandung. Hasilnya, 90 persen responden asal Jakarta yang pasti pernah ‘numpang lewat’ Purwakarta menuju Bandung pernah mendengar ada sebuah Waduk bernama Jatiluhur. Namun, dalam persentase yang sama juga terbukti tidak ada yang tahu dan berhasil menjawab dengan benar letak Waduk Jatiluhur tersebut. Lalu, sisa 10 persennya? Hebat.
Purwakarta, mengingatkan saya akan Radiator Spring, nama kota dalam film animasi berjudul Cars produksi Pixar yang disutradarai oleh John Lasseter. Film tersebut menceritakan hilangnya Lightning McQueen, sebuah mobil balap Nascar di sebuah kota perlintasan yang telah ditinggalkan. Purwakarta pun mengalami hal sama. Setelah Jalan bebas hambatan Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang) mulai beroperasi pada 2006, semakin sedikit pengemudi yang singgah, walau hanya sekedar merebah. Padahal, Purwakarta memiliki sebuah ikon yang tak hanya penting bagi kota itu sendiri, tapi juga bagi Indonesia, sebut saja Waduk Jatiluhur.
Ketika mulai dibangun pada 1957, bendungan ini disebut-sebut sebagai bendungan terbesar di Indonesia. Tujuan awal dibangunnya bendungan ini adalah demi kepentingan sektor irigasi bagi daerah-daerah di utara Jawa Barat. Tak main-main daerah ini pun menyuplai kebutuhan air baku bagi 80 persen penduduk Jakarta. Bayangkan saja jika pasokan air untuk Jakarta dihentikan, maka sekitar 80 persen penduduk dari total penduduk Jakarta atau sekitar 7.686.230 dari t 9.607.787 jiwa (Sensus penduduk 2010) tidak akan mendapat pasokan air minum. "Kalau pasokan air di-stop dari sini, ya Jakarta kekeringan," ungkap Kepala Urusan Pengolahan Data dan Pelaporan, Jasa Tirta 2 Jatiluhur, Rahmat Sudiano, ST.
Hal serupa dapat terjadi juga pada Karawang. Kabupaten yang merupakan lumbung padi Jawa Barat, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu lumbung padi nasional ini, jelas-jelas disokong oleh sistem irigasi Jatiluhur. Bendungan ini mengairi sekitar 242 ribu hektar sawah di wilayah utara Jawa Barat, dimana sekitar 86.588 hektar merupakan luas lahan sawah irigasi teknis Karawang. Lahan itu pulalah yang berkontribusi langsung bagi kebutuhan beras nasional sebesar 789.000 ton per tahun pada 2011, sesuai dengan data yang dilansir oleh www.karawangnews.com. Hal tersebut menjadikan Jawa Barat sebagai penghasil beras terbesar kedua di Indonesia.

Mantan Kepala Sub-bagian Anggaran di  Kantor Biro Keuangan Jasa Tirta 2 Jatiluhur, Amil Sofwan yang menyaksikan langsung proses pembuatan bendungan ini yang berlangsung pada tahun 1957 hingga 1967 pun menerangkan bahwa, sebelum dibangunnya multi-purpose dam ini, Karawang merupakan daerah langganan banjir, setiap tahun pada musim hujan. Maka, jika Karawang masih menjadi langganan banjir hingga saat ini, relatif sulit pasokan beras nasional terpenuhi. Hal itu pun berdampak pada lahirnya belasan bahkan puluhan kawasan industri di Karawang yang kini luasnya mencapai sekitar 14 ribu hektar, bahkan konon  digadang-gadang Karawang akan dijadikan kawasan Industri terbesar se-Asia Tenggara.
Tak hanya dalam konteks pemenuhan kebutuhan pangan, waduk yang memiliki nama resmi Ir. H. Juanda ini pun turut berkontribusi terhadap perkembangan dunia olahraga tanah air. Waduk jatiluhur menjadi tempat latihan sekaligus home base bagi para atlet dayung yang akan berlaga di ajang nasional dan internasional. “Sudah lama waduk ini digunakansebagai tempat latihan dayung oleh Timnas, sejak tahun 1986 hingga sekarang untuk ajang-ajang nasional dan internasional,” ujar Pelatih Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) cabang olahraga dayung Jawa Barat, Mulyana Irmawan. Pada ajang nasional PON XVIII 2012 di Riau, dan pada ajang internasional SEA Games 2011 para atlet yang akan bertanding pun memusatkan latihan di waduk ini. Hasilnya, pada ajang internasional SEA Games 2011 di Palembang, Indonesia mengantongi 3 medali emas, 1 medali perak, dan 1 medali perunggu dari cabang olahraga dayung.
Tak hanya pasokan air, bendungan ini pun merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang menghasilkan 180 MW dan dilengkapi oleh 6 turbin. Dengan kata lain, system kelistrikan Jawa-Bali salah satunya disokong oleh PLTA ini. Namun, Rahmat Sudiana mengakui bahwa pasokan litrik tersebut tidak bisa dibilang besar jika dibandingkan dengan waduk lain seperti Saguling dan Cirata, “Cirata, kapasistas terpasangnya adalah 1000 MW, dengan kata lain lebih dari lima kali Jatiluhur, karena didesain khusus untuk PLTA,” jelasnya. Ia pun menambahkan bahwa tugas utama Jatiluhur bukanlah memasok  kebutuhan listrik, melainkan memasok air di hilir.
Empat puluh lima tahun melayani masyarakat bukan berarti tanpa hambat. Waduk yang terletak sekitar 9 km dari pusat kota Purwakarta ini pun sempat memiliki beberapa masalah, salah satunya adalah adanya retakan pada bendungan. Hal tersebut terjadi sekitar tahun 1998. Namun, hal tersebut masih dianggap sebagai kerusakan minor yang dapat segera diatasi oleh tim ahli dan teknisi bendungan. Retakan semacam itu menurut Rahmat Sudiana, normal terjadi pada konstruksi bendungan, terutama bendungan tipe urugan, “Bendungan itu tidak diam, setelah bendungan selesai dibangun akan terjadi konsolidasi terutama pada timbunan,” jelas Rahmat Sudiana.  Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa, bendungan terdiri atas timbunan material-material yang dipadatkan hingga mencapai elevasi lebih dari 100 meter. Timbunan tersebut pasti akan mencari titik keseimbangan baru, sehingga terjadi penurunanpada beberapa bagian yang disebut konsolidasi.
Masalah utama yang terjadi pada bendungan sesungguhnya bukan hanya pada konstruksi, ada masalah lain yang jauh lebih nyata dan pasti terjadi pada setiap bendungan manapun di dunia, yaitu sedimentasi atau pengendapan yang menyebabkan pendangkalan pada dasar waduk. Dijelaskan pula oleh ahli konservasi tanah dan air, Institut Pertanian Bogor (IPB), Wahyu Purwakusuma, bahwa Sedimentasi merupakan akibat dari proses erosi yang terjadi di sekitar waduk. Erosi menyebabkan bagian tanah yang subur hilang sehingga mengakibatkan menurunnya kualitas lahan di lokasi terjadinya erosi.
“Bagian tanah yang tererosi dapat meningkatkan kesuburuan parairan waduk (eutrofikasi) sehingga  dapat memicu perumbuhan tanaman air di waduk yang akan memperparah pendangkalan dan menyempitnya luas permukaan waduk akibat tertutupi tanaman air,” jelasnya lebih lanjut. Perlu diingat bahwa umur bendungan bukan ditentukan oleh umur konstruksi, melainkan oleh umur layanan waduknya. Jika berkaca pada kasus serupa, menurut data yang dilansir Indonesia for Global Justice (www.igj.or.id), Waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah diprediksi hanya mampu bertahan kurang dari sepuluh tahun lagi, padahal menurut rencana pada dekade 1990-an, Kedung Ombo masih akan memasok irigasi selama 100 tahun.
Untungnya, kehadiran Waduk Saguling dan Cirata dalam satu jalur Sungai Citarum, secara tidak langsung turut mengurangi dampak Sedimentasi, karena sedimen-sedimen yang terbawa arus Sungai Citarum lebih dahulu tertahan di dua Waduk yang letaknya di hulu, dari pada Jatiluhur yang letaknya di hilir. Menurut survei batimetri yang dilakukan pada tahun 2000, dinyatakan bahwa sedimentasi pada Waduk Jatiluhur termasuk kecil, yakni tidak lebih dari 5 mm per tahun. Meskipun, umur layanan Waduk Jatiluhur diprediksi dapat bertahan hingga 150 tahun lagi terhitung sejak tahun 1987. Namun, bukan berarti masalah sedimentasi lepas begitu saja, masih ada dua anak Sungai Citarum yang hilirnya langsung masuk ke waduk, yakni Sungai Cisomang dan Cilalawi. Hal tersebut juga memungkinkan naiknya risiko sedimentasi.
Segudang maslahat, bukan berarti tanpa mudarat. Jika saja bendungan ini hancur dan pecah maka daya rusaknya kemungkinan akan lebih besar dari tsunami. Hal tersebut dijelaskan pula oleh Rahmat Sudiana, “Kalau tsunami merupakan gelombang laut yang disebabkan gempa dan berasal dari tempat yang lebih rendah, sedangkan bendungan berada di tempat yang lebih tinggi,” Namun, Rahmat meyakinkan sejauh ini Waduk Jatiluhur aman. Hal tersebut pun kembali mengingatkan saya pada tragedi Situ Gintung yang terjadi pada tahun 2009. Dapat dibayangkan, Situ Gintung yang menampung air sebanyak 2,1 juta meter kubik saja menyebabkan kerusakan fatal, bandingkan dengan volume tampungan air Waduk Jatiluhur mencapai hampir 1043 kali volume Situ Gintung atau sebanyak 2,4 milyar meter kubik. Maka bisa dibayangkan apa yang dapat terjadi.
Amil Sofwan, orang yang turut menyaksikan sejarah pembangunan Bendungan Jatiluhur pun menjelaskan bahwa, konstruksinya dibangun sangat kokoh, dasarnya dikeruk sampai dalam, agar kepadatan bendungan terjaga. Konon, pembangunan bendungan tersebut tidak menggunakan semen, tapi benar-benar mengandalkan pemadatan tanah, “Saya ingat betul kontraktornya dari Perancis, CEB, Coyne et Bellier,” jelasnya.
Tak hanya dampak yang terlihat, dampak yang tak terlihat pun ternyata besar. Commission on Dams (WCD) menemukan bahwa bendungan besar sebenarnya menyumbang sekitar 28 persen emisi gas efek rumah kaca melalui hasil proses kimiawi organik. Hal tersebut disebabkan oleh bahan organik seperti vegetasi terendam air yang menciptakan reaksi pembusukan secara anaerob yang menghasilkan gas efek rumah kaca. Tentu saja tak hanya berdampak bagi warga Jawa Barat dan sekitarnya, tapi bagi dunia.
“Masyarakat di sekitar waduk harus melakukan pengelolaan lahan dengan baik untuk mencegah erosi sehingga pendangkalan waduk akibat sedimentasi bisa dihindari,” tegas Wahyu Purwakusuma. Usaha bersama dengan masyarakat sekitar harus dilakukan. “Kami pun melakukan konservasi lahan dibantu oleh elemen masyarakat sekitar,” jelas Rahmat Sudiana.
Jatiluhur kini tak dikenal. Dipuja tapi tak dijaga. Dibebat tapi tak dirawat. Dibuat tapi tak diingat. Jatiluhur, terlupakan atau dilupakan.


Thursday, January 17, 2013

(Hampir) Mati Muda di Selat Sunda


Malam itu saat semua sadar bahwa tak ada lagi keberadaan terang, maka kami mencoba menyalakannya dengan jentik-jentik dan sedikit letupan kecil di ujung bibir. Menyanyikan apa yang tak kami rasakan, menghadirkan apa yang tak kami takuti... Kematian.

Dan disaat dek kapal itu semrawut bercatut dengan lidah-lidah nyinyir gelombang, dengan kedamaian dan gelora tak ingin mati muda kami siapkan senjata, kami pasang kendali diri. Hanya satu, rompi oranye itu!
Napas kami tersentaklah, cemas kami teriaklah. Maka, semesta pun tak berani lihat kami melaju. Diam kami di tengah-tengah... di tengah-tengah.

Malam itu disaat semua berbagi damai indahnya hari pertama Muharram melantunkan 3 putaran Surat Yasin, kami mencari terang di ujung barat Jawa. Kami coba singkap dengan lagu-lagu cantik masa kini hingga suara takbir yang memekikkan langit.

Tuhan, ketika itu kami berbagi langit, kami berbagi sengit.
Tuhan, ketika itu kami berpegangan, saling teriakan.
Tuhan, ketika itu kami tak yakin melihat pagi, hanya tangis mereka, ibu kami.
Terima kasih Tuhan, kami tak jadi mati muda, di Selat Sunda.


Untuk sahabat-sahabatku yang ketika itu berbagi langit, berbagi sengit, berkumpul berhimpit.

Tuesday, January 1, 2013

KA(TEGOR)ISASI Pejalan, Harus Ada?


Trend traveling keliling Indonesia, ya, TREN! Saya ulangi, TREN ini memang baru berkembang akhir-akhir ini. Tak jelas kapan mulanya, tapi yang jelas awal 2000-an kegiatan menjelajah alam Indonesia belum popular kecuali bagi para kelab pegiat alam, pemerhati alam, atau peneliti. Dahulu, sebelum decade 2000an orang-orang Indonesia lebih banyak yang suka ke luar negeri “katanya”.
Bagi saya mempersoalkan masalah destinasi kemana seseorang akan melakukan perjalanan, itu bukan urusan saya. Jika memang dipandang dari sudut pandang “traveling” sendiri. Karena, untuk apa mempermasalahkan destinasi, toh bagi saya yang merupakan penganut paham Paul Theroux yang percaya bahwa, “Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu, bukanlah perjalananku,”, selama mereka mampu, dan mau, mereka bisa pergi kemanapun.
Lain halnya jika dipandang dari sudut pandang nasionalis-nasionalis yang berkeras sekuat tenaga memajukan pariwisata Indonesia. Mungkin bagi mereka menjelajahi Indonesia adalah bentuk kontribusi terhadap sector ekonomi masyarakat sekitar. Hal tersebut juga jelas tidak salah.
Kemudian, bagi para ibu-ibu sosialita yang doyan jalan-jalanlayaknya empat sekawan Sex and The City. Pergi ke Dubai atau Abu Dhabi dengan pelayanan penerbangan kelas satu, bermalam di hotel termashur dengan segudang pengalaman kelas satu pun bagi saya tak ada yang salah, termasuk bagi para pejalan yang berorientasi pada budget.
Tidak, sama sekali tidak ada yang salah. Setiap orang dapat pergi kemanapun, dengan tujuan apapun. Menghilangkan penat, melakukan penelitian, konservasi, bekerja, menjadi sukarelawan, atau sekedar buang air pun bagi saya tak masalah. SAMA SEKALI BUKAN MASALAH. DAN TIDAK SALAH.
Namun, yang membikin saya heran sebenarnya adalah kenapa harus ada yang mempermasalahkan siapa pergi naik apa, atau siapa menginap dimana, bahkan siapa pergi kemana sehingga terjadi pengkotak-kotakan, terkesan ada batas antara traveler jenis ini atau traveler penganut itu.
Sex and the City 2 (doc. google)
Misal, seseorang pergi keliling Eropa kemudian berfoto di depan menara Eifel, kemudian ada pihak berkicau, “Yaiyalah, dia kan banyak duit”, “Yaiyalah dia kan jurnalis traveling wajar aja, liburannya gratis”, sekalinya ada yang bijak malah berkomentar, “Yausahlah yaa, Eifel kan mainstream banget”, “Yaeelah Eropa masih kerenan Indonesia”, “Ellaaah doi kan ribet, ga bisa backpacking tuh pake kalo gitu”.
Yang mau saya bicarakan di sini adalah, kenapa harus ada pengkategorian semacam itu?
1.       Kenapa harus ada yang merasa lebih keren dari yang lain ketika dia bisa menghabiskan uang lebih sedikit dengan pergi ke tempat-tempat tertentu?
2.       Kenapa harus ada yang merasa lebih keren dari yang lain ketika dia pergi ke tempat-tempat anti-mainstream (katanya) daripada ke tempat yang menurutnya mainstream?
3.       Kenapa harus ada yang merasa lebih keren kalau pernah pergi ke tempat-tempat lebih banyak?
4.       Kenapa juga harus ada yang mempermasalahkan siapa yang pernah lebih dulu ke tempat itu?
“Ah gue kan udah pernah ke tempat itu” (seketika setelah melihat foto seseorang yang ke sana)
5.       Kenapa juga harus ada pertanyaan “Udah pergi kemana aja lo?” dibandingkan “Gimana, seru ga cerita lo di sana?”?
6.       Kenapa harus ada yang mempermasalahkan seseorang pergi dengan metoda apa (backpacking atau flashpacking lah)?
Backpacker (doc. google)

Sempat beberapa kali saya mengobrol dengan para backpackers, dan ketika saya tanya apa bedanya backpacker dengan pejalan lain?
“Backpacking itu kan pada dasarnya traveling dengan menggunakan backpack” (INI SAYA SETUJU)
“Tapi yang paling membedakannya adalah backpacking adalah metoda traveling dengan budget seminimal mungkin, dan pengalaman sebanyak mungkin” (NAH INI SAYA TIDAK SETUJU)
Ah masa, kalo nggak backpacking pengalamannya nggak banyak? Pengalaman apa dulu?
Nah sebagian orang mungkin terjebak dengan kata “pengalaman”. Buat saya tidul di hotel mewah dengan pelayanan kelas satu pun akan menjadi pengalaman mengesankan. Ya siapapun boleh tidak setuju.
Lantas apa lagi yang kita permasalahkan? Apa sih traveling? Kenapa kita traveling? Apa tujuannya? 
Selama kita punya jawaban masing-masing atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Rasanya tak ada yang patut mempermasalahkan atau merasa lebih hebat dari yang lain. Bukankah katanya si ‘travelingg’ itu yang mengajarkan kearifan dan kerendahan hati? Baiklah, dengan segala kerendahan hati, ini hanya sebuah pendapat. Sangat dapat disangkal dan sangat dapat disetujui. :D

Arzia Tivany Wargadiredja